Sepih pembeli, Mama Noken Papua tetap bersabar

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADEI] – Pengrajin noken Papua, yakni mama-mama asli Papua dalam memasarkan hasil kerajinan tangannya sepajang di pinggir jalan dan pusat keramaian, seperti di samping kantor pusat Bank Papua dan Taman Imbi, Jayapura, Papua tetap bersabar.

Yuliana Iyai, salah satu Mama Papua, pengrajin dan penjualan noken yang berdomisi di Jayapura, mengatakan pihaknya tetap bersabar sekalipun tidak ada pembeli.

“Kami tetap bersabar dalam jualan ini. Karena ini hasil karya kami adalah buat harsil dari kulit kayu, kami ambil dari hutan Papua,” ujarnya kepada wagadei.com, Jumat, [11/6/2021].

Menurut dia, pihaknya menyulam ni noken bukan dari pabrik namun alami.

“Noken yang kami buat adalah asli dan alamia,” katanya.

Noken adalah tas tradisional khas Papua berbahan serat kulit kayu atau bahan alami lainnya. Noken Papua diakui sebagai warisan dunia UNESCO pada 4 Desember 2012 oleh Titus Pekei. Biasanya fungsi noken tergantung ukuran.

Lanjut Iyai, biasanya orang Papua tidak pernah singgah untuk beli, atau tanya harga, apa lagi pejabat Papua sangat tidak pernah singgah.

Di tempat yang sama, Mama penjualan noken Papua lainnya, Stefina Kegiye menjelaskan bahwa pihaknya keluar dari rumah pukul 15.00 WP hingga pulang tengah malam.

“Biasanya datang dari rumah jam 3 sore (pukul 15.00) lalu pulang jam 8.30 WP (setengah sembilan malam). Jadi itu setiap hari, kecuali hari Minggu,” kata Kegiye.

Hasil jualannya lanjut dia, guna menunjang kebutuhan hidup sehari-hari terutama pembiayaan bagi anak-anak sekolah.

“Hasilnya demi membiayai anak kami seperti yang duduk kursi SD SMP dan SMA,” ujarnya.

Ia bahkan enggan menyebutkan pendapatan per hari pasalnya pembeli sangat minim bahkan tak ada.

“Pendapatan saya tidak bisa jelaskan karena belum tentu perminggu yang dapat, namun kira kira saja dalam satu minggu jika noken laku biasanya dapat 200 ribu, itupun laku,” katanya.

Ia menegaskan, pihaknya berjualan di depan toko milik orang non Papua bahkan pinggiran jalan pasalnya tidak punya tempat untuk jualan noken yang layak.

“Sebagai karya kami, walaupun kami adalah pemilik tanah tetap jualan di pinggiran jalan, di emperan toko ini,” pungkasnya. [*]

Reporter: Yulianus Magai

Editor: Norbertus Douw

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *