Tidak lanjut Otsus, tidak rugi bagi Papua!

Oleh: Demi Nawipa

MEREKA yang dapat nilai akademik tinggi dan gelar tinggi dalam negara ini terlalu jago untuk mencari kerja (jabatan) di istana. Dan ujung-ujungnya tentu selalu mengatasnamakan semua papua dianggap SDM sudah sukses dengan dana otsus hanya karena mereka merasa sukses. Dan memang itu, saya menganggap kehebatan mereka yang terlalu murah menjualnya negeri orang asli Papua kepada istana-presiden.

Tetapi, kami yang tak pernah sekali pun dapat biaya khusus dari dana otsus negara indonesia itu dianggap ketinggalan zaman dan dicap sebagai suka buat onar dan selalu labeli dengan ungkapan-ungkapan rasis, tidak tahu mandi, kotor dan tidak tahu belajar “menghafal” dalam sistem pendidikan lahan borjuasi itu.

Kita tahu, kelompok tertentu generasi muda Papua (dikatakanlah kelompok milenial Papua Indonesia) itu, di mata Jakarta menggolongkan orang-orang  pintar, hebat, beragama, bermoral, selesai pendidikan sampai luar negeri, nilai akademiknya tinggi bahkan sampai gelar berlapis-lapis. Pada hal dilihat dari dimensi yang lain kelompok itu selalu membawa nama papua secara keseluruhan demi mencari kepentingan perut mereka di istana yang didukung oleh sistem kapitalis.

Saya katakan itulah “Kelakuan Jahat”. Bukan hanya itu, selama ini BIN juga sering menggunakan uang untuk memata-matai kami mahasiswa Papua yang dianggap kotor, bodok dan selalu aksi-aksi terus itu. Sepertinya, kelompok itu juga selalu mencari jalan potong dalam pendidikan dan selalu mencari sesuatu yang instan saja dalam kebutuhan hidup mereka bersama negara Jakarta – Jawa.

Tetapi,  kami yang dianggap tidak baik nilai akademiknya dan tidak sukses dalam pendidikan formal negara indonesia itu “memantau dan melihat kelakuan dan gerak-gerik kalian itu. Kalian kan selalu menipu Papua. Kalian (Jakarta) melihat Papua sukses hanya karena 1 atau 2 orang sukses. Kalian kira pulau Papua itu bagai sebuah kampung seperti Boyolali kah ? coba otak untuk memahami tentang Papua diasah baik dulu. Saya selalu melihat dalam negara ini distir oleh para penipu-penipu yang berotak bobrok.

Mayoritas orang asli Papua (kita) tolak otsus tawaran Jakarta itu. Otsus tidak boleh dilanjutkan di Papua. Jadi, itu sebagai pernyataan suara hati saya juga yang paling dalam. Dan sekali lagi secara pribadi menyampaikan bahwa “implementasi otsus gagal total bagi mayoritas orang asli Papua, sementara persoalan ekosida dan genosida semakin meninggi selama ini di Papua”.

Ingat, jikalau otsus dilanjutkan tidak ada harapan hidup orang asli Papua di masa depannya dalam Indonesia. Jadi, kita semua harus jujur bahwa otsus yang dikasih sejak tahun 2001 itu adalah bargaining politik Papua Merdeka, maka selanjutnya juga harus bicara politik negara West Papua juga.

Kita tahu, Papua masalah terlalu banyak yang dimunculkan oleh Indonesia setelah otsus diberikan. Katanya, disiapkan SDM Papua,  mana ? terkait kegagalan implementasi dalam bidang pendidikan “gagal” contohnya, selama ini,  saya sekolah dan kuliah atas bantuan bukan pemerintah negara Indonesia yang ada di Papua tetapi orang-orang baik yang pernah tinggalkan negeri saya sejak tahun 1960-an.

Oleh karenanya, bila sekelompok orang asli Papua yang bicara otsus itu sudah sukses berarti itu kelompok-kelompok yang anggota BIN, dan merah putih serta kelompok oportunis. Seperti begitu, selayaknya otak mereka harus didesain ulang atau minum obat untuk mennormalkan otak agar mereka bicara yang jujur dan sesuai realita.

Menurut kami orang asli Papua, kelompok orang pintar adalah anak-anak yang tidak tahu mandi dan badaki. Bukan mereka yang dirinya anggap orang pintar dan hebat.

*] Penulis adalah pekerjaan aktivis lingkungan di Papua juga mahasiswa program Magister Geologi Di UPN “Veteran” Yogyakarta.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares