Bunga di balik bibir Rasisme

“Sintia, pacarmu hitam ya, mandi tidak,?bunyi chat WA dari Bunga kepada Sintia, pacarnya Okto Dollar.

 

GUNUNG WEILAND, gunung yang melingkari beberapa kampung di kakinya. Terletak di atas 3.000 m. Wilayah Weiland menjadi Kabupaten baru di Papua. Baru satu tahun. Dimekarkan tanpa rekomendasi adat, juga tanpa dukungan bersyarat dari masyarakat adat setempat. Kabupaten Weiland. Setelah dimekarkan menjadi kabupaten baru; perusahaan asing asal Amerika Serikat diizinkan masuk operasi oleh pimimpin daerah Papua ya tentunya oleh pak Gubernur. Menjelang dua tahun, pemberontakan masyarakat dibiarkan, konflik berdarah tumpah di mana-mana tanpa solusi. Masyarakat menolak kehadiran perusahaan asing di gunung Weiland. Namun ada protes dari akar rumput, perusahaan tetap dibangun. Weiland; nama gunung yang melingkar delapan distrik di bawah kakinya, sekarang Kabupaten Weiland. Weiland memiliki kandungan emas, gas dan tembaga.

Kepala suku  besar yang sangat dikenal karena sikap ketegasannya dalam menyelesaikan masalah dan memiliki hak absolute atas gunung Weiland adalah tuan Moses. Lima tahun berlalu setelah wilayahnya menjadi kabupaten baru. Tuan Moses dan masyarakat menolak keras gunung Weiland dibongkar untuk pertambangan apapun. Namun, desakan dari negara yang begitu besar dan keras, ia menyetujui perusahaan tambang milik Amerika Serikat itu masuk dan beroperasi. Dari hasil saham, Tuan Moses dihibah 10 persen. Dua tahun kemudian emas dan beberapa jenis batu di explorasi. Perusahaan asal Amerika Serikat itu dengan cepat mengubah daerah Weilan menjadi kota lampu dan kota batu semen. Jalan-jalan menembus dusun dan wilayah dibangun dalam dua tahun setelah tiga tahun tambang beroperasi. Dibangun juga bandara udara dengan skala internasional. Berdatangan tenaga kerja asing dan lokal.

Kabupaten Weiland benar-benar menjadi kota yang ramai dalam kurung waktu yang singkat. Dalam lima tahun. Kabupaten Weiland memiliki pendapatan hasil daerah [PAD] paling tinggi di wilayah Papua. Ikut membantu negara untuk menekan utang negara republik Indonesia. Namun, sebagian masyarakat yang benar- benar menolak tambang asing, hidupnya tidak berubah dari waktu ke waku; ya masihtermarjinal, terisolasi dan betul-betul hidup di bawah garis kemiskinan yang tinggi dari keramaian kota.

Tuan Moses hanya memiliki satu anak dari istri pertama, dia baru memiliki istri kedua yang cantik, belum memiliki anak tapi sedang menggandung anak pertama. Anak pertamanya bernama Okto Dollar dari istri pertama. Okto Dollar sudah 25 tahun. Berpostur sedang [165], hitam gemuk dan berprinsip baik, dimanja dari kecil dengan uang dalam nilai yang besar dari bapaknya. Hidup dalam kehidupan yang cukup berada setelah perusahaan masuk di gunung Weiland. Hasil 10 persen dari perusahaan tambang kepada bapaknya dibagi dengan anaknya, Okto Dollar, lima persen. Tuan Moses, pribadi yang dikenal banyak orang, memiliki tanah sebagian wilayah gunung Weiland. Tuan Moses sudah memiliki beberapa mobil dan punya rumah mewah lebih dari dua. Banyak uang.

***

“Wisss, mobil baru,” kata temanya bertemu Okto Dollar dengan mobil baru.

“Biasa bro, hadiah ulang tahun dari bapaku,” balas Okto angkat dada.

“Asyeeekkk,” sahut temanya sambil salam jumpa.

Oktor Dollar suka berangkat, jarang pulang ke kotanya Weiland. Okto, anak laki-laki pertama dari seorang pemilik gunung Weiland. Anak kesayangan dari bapaknya. Masyarakat Papua menyebutnya keluarga emas hingga anaknya disebut-sebut anak Dollar dan bapaknya sang tuan tanah emas. Tuan Moses punya beberapa penyimpanan emas dan uang. Bapaknya Okto sudah masuk politik praktis lokal dan nasional, tentunya membantu beberapa politikus daerah yang ingin menjadi Bupati dan DPRD. Sering melakukan penyuapan hukum dalam bisnis ekonomi dan politik [ekopol]. Berkontak Polisi hingga Tentara dengan nilai uang yang mengagetkan untuk mengamankan. Tuan Moses sudah bekerja sama dengan militer dan beberapa negara korporate elit.

Okto Dollar memiliki cerita hidup di beberapa kota besar dalam negara Indonesia, khususnya pulau Jawa dan Bali. Okto Dollar suka hambur-hambur uang demi kebahagiaannya, foya-foya di mana-mana. Namun, ia tidak lanjut sekolah setelah tamat SMA. Okto Dollar, pria hitam bertubuh gemuk, kulitnya bertato sebagian tubuhnya, seperti seorang penyanyi Rap asal Eropa. Okto Dollar punya banyak teman perempuan dan laki-laki asli Papua maupun non Papua. Ia lebih suka bergabung dengan teman-teman yang asalnya dari luar Papua, Jawa, Makassar, Ambon dan daerah lainnya. Suka traveling di beberapa wilayah yang bagus seperti di Bali, Lombok, NTT dan Raja Ampat.

Sesaat itu Okto berpacaran dengan wanita asal pulau Jawa, namanya Sintia. Posturnya tinggi putih, bertubuh bagus seperti artis-artis di layar lebar yang kerap muncul tiba-tiba. Mereka berpacaran sudah satu bulan lebih setelah berkenalan melalui media Instagram, anak zaman now sebut IG, tapi jarang bertemu. Okto lebih banyak di Papua tapi, tapi nyatanya ia selalu transfer uang kepada sang kekasihnya di atas Rp 20 juta kepada.

“Sayang ke Bandung yuk, temanku mau menikah,” ajak pacaranya, sementara Okto Dollar masih di Papua.

“Kapan sayang,” jawab Okto bertanya.

“Lusa, hari Kamis sayang,” balas pacarnya.

“Oke baik,” balas Okto, menyetujui permintaan kekasihnya.

“Sayang kirim uang dong, buat pake persiapan saja,” minta Sintia.

“Oke sayang, bentar nanti saya kirim 30 juta dulu ya,” balas Okto Dollar.

“Oke sayang, makasih love you,” balas Sintia dengan senang hati.

Kamis siang, Okto Dollar sudah sampai di Bandung dari Papua. Sintia dengan berpakaian rapi, liftik merah maron, tampil cantik dan seksi sudah tunggu di bandara Husein Sastranegara, Bandung. Mereka berdua langsung ke acara pernikahan. Okto Dollar hanya ikut keiginan Sintia yang tidak pernah beri waktu untuk bercinta, berciumanpun belum pernah. Sampai di acara pernikahan, mereka berdua disambut hangat oleh teman-teman Sintia dibawah rombongan Bunga, teman dekatnya Sintia. Setelahnya, mereka berduduk agak berbedah dengan teman-temanya. Duduk agak kejauhaan. Okto mengenakan Jas Salt dan Pepper hitam dengan dasi berwarna hitam. Sintia berpakean celana jin panjang dan kemeja Must Have item. Mereka dua terlihat romantis.

“Sintia, pacarmu hitam baget ya…. Mandi gak, hahaha….,” pesan WA [whatsApp] dari temannya yang bernama Bunga kepada Sintia sementara lagi duduk.

“Kan aku hanya bohong-bohong saja sama dia,” balas Sintia dengan emosi ketawa.

“Gelih ya, kalau bercinta,” balas Bunga dengan emosi ketawa dan muntah.

“Aku nga pernah bercinta sama dia, lagian seperti juga Monyet,” balas Sintia.

“baguslah, biar nga malu-maluin kami teman-teman semuanya kalau kamu mengandung anak hitam,” balas bunga dengan emosi ketawa.

“Ihhh.… Geli ah….,” balas Sintia ketawa.

***
Acara pernikahan temannya Sintia usai. Setelah bersalaman, mereka pulang. Sintia meminta kepada Okto Dollar harus pulang bersama dengan teman-temanya. Sintia tidak ikut bersamanya walaupun Okto Dollar sebagai pacaranya mengajak pergi bersamanya. Katanya, Sinta harus pulang ke rumah karena ada pekerjaan. Okto kecewa dan langsung berangkat ke Jakarta. Okto Dollar marah sama Sintia, pacarnya. Dalam perjalanan, Sintia beberapa kali telepon tapi lelaki hitam ini tidak merespon. Beberapa menit kemudian Sintia telepon pakai nomornya Bunga. Karena nomor baru, Okto merespon.

“Hallo,” Okto.

“Ia ipar, ini Sintia mau bicara,” kata Bunga.

“Oke,” balas Okto dengan sedikit kesal.

“Sintia kita putus ya, makasih sudah ajak saya ke Bandung,” jelas Okto Dollar tanpa mendengar alasan Sintia.

Okto Dollar hapus semua kontaknya Sintia. Memblokir Sintia dari semua media sosial. Beberapa menit kemudian, Okto menelepon Bunga.

“Hay, kamu Bunga kah yang kemarin di acara nikah?, tanya si Okto.

“Ia, ipar,” balas Bunga.

“Kirim nomor rekening [bank],” minta Okto setelah ia sedikit bercerita kisah antara dia dengan Sintia.

“Ipar, ada Sinta ini,” balas Bunga, merasa takut.

“Saya sudah tidak ada hubungan dengan Sintia, mungkin sekarang saya harus berteman denganmu Bunga. Ayo, Bunga kirim nomor rekening ya,” jelas Okto paksa.

Bunga langsung tutup telepon, tapi Bunga kirim nomor Rekening. Okto telepon Bunga depan Sintia. “Bunga, saya sudah kirim 20 juta, besok ke Jakarta ya, saya tunggu di sini,” jelas Okto.

“Hmmmm aduhh, gimana ya,” bunga berpikir. “Telepon ya, kalau sudah di Jakarta, saya tunggu,” kata Okto sambil matikan handphone.

Setelah Bunga bercerita detail, Sintia marah sama Bunga. Sintia pergi tinggalkan Bunga saat itu juga. Besoknya Bunga ke Jakarta bertemu dengan Okto Dollar. Hampir satu bulan Bunga dengan mantanya Sintia bersama di Jakarta. Mereka dua tinggal di hotel mewah berbintang lima. Bunga sudah bercinta dengan Okto Dollar walaupun di acara pernikahan, Bunga rasis kepada Okto Dollar. Setelah dua bulan bersama, Okto Dollar kembali ke Papua. Selama lima bulan berlalu, Bunga memberikan kabar kalau ia hamil. Dua hari kemudian, Okto Dollar terbang ke Bandung lalu mengajak Bunga ke Jakarta . Okto Dollar memberi hati kepada Bunga, apapun. Semakin mereka romantis dan semakin saling menyayangi. Apapun Okto Dollar selalu ada untuk Bunga.

“Sintia, aku hamil dari Okto Dollar,” pesan WA Bunga ke Sintia di Bandung.

“Katanya jijik, hitam kotor, monyet,?” balas Sintia dengan emosi berat.

“Maaf teman, itu mungkin caraku agar kamu pergi dari dia dan saya ingin dengannya,” jelas Bunga santai.

“Kamu kurang ajar Bunga,” marah Sintia.

“Tidak, cuma kamu yang bodoh menilaiku,” balas Bunga.

“Ia, mungkin,” kesal Sintia.

“Ia, kan Sintia tau aku udah lama suka dengar lagu rap orang-orang kulit hitam di Eropa. Masa, aku tidak suka pria hitam yang gayanya seperti anak Rap? Kan nga mungkin Sin,” jelas Bunga kepada Sintia.

“Lanjut deh,” singkat Sintia dengan marah.

“Makasih ya Sin, saya sayang Okto dan dia juga cinta saya, kita akan punya buah hati,” balas Bunga dengan sopan.

Sintia tidak membalas.

***

Okto Dollar sayang sama Bunga karena Bunga tidak pura-pura seperti Sintia. Bunga juga Sayang sama Okto Dollar. Bunga suka pria hitam dari lagu-lagu orang kulit hitam di dunia Rap yang sudah lama ia mendengarkan seperti Akon, 50 Cent, Wiz Khalifa, T. Paint ddan lainnya. Saatnya Okto Dollar dan Bunga harus pulang ke Papua dan menikah sebelum melahirkan.

Keluarga dari Bandung serta teman-temannya Bunga datang sebelum dua hari memulai acara pernikahan. Okto Dollar dan Bunga kirim undangan dan tiket untuk Sintia, tapi ia tidak datang.

Acaranya sungguh sangat meriah, hampir semua orang di kota Weiland hadir. Dari acara adat Papua sampai dengan adat orang Sunda juga turut dihadirkan dalam rangkai acara pernikahan itu. Semua acara ditanggung bapaknya, tuan Moses. Ia bangga akan memiliki cucu. Acara pernikaan sudah berlalu. Setelah dua bulan, Bunga akan melahirkan di rumah sakit. Bersama-sama, sulit karena bersaling. anak tidak bisa keluar dari kandungan. Bunga kesakitan tidak sadar diri, kepala berat, seakan ada tusukan jarum atau paku yang tajam dari dalam perut.

Hampir enam jam berlalu, masih juga anak belum keluar. Okto Dollar berlari memanggil seoarng Pendeta. Setelah Pendeta tiba dan melihat lalu doa, seorang perempuan sedang duduk dalam kandungan. Dia berbicara dalam doa, katanya ia adalah Sintia, mantannya Okto dan temanya Bunga itu.

Pendeta berdoa dengan berulang-ulang, ternyata Sintia yang datang dengan bantuan dukun itu keluar dari kandungan Bunga. Ritual dukun telah dikalahkan oleh doa Pendeta. Tiga puluh menit kemudian, Bunga sadar kembali dan dokter kembali melakukan persalinan. Tidak lama, anak laki-laki pun lahir dengan sehat dan baik-baik dengan bantuan doa Pendeta dan para dokter. Okto yang jarang berdoa mengucapkan terimakasih kepada Tuhan dan juga kepada Pendeta, sang penyelamat itu. Sebagai rasa berterimakasih kepada pak Pendeta, si Okto Dollar serakan kunci mobil Toyota Fourtuner warna hitam kepada Pendeta dan membayar lebih dari normal kepada dokter-dokter.

“Semoga mobil ini bisa membantu bapak Pendeta dalam pelayanan doa kepada umat di seluruh wilayah Papua,” ucapan Okto kepada bapak Pendeta sambil menyerahkan kunci.

“Tuhan akan memberimu kesehatan dan umur panjang untuk keluargamu sepanjang masa. akan terus diberkati,” ucap bapak Pendeta disertai doa.

“Terimakasih Bapak,” ucap Okto.

Dua hari kemudian mereka pulang ke rumah. Mereka memberikan nama anak itu ‘Weiland’. Setelah satu bulan bersama buah hatinya, mereka terbang ke Jakarta. Bersambung…..

 

*] Ini adalah cerita fiksi, ditulis oleh Nomensen Douw, wartawan wagadei.com, tinggal di tepian teluk Saireri

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares