Tak mau rakyat sipil jadi korban, TPN-PB telah siapkan arena perang

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADEI] – Panglima TPN-PB/OPM Jenderal Goliath Tabuni dan Komandan Operasi Nasional Mayjend Lekagak Telenggen telah mengumumkan lokasi untuk perang di area Muara antara pihaknya dengan TNI – Polri yang diberikan nama pasukan Setan ke Kabupaten Puncak, Papua.

Menurut Panglima TPN-PB/OPM Jenderal Goliath Tabuni, pihaknya menetapkan lokasi perang tersebut guna menghindari korbannya warga sipil yang berada di perkampungan maupun di Ilaga sebagai ibukota Kabupaten Puncak. Sejauh ini pasukan Setan belum memasuki arena ‘pertandingan’ tersebut.

“Kami sudah siapkan lokasi perang di Muara, bukan di tengah-tengah kota maupun di tempat lain. Karena itu Pemerintah Kolonial Indonesia segera mengarahkan pasukan Setan Kolonial Indonesia itu ke lakasi perang yang TPN-PB/OPM sudah tentukan. Dan jangan mengganggu aktivitas rakyat sipil Papua di Ilaga,” ungkap Jenderal Goliath Tabuni kepada wagadei.com melalui keterangan pers yang dikirim oleh Jubir TPN-PB Sebby Sambom belum lama ini.

Menurut dia, situasi terakhir sejak  tanggal 24 Mei 2021 di Ilaga rakyat sipil tidak aman, kehidupan berhari-hari di bawah tekanan militer kolonial Indonesia.

“Oleh Karena itu, kami pertanyakan apakah militer Kolonial Indonesia bersama pasukan Setan datang ke Papua, khususnya di Puncak ini tujuan sesungguhnya untuk membunuh rakyat sipil ataukah berhadapan dengan kami sebagai militer pertanahan West Papua?,” tegasnya bertanya.

Jubir TPN-PB/OPM, Sebby Sambom mengatakan, perang yang dilakukan oleh TPNPB-OPM merupakan perang revolusi tahapan yang sedang lawan militer Setan Kolonial Indonesia, Namun pihaknya amati bahwa semua kesatuan militer Kolonial Indonesia dengan pasukan Setan pun sampai detik ini masih melalukan operasi militer di perkampungan penduduk lokal.

“Kalau hanya mau jago-jago dan mau kejar-kejaran terhadap warga sipil mending tidak boleh datang. Kita sesama militer West Papua dan militer Indonesia, mari berhadapan langsung dengan sesama militer,” kata Sebby.

Ia menambahkan, semua pihak dalam peperangan ideologi wajib mengutamakan kenyamanan dan keselamatan warga sipil, entah rakyat asli Papua maupun non asli Papua. [*]

Reporter: Enaakidabii Carvalho

Editor: Uka Daida

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *