Bangun pondasi asrama, IPMMO Modio tiap sore cari dana

  • Bagikan

Nabire, [WAGADEI] – Mahasiswa Modio asal kabupaten Dogiyai yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa/i Modio (IPMMO) di kota studi Nabire, pada setiap sore hari selalu mencari dana hanya untuk membangun pondasi awal pembangunan gedung asrama. Salah satu kegiatan yang rutin dilakukan adalah bermain bola voli.

“Setiap hari, sore, main bola voli ini kami selalu bikin. Tidak pernah lewatkan satu hari pun. Kami bikin dengan tujuan untuk cari dana bangun pondasi awal asrama kami,” ucap Didimus Mote, salah satu pengurus ikatan IPMMO, kepada wagadei.com, saat mahasiswa/i dari ikatan itu main bola voli seperti biasanya di Jayanti Bambu Kuning, Nabire.

Dijelaskan, cara cari dana dalam bermain bola voli yang dilakukan adalah badan pengurus siapkan bola dan net voli lalu yang (ingin) bermain harus menyumbang uang.

“Orang dari luar ikatan juga biasa datang main, karena memang kami buka untuk umum, tidak hanya anggota kami. Puji Tuhan, kami bersyukur sampai sekarang masih jalan lancar,” tuturnya.

Dia berharap pemerintah daerah, Nabire dan terutama Dogiyai dapat melihat perjuangan yang sedang ia dan anggotanya perjuangkan.

“Sampai sekarang belum. Tapi kami harap semoga dalam waktu-waktu kedepan, Pemda Nabire dan utama itu Dogiyai bisa bantu kami,” jawabnya.

Dia dengan tegas ungkap, harus Pemda bantu karena apa yang sedang diperjuangkan bukan kepentingan pribadi dan sesaat semata tapi demi kepentingan generasi penerus kedepan.

“Untuk generasi muda penerus, kita siapkan tempat tinggal. Bukan untuk kami badan pengurus. Ini juga bagian dari tanggungjawab pemerintah, kami harap sekali bantuannya,” ungkapnya.

Dikesempatan sama, Emanuel Tekege, senioritas, berpesan kepada pengurus agar dana yang telah dan akan terkumpul dapat digunakan baik sesuai kebutuhan.

“Luar biasa adik-adik punya semangat cari dana. Saya pesan harus pakai sesuai kebutuhan. Tidak boleh pakai sembarangan,” pinta mahasiswa di kampus Uswim ini.

Natalis Kedeikoto, wakel ketua RPM SIMAPITOWA juga menyampaikan pesan yang sama. “Luar biasa ade-ade punya kekompakan. Tidak boleh lepas, harus tambah semangat sampai selesai,” ujarnya.

Mewakili orang tua, Melianus Tekege, meminta dana yang dikirim orang tua untuk kuliah dapat gunakan baik agar tidak putus kuliah.

“Intinya harus pisah mana yang untuk kuliah dan jajan. Tidak boleh pakai sembarangan. Untuk yang jajan baru sumbang tidak apa. Yang kuliah tidak boleh. Kasihan orang tua di kampung,” pesannya.

Dari perempun, Weliana Tekege, mengaku terharu dengan semangat yang ditunjukkan karena di Nabire banyak orang besar tetapi belum ada yang membantu.

Reporter: Yudas Magai

Editor: Glow

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *