Uskup Agung Merauke dan Pastor Anselmus Amo datang untuk Selamatkan atau Sesatkan Umat Tuhan

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADEI] – Sesungguhnya PT Tunas Sawa Erma, Korindo Group punya berikan kepada PT. Korea Indonesia (Korindo) Group untuk mengikuti jaringan bisnisnya. Yang Keuskupan Agung Merauke punya tetap Keuskupan Agung Merauke punya. Jadilah bapak Gembala yang baik. Gembala yang mampu menyelamatkan kawanan dombanya. Bukan menyesatkan dombanya.

Hal itu dikatakan Petrus Kinggo, pemilik tanah adat, pemilik ulayat, korban pencaplokan akibat keberadaan PT Tunas Sawa Erma, anak perusahaan dari PT. Korea Indonesia (Korido) yang menguasai lahan 50.000 an hektar di kampung Jair, Boven Digoel, Papua.

Menurut umat katolik dari Stasi St. Timotius Kinggo Kambenap, Paroki “Xaverius” Asiki, Keuskupan Agung Marauke yang dari dulu mengadvokasi hak-hak dasar umat bersama pastor Anselmus Amo menegaskan, pihaknya tahu jauh dari jalan dan misi gereja Katolik, Keuskupan Agung Merauke.

“Yang kami tahu adalah Keuskupan Agung Merauke adalah independen dan netral. Datang dan bertugas untuk menyelamatkan umatnya. Karena kami sekalian sebagai keluarga besar MSC. Maka, gembala diharapkan mampu menggembalakan domba-dombanya. Bukan sebaliknya, menghianati umatnya. Lalu lebih menggembalakan penguasa, pengusaha, perusahaan, dan lainnya,” ungkap Petrus Kinggo kepada wagadei.com melalui keterangannya, Kamis, (24/6/2021).

Pihaknya juga minta tanggapan Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus C. Mandagi, MSC. Segera atas MoU pengrusakan lingkungan akibat investasi Korindo Group di atas tanah adat dan leluhurnya. MoU itu menjadi dan berdampak buruk pada wilayah kehidupan masyarakat adat atau umat Tuhan.

“Kami minta yang mulia Petrus C. Mandagi segera mencabut atau membatalkan MoU atas nama pendidikan itu demi menegakkan hak-hak dasar, mengembalikan sumber-sumber mata pencaharian hidup, dan demi menjamin nasib dan masa depan anak cucu kami di kemudian hari,” katanya.

Ia mengatakan, PT Tunas Sawaerma dan Korindo Group boleh menguasai dunia yang ditandai dengan kekerasan dan kekacauan. Pihaknya harap para imam datang untuk menyelamatkan kawanan dombanya di Keuskupan Agung Merauke.

“Tapi dengan apa yang kami lihat, dengar, alami dan rasakan sekarang, datang bukan untuk itu. Kami rasa kamu datang untuk lebih banyak membangun jejaring dengan perusahaan, pengusaha dan penguasa. Dan tentu ini jauh dari kemauan, harapan, dan kerinduan kami sebagai masyarakat adat. Juga umat katolik di sini,” katanya.

Kinggo menegaskan, jika Keuskupan Agung Merauke punya tanah adat maka  silahkan bangun komunikasi dengan perusahaan. “Pastor dan Uskup silahkan lakukan kesepakatan sesuka hati,” ucapnya.

“Tapi kalau tidak punya tanah adat, harus tahu diri dan tahu malu. Kami tidak bisa melakukan sesuatu sesuka hati lantaran merasa diri Pastor atau Uskup. Sebelum lakukan, apalagi kalau baru ditunjuk dan tidak tahu situasi pastoral sesungguhnya, tanya dulu orang lain yang lebih tahu. Minta pendapat dari semua pihak. Jangan main hakim sendiri tanpa mempertimbangkan secara bijak. Jangan main sesuka hati atas nama agama. Hargai kami. Kami minta dengan sangat kepada Petrus Canisius Mandagi, agar segera batalkan MoU. Sebab kami tidak akan mendapatkan keuntungan dari MoU itu,” tuturnya.

Justru pihaknya sebagai kawanan domba hanya menjadi korban di atas korban. Bukan sekali saja. Tapi dari waktu ke waktu pihaknya terus menjadi korban. Dari masa ke masa tetap menjadi korban.

“Dan pasti saja dari setiap generasi ke generasi senantiasa menjadi korban. Kami percaya dan yakin, bahwa kami tidak akan menikmati hasil dari MoU itu, sekalipun atas nama pendidikan, gereja, agama, katolik dan lainnya. Kami minta MoU itu diicabut kembali,” kata dia.

Ia menegaskan, mantan Direktur SKP Keuskupan Agung Merauke, Pastor Anselmus Amo, MSC bersama yang mulia Petrus canisius Mandagi, MSC Uskup Keuskupan Agung Merauke menjadi momok antara perusahaan PT. Tunas Sawaerma dan PT. Korindo Group.

“Petrus Canisius Mandagi, kami tahu bapak belum lama bertugas sebagai bapak pengembala yang baik. Tapi bapak Petrus Canisius Mandagi lebih senang membuat MoU dengan PT. Tunas Sawaerma dan Korindo Group cepat sekali. Kami, umat minta untuk Korindo Group dan Uskup tidak merampas hak masyarakat atau umat dengan cara apapun. Kami minta keadilan bapak Pastor Anselmus Amo, MSC. Kalau mau urus perusahaan lagi, ya lebih baik keluar saja. Boleh kawin!,” tegasnya.

Menurut dia, Pastor Amo telah mengetahui atas korban kekerasan perusahaan sawit yang merusak lingkungan. Tapi pihaknya heran bagaimana Mandagi dan Anselmus Amo menjadi momok dan lebih senang membuat MoU dengan kelapa sawit Korindo yang merusaknya lingkungan. “Kami juga sedih karena itu dilakukan secara diam-diam, sepihak, sesuka hati, semaunya uskup, Amo dan perusahaan. Tanpa sedikitpun melibatkan kami sebagai tuan tanah adat setempat,” ucapnya.

Lanjut dia, agama bisa menjadi alat ekonomi dan bisnis kalau itu terjadi, maka di sini terjadi disfungsi agama. Akhirnya, ia bersama umat lain harus sedih. Karena kami dan gereja Katolik di Papua, khususnya Keuskupan Agung Marauke seakan menjadi tempat bisnis.

Soleman Itlay, umat Katolik sekaligus aktivis PMKRI St. Efrem Kota Jayapura mengatakan, Pastor Ambrosius Amo selama bertahun-tahun membelah hak-hak dasar hidup umat, sumber-sumber mata pencaharian hidup umat, menentang kerusakan lingkungan hidup dan ekosistem, serta ancaman pada nasib dan masa depan anak cucu masyarakat adat sekaligus umat Katolik di Keuskupan Agung Merauke.

“Saya mendengar rekam jejak saudara Pastor dari bapak Petrus Kinggo, seorang pemilik ulayat tanah yang saudara pastor sendiri pasti tahu. Dan sebagian orang yang saudara Pastor dulu bimbing, mendampingi, membelah dan bekerja sama dengan mereka di sana. Saya mendengar bagaimana mereka mengatakan kegelisahan, kecemasan, kekhawatiran dan harapan hidup mereka yang saudara goyahkan melalui penghianatan terselubung,” ujarnya.

“Saya sudah membaca, melihat, mendengar dan mengikuti semua pembicaraan umat katolik di kapel Jair yang sama-sama dengan bapak Kinggo dkk. Saya juga sudah ikuti keterlibatan, keberpihakan, sikap, dan pernyataan saudara pastor maupun umat katolik, termasuk pemilik hak ulayat di media sosial.

Itlay mengaku, benar-benar kaget bagaimana saudara Pastor Amo menghianati umat Katolik sendiri dan orang asli Papua di Papua Selatan, khususnya di kampung Jair, Boven Digoel.

“Saya kaget. Betapa luar biasanya umat Katolik di sana sudah terima dengan lapang dada. Dengan hati dan kasih maka saudara tanpa hitung-hitungan. Bahkan sampai menganggap saudara tak hanya sebatas imam, dan Pastor yang membawah kabar gembira (juru selamat). Tetapi juga umat dan masyarakat menjadikan kamu melampaui hubungan saudara kandung atas nama Tuhan, agama, Katolik dan kemanusiaan. Saya heran betapa teganya kamu menghianati mereka yang menerima dengan apa adanya dan dengan rasa memiliki yang tinggi,” tegasnya.

Cukup lama Amo telah mendampingi masyarakat adat dan umat Katolik di Papua Selatan melalui SKPKC KAMe itu. Tapi tiba-tiba bahkan diam-diam berselingkuh atas nama Tuhan, agama Katolik, kemanusiaan dan lainnya dengan perusahaan sawit yang dulunya sama-sama dengan umat melawan.

“Saya tidak pernah duga kalau pada suatu hari, bahkan sekarang menyebut saudara penghianat yang paling langkah. Bahkan melampaui kisah penghianatan Yudas Iskariot kepada Yesus Kristus,” ujarnya.

Ia menegaskan, jika keterlibatan Pastor Amo adalah mewakili Mgr. Petrus C. Mandagi, MSC dan Mgr. Aloysius Murwito, OFM, maka ia mengingat kembali akan sejarah masa lalu. Sejarah, bahkan dosa politik ideologi masa lalu yang berhubungan dengan para Pastor, dan pimpinan klerus di tanah Papua dan Indonesia.

“Bahwa gereja Katolik di Papua punya dosa politik masa lalu terhadap orang Papua dan tanah Papua,” ucapnya. (*)

Reporter: Abeth A. You
Editor: Uka Daida

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *