Nabire tak hargai sampah buang pada tempatnya

  • Bagikan

Oleh: Yulianus Magai

Di depan mata masyarakat dan pemerintah kabupaten Nabire sudah terlihat bahwa, semakin meninggi pembuangan sampah di berbagai tempat di Nabire, sampah yang di buang oleh warga penduduk kabupaten Nabire, di berbagai tempat di nabire. Warga tak hargai buang sampah pada tempatnya. Melihat banyaknya sampah yang di buang sembarang oleh warga, saya menjadi termotivasi untuk saya menulis, mengkritik, dan memberi saran ke pemerintah daerah Nabire, agar Pemda pikir kembali dan merebut kembali Pasar Karang Tumaritis, dan kota Nabire dari sampah yang setinggi seperti bukit Atopa itu.

Tak dihargai

Pasar bukan tempat buang sampah, sungai bukan tempat buang sampah, jalan raya bukan tempat buang sampah, namun di Nabire depan pasar dijadikan tempat buang sampah. Sampah yang di buang oleh warga di berbagai tempat, bagi saya warga membuang sampah di tempat yang tak layak untuk buang sampah tersebut itu, karena saya melihat mereka buang di tempat yang bisa mendatangkan penyakit oleh sampah itu sendiri. Berikut adalah tempat yamg di buang sampah oleh warga diantaranya:

1. Sepanjang jalan
Jalan raya bukan tempat buang sampah. Namun bagi Nabire tidak, jalan yang sebentar lagi mereka mau jalan mala di buang sampah hingga kini di depan pasar Karang Tumaritis Nabire sebatas lutut pria dewasa. Bagi saya di Nabire namanya buang sampah pada tempatnya itu tak bisa diharga dan tidak merasa itu benar, oleh warga sendiri juga pemerintah daerah. Dengan alasan di nabire setiap jalan masuk kompreks tertumpuk sampah salah satunya adalah depan Pasar Karang Tumaritis Nabire. Jika Pemda peduli dengan warga dan kabupaten segera pilih tempat buang sampah agar tak ada lagi buang sampah di depan jalan dekat pasar Karang Tumaritis Nabire.

2. Buang sampah ke sungai.
Di berbagai sungai di nabire saya melihat masyarakat buang sampah ke sungai, hingga sungai yang mengalir dari gunung hingga ke laut itu menjadi berbau dengan barang buatan pabrik, sampah yang buang ke sungai itu bagi saya tidak bermanusiawi dengan alasan, saya tahu bahwa sungai yang tadinya bau sampah mereka akan gunakan lagi itu sungai untuk mencuci piring pakaian dan mandi, akibatnya bisa dapat penyakit dengan itu, sadarkah Pemda lihat rakyatmu.

Jika sampah terus membuang ke sungai apa akibatnya? Sudah jelas bahwa dampak negatifnya akan terjadi seperti banjir dan lainya. Akibat banjir, rumah milik warga di pinggiran sungai jadi sasaran utama dengan banjir itu, maka itu saran saya Pemda harus siapkan tempat atau buat Perda larangan buang sampah ke sungai. Karena sungai itu salah satu sumbar hidup yang Tuhan berikan bukan untuk dikotori dan lainnya.

3. Sampah di Pasar Karang Tumaritis
Pasar Karang Tumaritis adalah pasar tua yang ada di kabupaten induk yaitu kabupaten Nabire di wilaya Meepago. Pasar berperan sebagai tempat jual hasil alam Papua yang dikelolah oleh mama mama Papua kemudian ditaman dan dirawat seluruh tumbuhan yang ada di perkebuna rakyak lalu hasilnya di pasarkan ke pasar umum seperti pasar Karang Tumaritis Nabire yang saat ini penuh dengan sampah yang minta ampung itu.

Pasar adalah tempat jualan bukan tempat sampah.

Warga membuah sampah di Pasar Karang Tumaritis bukan salah warga tapi salah Pemda, mengapa? Karena Pemda sendiri tidak batasi untuk melarang membuang sampah. Akhirnya masyarakat juga buang sampah sembarang dan tidak hargai kata “BUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA”.

Ingat dan harus tahu bahwa Pasar itu bukan tempat buang sampah tapi tempat jual makanan dari hasil alam. Jika mau tempatkan tempat untuk buang sampah jangan di depan Pasar (bukan tempat yang layak), ke jalan, ke sungai, tapi buanglah sampah pada tempatnya.

Pasar adalah tempat jualan hasil alam penduduk Nabire, namun sangat disayangkan warga jualan di depan tumpukan sampah, maka itu saya penulis menamai mama-mama sedang jualan di pinggiran tempat sampah di Nabire. Karena benar, saat ini depan Pasar Karang Tumaritis Nabire menjadi tempat buang sampah. Sayang ee.. mama-mama asli Papua yang jualan di tempat pasar sampah yang tertupuk sampah sebatas lutut pria dewasa.

Di nabire hal ini perlu kita tanyakan kepada Pemda Nabire terlebih khusus kepada dinas yang bersangkutan, yaktu Dinas Lingkungan hidup. Apakah Nabire tidak ada tempat untuk buang sampah? atau memamg sengaja Pemda menyuruh buang sampah di depan pasar? atau begitu kah cara mensejahterakan maryarakat dengan pernyataan-pernyataan di atas, yang di tunjukan kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup. Nabire menjadi kota seribu sampah, tidak lagi Nabire kota seribu kenangan.

Kesimpulan

Jika Pemda sekarang tidak merawat kota dengan baik siapa yang akan rawat, sadarlah kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan bapak-bapak pemimpin Nabire, siapa lagi. Orang luar tidak akan datang membersihkan dan merawat kota Nabire.

Saran saya;
1. Pemda dan Dinas bersangkutan yaitu Dinas Lingkungan hidup, segera siapkan tempat buang sampah di nabire. Kalau begitu terus, kapan kita mau maju dan merdeka dari sampah.
2. Dinas Lingkungan Hidup harus siapkan alat angkat sampah dan tenaga yang cukup banyak agar Nabire tetap bersih dan orang luar bisa akui bahwa Nabire juga salah satu kota bersih.

Jika lingkungan aman dan bersih, hal lain kita bisa atasi di lingkungan yang bersih.

Semoga!

Penulis adalah Yulianus Magai siswa SMK N3 Jayapura dan wartawan Wagadei

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *