Gerakan Pembaruan “Rahim Papua”

  • Bagikan

Oleh: Marius Goo

PEMIMPIN Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus, melalui Ensiklik “Laudato si” menyerukan kepada segala bangsa dan segenap umat manusia agar menjaga bumi atau alam semesta sebagai “rumah kita bersama”. Seruan Paus ini merupakan respon atas keadaan bumi kita yang menjerit kesakitan lantaran berbagai kerusakan yang ditimpahkan anak-anak manusia. ‘Rahim Papua’ adalah salah satu bagian dari ‘ibu semesta’ yang menjerit kesakitan karena kehancuran dan ancaman serupa untuk masa yang akan datang (lht, Laporan Hak Asasi Manusia SKP Se-Papua 2015-2017, hlm 59).

Papua

Papua senantiasa diidentikan dengan seorang mama (gadis). Alasannya beraneka:

Pertama: Kekayaan alam yang melimpah. Kelimpahan kekayaan alam menyadiakan makanan bagi semua manusia, seperti seorang mama menyediakan makanan untuk sanak keluarganya.

Kedua, kesuburan tanah. Sebagaimana seorang mama yang subur kandungannya mengandung dan melahirkan seorang anak, kesuburan tanah Papua menumbuhkan segala jenis tanaman dan tumbuhan.

Ketiga, keramahan alam Papua. sebagaimana seorang mama ramah terhadap keluarganya menghadapi aneka tantangan dalam keluarga, alam Papua pun walaupun merusak dan menghancurkannya, alam tetap ramah menerima sekaligus melindungi manusia.

Kekayaan alam Papua yang masih utuh (perawan) dengan kesubuuran dan keramahannya telah menjaga, memelihara, menumbuhkan dan membesarkan manusia juga segala tumbuhan dan tanaman. Ketersediaan dirinya ada untuk menjadi sarana terbaik dalam keberlangsungan hidup manusia. Bahkan, manusia dapat bertahan hidup karena adanya alam dan manusia sendiri adalam bagian dari alam (mikrokosmos).

Perusakan terhadap alam (tanah) Papua sama dengan merusak Rahim mama. Konsekuensi logis dari kerusakan Rahim mama adalah:

Pertama, Kemandulan. Jika Rahim seorang mama rusak (sakit: misalnya, kanker rahim), otomatis sebagai seorang manusia akan disarankan untuk mengangkat kandungan demi keselamatan seorang ibu. Jika Rahim diangkat maka, yang jelas seorang ibu tidak akan menurunkan anak, atau tidak dapat menjadi co-kreator dari Allah.

Kedua, Tiadanya harapan hidup. Jika Rahim rusak sama artinya dengan tiadanya harapan hidup, atau masa depan, artinya harapan untuk menurunkan generasi menjadi sempit. Tidak lain adalah saatnya menuai kepunahan.

Ketiga, Awal terbukanya pintu penderitaan dan kematian. Karena itu, kerusakan terhadap “Rahim seorang mama” sama dengan membuka satu pintu, atau jalan menuju kebinasaan.

Pusat kehidupan manusia ada di dalam Rahim. Kesuburan Rahim sebagai tanda kesuburan kehidupan. Kesuburan kehidupan merupakan satu berkat terindah dan terhormat dari Pencipta.

Tindakan Pembaruan

Untuk menjaga dan menyelamatkan Papua (Rahim Mama) apa tindakan konkrits yang harus dilaksanakan?

Pertama, bangun sebuah Gerekan Kesadaran Ekologis. Kesasaran kritis atas keberadaan ekologis sangat penting. Karena itu, kepada mereka yang belum sadar, harus disadarkan. Misalnya dengan, percakapan-percakapan harian (dialog-dialog) di mana saja, memberikan seminar-seminari, diskusi, menuliskan semua yang berkaitan dengan tanah (lingkungan) dan bila perlu melakukan demonstarsi penyelamatan Rahim Mama.

Kedua, bangun sebuah Gerakan Pertobatan Ekologis. Yang dimaksud dengan pertobatan ekologis adalah tidak melakukan kejahatan, perusakan terhadap alam. Menjadi penjaga dan pelindung alam dari kerusakan dan penghancuran. Mulai dari dusun atau kampung sendiri, keluar lagi ke distrik, selanjutnya kabupaten dan negeri sendiri.

Ketiga, bangun sebuah Gerakan Pembaruan Ekolaogis. Membangun Gereja pembaruan ekologis akan terjadi semua orang sadar dan bertobat atas lingkungan hidup. Yakni merasa bahwa tanah (alam) adalah yang terpenting dan kebutuhan paling primer dari hidup. Bahwa tanpa lingkungan hidup tiada kehidupan. Kehidupan ada karena ada tanah.

Untuk membangun gerakan ini, dibutuhkan konsentrasi yang tinggi dari penggerak. Adanya kerja sama dan saling percaya. Saling mendukung dan saling berjalan bersama. Menyelamatkan (menjaga) tanah adalah menjaga atau menyelamatkan manusia.

*] Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapa” Deiyai, Papua

 

 

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *