PHP Dev Cloud Hosting

Ketidakadilan di Negara ini

  • Bagikan

oleh: Yulianus Magai

Pada umumnya ketidakadilan adalah hal yang tidak wajar di lakukan oleh siapun dengan cara apapun di setiap aspek kehidupan manusia, oleh manusia itu sendiri. tidak boleh ada ketidak adilan dalam bentuk apapun dan dengan cara apapun di atas tanah ini, juga seluruh dunia. jika ada tindak adilan yang tidak bermanusiawi, seperti rasisme kriminasi dan pelanggaran ham, sudah jelas bawah ketidak amanan, akan terjadi seperti saat ini Intajaya, Ndugama, juga seluruh Papua rasakan hal ini, karena pelanggaran Ham terus terjadi,

Indonesia adalah Negara yang memiliki banyak suku, banyak bangsa, banyak bahasa, banyak budaya, papua juga termasuk dalam itu. melihat dari banyaknya pulau di Indonesia, Indonesia adalah Negara kekatuan, yaitu kesatuan republic Indonesia “NKRI” namun sayang atas nama kesatuan, rasisme dan kriminasi yang di perihara, tidak memegan teguh kesatauan.

Indonesia dengan lambang negara Garuda. Garuda memegang sebuah tulisan yaitu “Bineka tunggal Ika” yang dalam arti “berbeda beda tetapi tetap satu” apakah benar ketidak adilan, rasisme dan kriminasi tidak terjadi di negeri ini, tentu saja hal hal ini di perihara oleh Negara sendiri, atas nama kesatuan, bhineka tungggal ika hal ini tak di hargai lagi, dunia tak dihargai bangsa satu sama lainnya, hitam tidak ada artinya dalam dunia ini, panggung Pertiwi, pada hal faktanya di mata Tuhan kita itu sama, hanya beda kulit dan rambut. Semestinya kesatuan itu harus ada, jika kesatuan itu hilang sebuah Negara tidak akan baik baik saja.

Aku adalah ciptaan Tuhan. Tuhan ciptakan aku dengan tangannya sendiri sesuai citranya, maka aku adalah karya Tuhan Maha pencipta, Alam papua dan manusia papua. Di atas tanah yang kaya negeri papua. Aku hitam kulit dan keriting rambut, aku adalah penhuni Papua, orang orang menyebutku aku adalah penerus bangsa, yang selalu hidup ditas tanah papua. hitam kulitku, Hitam bukan berarti gelap, kataku dengan penuh tanggisan rasisme jangan pernah ada di dunia ini, lebih khususnya di Indonesia, Namun rasisme dan kriminasi masih subur terperihara oleh Negara Indonesia sendiri, tapi sayang itu tidak ada ujungnya jika hidup dengan Negara ini.

Aku adalah seorang yang memiliki kekayaan alam yang cukup luas, aku akan kaya dengan alam, yaitu tanah Papua. hutan bersejarah papua, tanah yang kaya, mempersona, serta kekayaan yang cukup melimpah, itu. sehingga banyak orang menyebutnya dengan sebutan negeri burung surga, hingga kini “surga kecil yang jatuhke bumi” maka aku selalu bangga dengan alam ku papua. Sekalipun demikian itulah realita menunjukan fakta yang menjadi mala petaka bagi orang asli papua di atas tanah papua, sebab banyak pihak menginginkan sumber daya alam “SDA” tidak peduli dengan kehidupan manusia papua yang sangat di sayangkan itu, seperti di ndugama, intan jaya juga seluruh papua. Papua benar dikuasai oleh para penguasa kapitalis, yakni Indonesia, semua ini terjadi apakah karena ada kata damai? Apakah karena papua di sebut surga kecil yang jatuh ke bumi?.

Tuhan menciptakan kita itu sama, di mata Tuhan kita tidak ada bedanya hanya beda di kulit, dan rambut. Rasisme dan kriminasi terhadap mahasiswa papua di Surabaya tanah jawa terus terjadi, bagiku itu adalah ketidak adilan di negera ini.

Akhir akhir ini, Papua dalam duka 7 tahanan politik korban rasisme masih saja ditahan di sana, Kalimantan Timur, Tanah Jawa, juga seluruh Indonesia. Dalam hal ini suara tanggisan anak negeri dari bangsa West Papua meminta keadilan kepada NKRI “Negara kesatuan republik Indonesia,” segera bebaskan 7 tahanan Politik yang di tahan.

MahasiswaPapua bersuara melalui media lokal yang ada di tanah Papua, suarakan untuk segera bebaskan 7 tahanan politik korban rasisme di Kalimantan Timur, tanah jawa Indonesia. Mereka bukan pelaku maka itu kami anak negeri papua di minta keadilan, kepada, NKRI “negera kesatuan republik Indonesia.”

Negara kesatuan republik Indonesia, kata kesatuan itu dulu sekali. Namun sekarang tidak dihargai dengan lambang negara “Garuda” yang memegang sebuah tulisan “bhineka tunggal Ika” dalam arti berbeda-beda tetapi tetap satu hal ini tidak di hargai oleh negara sendiri. Realitas yang juga mengganaskan adalah selain Kekerasan, rasisme melanggar lambang negaranya sendiri.

Di akhir tahun 2019 di tanah Jawa Indonesian kalian tidak mau melihat kami anak Papua mencari ilmu, di sana di tanah jawa, akibat dari itu korban rasisme 7 tahanan politik masih saja di tahan di sana juga diskrimanisi terhadap Mahasiswa Papua. Semestinya, Mahasiswa adalah tongkat Demokrasi.
Dua hari yang lalu, Mahasiswa Universitas Cenderawasih dan seluruh mahasiswa Papua mengadakan aksinya dalam rangka untuk segera bebaskan 7 tahanan politik, tanpa syarat namun masih saja TNI POLRI masih dihadang, ditahan sekitar 4 jam pastinya.
Kedamaian dan keadilan di ruang rindu, terus melahirkan kerinduan, realita juga menunjukan bahwa papua bukan tanah damai, bukan surga kecil apakah karena ada kata damai ia melahirkan komflik baru lagi? Kehidupan dengan Negara ini susah? Dengan kekerasan akan melahrikan kekerasan baru lagi, cara yang bermanusiawi.

Tawaran hanya satu untuk menyelesaikan semua persoalan yang sudah terjadi dan sedang terjadi di atas tanah ini, Negara kesatuan Republik Indonesia “NKRI” harus buka mata dan harus selesaikan semua persoalan ini secara damai yaitu dengan cara berdialog bersama ULMWP, atau Gelar Referendum di papua.

Semoga!

Penulis adalah yulianus magai wartawan wagadei

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *