PHP Dev Cloud Hosting

Jakarta Bunuh Diri Jika Memberikan Otsus

  • Bagikan

 

Oleh: Marius Goo

JAKARTA bunuh diri jika memperpanjang otsus karena, Pertama Orang Papua makin membenci Jakarta (Pemerintahan Indonesia). Kedua, Orang Papua makin tidak percaya Jakarta (Pemerintahan Indonesia). Ketiga, Orang Papua akan menuntut kemerdekaan Papua sebagai tawaran demokrasi. Keempat Orang Papua tidak akan betah dengan Jakarta (Pemerintahan Indonesia). Jakarta merasa menang dengan kebijakan sepihak dengan menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan tanpa melibatkan penuh rakyat Papua dalam pemberlakukan Otsus, tapi Jakarta juga belum memperhitungkan kekalahan yang akan tertimpah dikala semua rakyat Papua sadar adanya pemaksaan dan pembodohan.

Bahkan Jakarta tidak menghiraukan penolakan dari Rakyat Papua dan meminta perundingan. Jakarta perlu ketahui bahwa pertama rakyat Papua menyerukan “Dialog Jakarta-Papua” dan tidak dihiraukan dan akhirnya perjuangan ini bagi rakyat Papua kelas rendahan. Kedua, rakyat Papua menyerukan “perundingan” dan rakyat Papua merasa ini pun kini kelas rendahan.

Kerendahan yang dimaksud adalah rakyat Papua sendiri tidak ingin berdialog dan berunding. Maka kelas lebih bagi rakyat Papua adalah “minta merdeka full”. Akhir dari semua perjuangan rakyat Papua, di mana Jakarta tidak mengindakan permintaan dari rakyat Papua, tuntutan akhir dan tak pernah berubah adalah “merdeka”. Merdeka adalah “harga hidup” bagi rakyat Papua. Maksud dari “Jakarta bunuh diri” adalah “Papua Merdeka” sekalipun Otsus diberlakukan.

Rakyat Papua membenci Jakarta

Luka rakyat Papua dari tak dapat disembuhkan kembali. Rakyat Papua telah dan akan menjadi bukan warga negara Indonesia sepanjang ada di bawah kekuasaan Indonesia. Jakarta hanya memberikan janji-janji palsu, pembohongan dan pembodohan terhadap rakyat Papua.

Jakarta menjadikan kekuasaan sebagai ajang membodohi dan menginjak-ijak rakyat kecil yang tak berdosa. Jakarta tidak melihat dan memandang rakyat Papua dari manusia. Hal ini terbukti dengan membuat kebijakan-kebijakan yang menyingkirkan, bahkan memusnahkan rakyat Papua. selain Otsus, Jakarta mengirimkan militer yang berlebihan. Di seluruh tanah Papua dipenuhi dengan militer, bahkan pasukan setan.

Untuk membunuh umat Tuhan di Papua, Jakarta mengirim pasukan setan. Pasukan setan sudah diberangkatkan dari Indonesia ke Papua dan sudah memenuhi bumi cendrawasih. Pasukan setan ini memantau seluruh pergerakan dari rakyat Papua, sembil memberikan label: Orang Tak Dikenal (OTK) Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dan Teroris. Pelabelan ini diberikan kepada rakyat Papua untuk mengejar, membunuh dan memusnahkan rakyat Papua yang tak bersalah. Di samping Jakarta (militer) sendiri tidak dapat memberikan kategori yang jelas tentang siapa yang dimaksud dengan OTK, KKB, Teroris, dan lainnya. Pelabelan ini pun sering tidak sesuai, hanya karena “curiga” dan “tidak suka”, tapi langsung dikejar dan bahkan dibunuh.

Rakyat Papua membenci Jakarta karena dalam banyak kasus Jakarta lebih mengutamakan “politik: menjaga wilayah territorial”, tanpa menghargai dan menghormati hak ulayat rakyat Papua. Kebijakan yang diambil oleh Jakarta pun mengorbankan rakyat Papua, yakni tanpa melibatkan rakyat Papua. bahkan kebijakan yang yang diambil bertolak belakang dengan kehendak rakyat Papua.

Rakyat Papua sudah tidak Percaya Jakarta

Rakyat sudah tidak percaya Jakarta dengan bahasa mereka, ”Orang Papua sudah tidak punya masa depan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”. Bagi Rakyat Papua, melalui kekuasaan negara rakyat Papua tidak sedikit yang dikorbankan.

Atas ketidakpercayaan yang dibangun rakyat Papua bertahun-tahun, dari generasi ke generasi, rakyat Papua tidak ingin bergabung dengan Indonesia. Rakyat Papua berjuang membentuk negara sendiri. Semua itu terjadi karena Indonesia sendiri gagal mengindonesiakan Papua. pendekatan Jakarta yang “militeristik” membuat rakyat Papua tidak betah dengan Indonesia, bahkan ingin lepas dari Indonesia.

Yang Masih Tersisa: Penentuan Nasib Sendiri

Yang masih tersisa untuk Jakarta memperbutkan Papua, juga mengIndonesiakan Papua adalah tidak lain “perundingan”. Jakarta segera adakan perundingan. Yakni memberikan penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua. Hanya ini yang masih tersisa untuk Jakarta. Jika tidak, maka Jakarta sudah kalah. Papua akan mengatakan Selamat Tinggal Indonesia, karena Papua sudah memisahkan diri dari Indonesia. [*]

*] Penulis adalah Dosen STK Touye Paapa, Deiyai

 

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *