Bagian kedua: Rindu Belum Usai, Sugapa Masih Perang

  • Bagikan

DUA belas Maret seribu sembilan ratus sembilan puluh tiga, Mina Kobogau lahir di kampung Sugapa. Hadir di keluarga yang bapaknya seorang guru di Sugapa hingga di Nabire. Mina anak ke tiga dari dua saudara laki-laki. Dua saudaranya sudah berumur dua puluh delapan tahun dan dua puluh enam tahun. Namanya Emon [28] dan Eman [26], lahir dan besar di Sugapa. Kaka kandung Mina. Kedua kakaknya menjaga kampung Sugapa, tidak ikut ke Nabire bersama bapaknya. Mina masih kecil, ikut kedua orangtua setelah bapaknya pindah tugas di Nabire. Mina besar di Nabire tapi lahir di Sugapa.

“Tidak mau bapa, saya punya cinta ada di Paniai. Saya harus ke Paniai,” jujur Mina saat bapaknya melarang Mina berangkat ke Paniai.

Di tengah-tengah situasi yang belum kondusif di wilayah Intan Jaya, Mina bersama bapaknya akan berangkat Nabire. Mina tidak ingin pergi Nabire, dalam hatinya ia berbisik.

Baca: https://wagadei.com/2021/03/30/rindu-belum-usai-sugapa-masih-perang/

“Kenapa begini? Saya sudah rindu Metu dan kita sudah berjanji akan bertemu di Enagotadi, Paniai. Tapi tidak apa-apa saya akan hubungi dari Nabire”.

Warga Intan Jaya mengungsi di kampung yang jauh dari kota. Sunyi di kota. Hanya beberapa kantor pemerintahan dan pelayanan publik aktif, seperti pelayanan pesawat ke beberapa daerah. Seminggu sekali dalam satu minggu. Mina dan bapaknya sudah sampai di Nabire. Ikut pesawat Susi Air yang melayani hanya sekali dalam satu minggu. Anak dan bapak telah sampai di rumah. Diam-diam Mina menabung untuk beli HP, beberapa uang yang ia simpan dari kampung Sugapa, lalu membeli handphone di konter HP area Oyehe.

Mina membeli handphone dengan kartu. Mina sudah hafal nomor handphone Metu sebelum handphone disita bapaknya setelah kedapatan bertelepon dengan Metu.

“Bapa sudah bilang, jangan pernah komunikasi dengan dia [Metu], kita adalah keluarga, suku Moni dan Mee, ” tegas bapak waktu di kampung Sugapa setelah merampas handphone dari genggaman tanggan Mina.

Mina hanya diam tanpa kata. Ia mencintai Metu. Sungguh!

Handphone sudah aktif, ada di tangan Mina. Ia telepon Metu. Lima kali lebih berdering tapi Metu tidak merespon, Mina khawatir dengan pertanyaan besar dalam hati, “Jangan-jangan Metu sudah menikah dengan perempuan Paniai, ia lama di Enagotadi”. Suara hati kecil Mina, “Ah…. Tidak, jangan pikir begitu Mina, tidak mungkin, “suara-suara kecil hati mulai balas membalas. Sambil pulang ke rumah, Mina hanya sms, “Met.” Metu telepon balik langsung. Panggilan Met hanya Mina kepada Metu, ia tahu, ini pasti Mina.

“Mina sayang, kamu bagimana?, di mana sekarang?, ” Suara Metu yang sudah lama menunggu Mina. Hatinya bergetar dan bahagia.

“Saya baik Metu, tadi pagi tiba di Nabire dari Sugapa,” balas Mina, suaranya terdengar rindu yang ditahan lama.

“Ok, tunggu besok saya turun,” balas Metu. Metu sudah rindu dan harus berjumpa Mina.

“Metu, saya tunggu, saya akan cerita banyak hal,” jelas Mina.

“Oke,” setuju Metu.

Setelah Mina berpisah dengan Metu, komunikasi sudah putus, hanya beberapa kali saja, itupun Mina harus berusaha pergi ke distrik dengan bersembunyi HP dari bapaknya. Putus selama empat bulan lebih setelah Mina kedapatan telponan dengan Metu di Paniai. Bulan kelima setelah sampai di Nabire, mereka dua kembali berkomunikasi. Akan bertemu kembali, beberapa hari lagi. Bercerita soal perang di Sugapa dari mata Mina kepada Metu dan hubungan terlarang dari orang tuanya Mina.

Sebelum sampai di rumah, Mina sembunyikan Handphone yang baru ia beli, diam dari bapaknya. Selesai bicara dengan Metu, pria yang ia cinta. Wajah Mina ceriah, Metu baru bercerita jujur kalau ia masih menunggu Mina kembali dari Sugapa sesuai janji mereka melalui sambungan telepon sementara Sugapa masih perang. Mina dan Metu sama rasah, rindu telah menjadi momot yang menakutkan dalam diri mereka berdua. Takut kehilangan.

Metu pernah khawatir di kota Enagotali Paniai; Mina jadi korban perang TPN-PB/OPM versus TNI dan Polri di Sugapa, Intan Jaya. Mina juga sempat khawatir Metu sudah jadian dengan perempuan lain di Enagotali karena komunikasi telah putus selama empat bulan lebih, sudah begitu orangtua Mina melarang hubungan mereka. Namun, kekuatan cinta mereka lebih kuat dari kekhawatiran yang telah tumbuh bersama rindu-rindunya.

“Sayang, saya baru sampai di Nabire, sekarang di rumah,” bunyi chat dari Metu melalui saluran SMS kepada Metu.

“Sayang, sore kita ketemu di Pantai Nabire,” balas Mina dari kamarnya. Bersembunyi hp dari bapaknya yang lagi makan siang di ruang dapur.

“Oke sayang, nanti saya jemput, “balas Metu, tidak sabar melihat Mina yang sudah lama merinduhkan pelukan.

“Tidak usah sayang, nanti saya naik ojek saja, soalnya bapa belum berubah,” balas Mina, khawatir bapaknya melihat Metu menjemput di rumah.

“Ok sayang, nanti saya tunggu jam empat di sana,” balas Metu.

“Ok sayang,” Mina menyetujui.

Metu menunggu waktu sore tiba, ia bahagia akan bertemu Mina, sudah lama menahan rindu di tanah dingin Enagotadi Paniai. Empat bulan lebih Metu di kota Enagotali, menunggu janji mereka berdua dalam komunikasi yang singkat sebelum handphone diambil bapaknya. Metu percaya Mina, mereka akan bertemu di Enagotali, Paniai tapi karena bapaknya melarang Mina pergi ke Enagotadi; Mina ikut keiginan bapaknya sampai di Nabire.

Ya Nabire, kota yang punya sejarah cinta bagi Mina dan Metu semasa masih duduk bangku SMA [Sekolah Menengah Atas].

Tinggal beberapa jam lagi Metu bertemu Mina, masih siang, Metu membuka akun facebook setelah sekian bulan tidak online. Metu ketemu berita yang sempat mendengar isu dari Enagotadi Paniai itu dibagikan beberapa teman Facebook. Sepertinya, “Kepala Bin Papua meninggal di Beoga,” [CNN Indonesia. Minggu, 25/4/2021]. “Pemerintah Resmi Labeli KKB di Papua Sebagai Teroris,” [Tempo, 21/6/2021]. “Jokowi Minta Panglima-Polri Buruh Penembak Kepala Bin Papua, ” [CNN Indonesia. Senin, 26/4/2021]. Dan, “Tumpas KKB, 400 Pasukan Diberangkatkan Ke Papua, “[iNews.id. Minggu,23/4/2021].

Metu bersyukur, Mina sudah sampai di Nabire, telah menghubungi Metu. Asik membaca beberapa berita di ruang facebook dan media lain, waktu sudah jam setengah empat, waktu di rumah. Metu sudah rapi, ingin tampil seperti dulu di mata Mina. Duduk santai di ujung Pantai Nabire, dekat pantai Morgo, ujung barat pantai itu. Menunggu sambil makan kacang rebus, dijual mama-mama Papua. Mina sedang turun dari ojek, Metu melihatnya berbedah, badannya tambah kurus, wajah seperti dulu, masih cantik di mata Metu, hati metu terasa gementar melihat Mina, cintanya benar-benar keluar.

Mina berdiri depan Metu, saling memandang dalam sinar mata yang rindu. Saling tatap, sedikit lama, Mina berlinan air mata dan Metu berdiri lalu memeluknya. Metu terasa dalam dan rindu sabar, kisah pertemuan yang paling menyenankan dan membahagiakan. Mereka duduk tangan bergenggam tidak lepas, berkali-kali kata Metu kepada Mina.

“Saya sudah rindu sekali mita,” kata Metu. Mina masih dalam pelukan.

“Sama Metu, saya juga rindu,” balas Mina dalam pelukan duduk mesraan, rindu telah dibayar dengan sabar yang tidak habis, Mina dan Metu saling mencintai.

“Mina, waktu itu saya khawatir ketika saya dengar Sugapa perang,” ucap Metu menyampaikan perasaannya waktu di Enagotadi, Paniai.

“Kami mengungsi waktu itu, beruntung kami berlari cepat, kami punya kampung warga sepih karena menjadi pusat perang. Kami megungsi ke kampung Bilogai,” jelas Mina, wajahnya menyimpan trauma perang.

“Berapa kampung yang mengungsi, situasi sampai sekarang bagaimana, bersyukur juga kamu bisa selamat dan sekarang kita bertemu,” balas Metu merasa senang sudah bersama Mina, dalam pelukannya.

“Pokoknya Distrik Hitadipa, semua kampung mengungsi ke Paroki dan kantor Klasis GKII, sampai banyak yang ke Nabire juga. Pokonya Tentara dan Polisi banyak sekali di sana, kami takut sekali, pergi kebun saja tidak bisa sayang. Tentara masih banyak di sana, pokoknya belum aman,” jelas Mina menceritakan situasi pasca perang di Intan Jaya hingga sekarang.

“Saya juga khawatir juga setelah orang Papua dilabeli teroris lalu mereka kirim pasukan setan itu, di Enagotadi rame orang bercerita. Saya ingat kamu dan berdoa,” balas Metu, bercerita perasaanya waktu itu.

“Kami di kampung, tidak ada jaringan beberapa bulan, takut untuk keluar cari jaringan tapi isu kami dengar juga,” balas Mina.

“Semoga perang di Sugapa cepat berhenti seperti rindu kita yang sudah pergi tadi saat kita berjumpa hingga sekarang, macam senja membawahnya,” ucapan Metu dengan senyum melihat wajah pucat Mina.

“Amin sayang, hanya cinta yang mampu melakukan semua itu, seperti kami dua telah saling percaya karena cinta hingga bertemu sekarang,” balas Mina, memandang wajah hitam Metu.

Duduk lebih dari dua jam. Tidak terasa. Matahari berpulang setelah menghiasi senyum Mina dan Metu di pantai Nabire. Sore hari yang bahagia tentang mereka berdua. Temu kembali kebahagianya. Tapi, masih ada satu personal yang mesti Mina dan Metu hadapi; orangtua Mina yang sudah lama tidak setuju hubunggan cinta mereka berdua. Bapak Mina selalu mempertahankan adat nenek moyang hingga sekarang. Dua suku dari wilayah Meepago, Mee dan Moni adalah suku yang sudah berkeluarga, tidak saling menikahi.

Tapi Mina dan Metu percaya, mereka akan menikah setelah disetujui kedua orang. Tidak menjadi soal bagi orang tua Metu. Sudah lama Metu berbicara banyak dengan orang tuanya; Mina adalah pilihan hatinya dan Metu tidak ada pilihan lain selain Dia [Mina]. Pernah orangtua berkata, suku Moni dan Mee tidak bisa saling menikahi, tapi itu dulu. Sekarang orangtua Metu telah menyetujui dengan kata, “Pilihan hidupmu adalah keputusan hidupmu, selebihnya urusan Tuhan.”

“Sayang kita harus bagaimana dengan saya punya bapa,” kata Mina dari balik Metu di atas motor Mio depan lampu merah. Harap Mina mereka harus tinggal bersama, satu rumah.

“Besok saya dengan saya punya bapa datang ke rumah nanti, bicara dengan bapa,” balas Metu sambil melirik lampu lintas. Metu pulang akan membawah bapaknya. Metu berpikir, sudah lama ia menunggu, bertahan dalam rindu, khawatir.

Lampu pengatur lalu lintas sudah hijau, Metu dan Mina lanjut, singgah di warung Bakso Prego di wilayah Karang Mulia. Sambil makan, mereka berdua cerita untuk persiapan. Ketika Metu dan bapaknya bertemu. Nabire sudah gelap, jam delapan malam, Mina dan Metu bergegas pulang. Sedikit hujan rintik. Metu menghantar Mina ke rumahnya. Tidak sampai depan rumah, Mina turun jauh dari rumah, kurang lebih sepuluh meter. Saling salam dengan berseri wajah, seakan tidak ingin berpisah sekalipun satu menit. Malam berlalu dengan perasaan Metu yang menunggu pagi begitu lama.

Malam Metu duduk sambil minum kopi di teras rumah merenung sebuah perjalanan cintanya. Ada syukur dalam dada, Mina tidak korban perang hingga telah sampai di Nabire, mereka telah bertemu dalam puncak kebahagiaan paling berharga. Pagi datang, Metu bangun jam enam pagi. Ia membangunkan bapaknya dan pergi ke rumah Mina. Jam enam lewat lima puluh, mereka dua sudah sampai di rumah Mina. Bapaknya sedang duduk di ruang tamu menikmati teh dan pisang rebus di piring bulat karet.

“Pagi pak Guru,” suara bapaknya Metu menyapa bapaknya Mina. Sedang duduk bersarapan.

“Pagi-pagi,” balas bapak Mina sambil mempersilakan masuk dan duduk.

“Mina mari, bawah teh dan pisang. Perintah bapaknya Mina membawah teh dan pisang, matanya terpancar kepada Metu yang sedang duduk sampin kiri bapaknya. Dia senyum kecil kepada Metu. Metu membalasnya senyum.

“Ayo makan,” ajak bapaknya Mina mempersilakan sarapan pagi.

“Makasih pak guru,” balas bapak Metu sambil menyeduh teh dan makan pisang.

“Bagaimana, pagi-pagi datang ini, ada informasi apa ini?,” tanya bapak Mina dengan ringan, dan santai.

“Tentang masa depan anak kita berdua ini pak guru, kita harus pastikan cinta mereka dua,” jelas bapak Metu.

“Saya paham tapi mungkin bapak tahu adat to, kita Mee dengan Moni,” balas bapak Mina mempertahankan sikap adat.

“Saya paham pak Guru, tapi soalnya anak kita berdua ini sudah saling cinta,” balas bapak Metu.

“Mina kamu datang ke sini, mari, “panggil bapaknya Mina. Mina datang lalu berdiri malu sebelah kanan bapaknya.

“Kau mencintai Dia?,” tanya bapaknya menunjuk Metu.

“Tuhan tahu, saya sangat mencintai dia bapak,” balas setelah sedikit jedah melihat wajah Metu, bergetar hatinya. Seketika matanya mengeluarkan air mata. Mina menjelaskan kesetiaan Metu saat Mina dan keluarganya di Sugapa dalam perang hingga hari ini. Bapak Mina berdiri lalu mengulurkan tangannya kepada Metu, memberi salam.

“Kau laki-laki hebat, tidak pantang mundur, saya percaya kau akan jaga anak saya, sekarang juga kau bawah,” jelas bapaknya Mina sambil menggenggam tangan Metu, memberikan apresiasi kepada Metu. Metu memeluk bapaknya Mina, senang dan haru, Metu memandang Mina ceriah di wajahnya, berpikir kita sekarang tinggal bersama seperti suami dan istri.

“Makasih bapak, saya sayang bapak,” suara kecil Mina dalam pelukan bapaknya.

“Nanti maskawinnya bapak tolong kasih kita waktu,” jelas bapaknya Metu kepada pak Guru.

“Itu nanti baru kita bicara bapak,” balas bapaknya Mina.

“Saya siap dulu, pergi ke Sekolah mengajar,” pamit bapaknya Mita. Mereka saling salam dan pisah. Metu akan jemput Mina setelah antar bapaknya ke rumah.

Hari kebahagiaan setelah perang di kampung Sugapa. Dari sekian kesabaran, akhirnya Metu dan Mina bertemu kembali dan mereka menikah; menjadi satu keluarga yang bahagia.

Tiga bulan kemudian setelah taruh maskawin, Mina hamil dan mereka berangkat Enagotadi Paniai. Mita akan melahirnya dari Paniai dan bayinya akan memberi nama “SUGAPA”. Nama itu sebagai peringatan rindu yang menyiksa sementara Sugapa masih perang. [*]

*] Tulisan ini adalah cerita fiksi, ditulis oleh Nomensen Douw, wartawan wagadei.com, tinggal di tepian teluk Saireri

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *