PHP Dev Cloud Hosting

Seolah Facebook jadi Tuhan terbaru hingga telanjangi diri sendiri di sosmed

  • Bagikan

DIAKUI atau tidak, jejaring sosial populer bernama Facebook kini telah menjadi kebutuhan hampir keseluruhan masyarakat dunia. Lantas, pernahkah Anda berpikir bahwa Facebook telah mengubah bahkan membuat Anda ketergantungan dengan Facebook?

 

Jika diperhatikan, pengguna Facebook di Indonesia mengalami sebuah pergeseran makna pemakaian jejaring sosial pada dasarnya. Secara sadar atau tidak, Anda dapat melihat status seorang teman yang ‘seakan berdoa’ pada Facebook.

 

Berdasarkan sebuah buku karya Nurudin berjudul ‘Tuhan Baru Masyarakat di Era Digital’, banyak pengguna Facebook saat ini memanjatkan doa atau mengeluh melalui status, seperti “Semoga semua berjalan dengan baik”, “Ya Allah, mudahkanlah jalanku ini”, “Mohon ampunanMu, aku masih berniat memperbaiki semua, bantu aku menjalani semua proses ini ya Allah”, atau “Ya Allah, kenapa dia meninggalkan aku? Apa salahku?”, “Tuhan Yesus lindungilah saya”, “Demi Tuhan saya yakin akan lancar” dan sebagainya.

 

 

 

Meski tidak semua pengguna Facebook melakukan hal ini, namun kebanyakan dari mereka pernah, atau setidaknya sekali melakukannya. Akan tetapi paradigma ini bukanlah mutlak apa yang terjadi pada setiap individu, namun apa yang menjadi tulisan di status berbau permohonan tersebut ‘seakan’ menuhankan Facebook.

 

Terlepas dari itu semua, status Facebook bukanlah semata-mata menjadi tempat untuk berdoa bagi semua orang, artinya hanya sebagian dari pengguna Facebook yang melakukan hal tersebut. Semua kembali pada diri masing-masing, bagaimana setiap individu berlaku bijak dalam menilai maksud dari sebuah status pada Facebook.

 

***

Menelanjangi diri sendiri

 

Seiring perkembangan zaman yang begitu pesat terutama di dunia informasi, kini hadir berbagai macam media sosial seperti facebook, instagram, twitter dan lain sebagainya.

 

Semua orang berhak menggunakan media sosial tersebut secara gratis. Ada yang menggunakannya untuk kebutuhan bisnis, menyebarkan informasi namun terkadang ada juga yang memanfaatkan media sosial sebagai wadah untuk curhat-curhatan.

 

Curhat masalah keluarga, masalahnya dengan pasangan, masalah dengan rekan kerja, masalah dengan teman dan lain sebagainya.

 

Namun sadarkah kamu, perilaku tersebut sama halnya kamu sedang menelanjangi dirimu sendiri dengan membuka aib mu bagi orang lain.

 

Bukannya respect, orang malah akan menertawakanmu dan bahkan lebih parahnya lagi orang lain bisa menyebarkan aib tersebut sehingga menjadi viral. Kan kamu sendiri yang malu ujung-ujungnya.

 

Dilansir dari rakyatku.com, Psikolog klinis Astrid Wen, MPsi mengatakan: Media sosial memang bisa dijadikan sebagai tempat untuk mengeluarkan unek-unek.

 

Sayangnya, banyak orang yang menyalahkan media sosial sebagai tempat untuk membeberkan masalah pribadi hingga masalah rumah tangga atau orang-orang terdekatnya.

 

Yang menjadi masalah adalah, hal ini sebenarnya sama halnya menelanjangi diri sendiri dan justru membuat kita menjadi pergunjingan orang lain. Bukannya menyelesaikan masalah malah menambah rasa malu karena permasalahan yang seharusnya tidak diketahui orang lain justru tersebar luas, Lanjut Astrid Wen.

Oleh karena itu, sangat penting untuk bijak dalam bermedia sosial. Timbang-timbanglah terlebih dahulu sebelum dipublikasikan. Apa yang kau tabur hari ini, itu pula yang akan kamu tuai dikemudian hari. [*]

 

 

*] Disadur dari berbagai sumber

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *