Dibekap aparat gusur asrama Rusunawa Uncen, LBH Papua ancam lapor ke Komnas HAM

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADEI] – Aparat keamanan gabungan TNI, Polri, POM, Brimob, Intelijen bersama pimpinan kampus Universitas Cenderawasih (Uncen), Jumat (21/5/2021), melakukan penggusuran paksa enam unit asrama Rusunawa yang dihuni mahasiswa. Asrama yang beralamat di Kamwolker, Waena, ini digusur paksa lantaran para mahasiswa yang tinggal di asrama itu tidak mau meninggalkan asrama.

Sebelumya dari keterangan didapat wagadei.com, pihak pimpinan Kampus Uncen( Rektor) mengeluarkan surat untuk segera meningalkan atau mengosongkan asrama karena Rusunawa dan Enam Unit asrama itu, rencana mau direnovasi oleh PB PON XXI Papua untuk digunakan sebagai tempat atlit PON.

Surat dikeluarkan pihak kampus sebanyak tiga kali. “Pihak pimpinan kampus tidak pernah datang duduk menyelesaikan persoalan ini sebagai anak dan bapa untuk membicarakan bagimana solusi yang diambil untuk nasib mahasiswa yang aktif, bila dikeluarkan dari asrama. Tapi sekarang, malah semua disuruh keluar secara paksa dengan dibekap aparat, kami sangat kesal,” ucap ketua asrama Rusunawa David Wilil, ketika ditemui wagadei.com, Jumat (21/5/2021).

Ia mengaku mereka tidak mau keluar hanya karena di Jayapura tidak ada tempat tinggal. Ia juga mempertanyakan nasib mahasiswa aktif Uncen yang sedang tengah mengikuti ujian setengah semester.

“Kenapa kami bertahan walaupun surat dikeluarkan berulang kali. Itu hanya karena di Jayapura sini kami tidak ada tempat tinggal. Kami dari daerah (Kampung) datang kuliah langsung tinggal di asrama ini. Untuk tinggal di kos kami rasa berat, karena rata-rata orang tua kami petani semua. Kami tidak mampu bayar,” jelasnya.

Dari pantauan saat digusur, aparat gabungan turun dengan kekuatan lengkap seperti hendak pergi perang. Aparat memaksakan mahasiswa mau tidak mau harus meninggalkan asrama. Mahasiswa sedikitpun tidak diberi ruang untuk menyampaikan pendapat.

Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua, Emanuel Gobai, sebagai kuasa hukum yang mendampingi mahasiswa penghuni asrama, mempertanyakan nasib tempat tinggal mahasiswa di asrama Abe, Merpati, Kangguru dan lain-lain yang sebelumnya pada tangal 11 dan 12 Mei dikeluar paksa oleh pihak kampus.

“Sampai hari ini mahasiswa yang dikeluarkan dari asrama-asrama itu ada dimana. Kami tidak tahu keberadaan mereka. Ini kan sebelumnya Rektor sudah janji akan carikan tempat tinggal, tapi kenapa pihak kampus tidak lakukan” jelas Emanuel kepada wagadei.com.

Ia menyebutkan, jumlah keseluruhan mahasiswa aktif yang telah disuruh paksa keluar pihak kampus dari semua asrama yang ada sebanyak 800 lebih.

“Itu mahasiswa aktif yang kami dampingi, bukan tidak aktif. Kalau Rektor pakai cara begini ya kami laporkan ke Komnas HAM. Ini bagian dari penggusuran paksa yang dilakukan oleh Rektor yang dibekap oleh TNI dan Polri sesuai pasal 11, Undang-Undang Nomor 11 tahun 2005 tentang Kratifikasi Kompesasional Internasional Ekosop. Nah, kalau dilaporkan berarti Rektor dan aparat keamanan telah melakukan pelagaram HAM penggusuran paksa,” tegas Gobai

Menanggapi itu, Kapolres Kota Jayapura, Gustav Urubinas, mengatakan pihaknya hanya membekap pihak Uncen untuk menertipkan asrama.

“Jadi semua penghuni asrama harus segera tingalkan asrama hari ini juga,” ujarnya di kesempatan sama.

Reporter: Yas Wenda

Editor: Glow

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *