PHP Dev Cloud Hosting

Maria Rumateray, ‘dokter terbang’ di Lapago selamatkan ibu yang baru melahirkan di Yalimo

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADEI] – Seorang ibu bernama Walea Hombusagon yang baru melahirkan di Kampung Sohorom, Distrik Welarek, Kabupaten Yalimo, Provinsi Papua berhasil dievakuasi dan diselamatkan oleh petugas medis dari RSUD Wamena yang turun bersama Helivida, Sabtu, [24/4/2021].

Ibu Hombusagon itu dikabarkan dua hari sebelumnya, Kamis, [22/4/2021], telah melahirkan seorang bayi. Sayangnya, sang bayi meninggal dunia. Sementara plasentanya masih tertinggal dalam perut yang sangat membahayakan keselamatan si Mama Walea. Maklum. Petugas medis dan fasilitas kesehatan di wilayah itu cukup jauh. Puskesmas Welarek harus ditempuh berjam-jam melewati tiga bukit besar.

Adalah dr. Maria Louisa Rumateray, tenaga medis dari RSUD Wamena, Jayawijaya yang sudah lama dikenal sebagai “dokter terbang” di wilayah Pegunungan Tengah Papua, turun bersama tim Helivida menjemput pasien ini pada Sabtu, [24/4/2021] pagi. Helivida adalah salah satu Yayasan kemanusiaan yang sudah 40 tahun lebih bekerja di Papua membantu proses evakuasi pasien lewat ambulance udara berupa helikopter.

“Kami mendapat informasi semalam, dan tadi kami turun. Ini kami baru landing sepuluh menit lalu di rumah sakit. Pasien sudah ditangani di bagian Ponek, RSUD Wamena oleh para bidan dan dokter spesilias kebidanan, dokter Manu Auparay, Sp.OG. Nanti dikuret,” kata wanita yang akrab dikenal dokter Mia lewat pesan Whatssapp kepada Gusty Masan Raya yang melaporkan kepada wagadei.com.

Menurut informasi yang diterima Dokter Mia, Mama Walea memiliki lima orang anak. Tiga orang anak di antaranya meninggal dunia, termasuk yang baru lahir dengan penyebab kematian serupa. Kasus kematian bayi seperti ini memang sering terjadi di wilayah Pegunungan Tengah Papua. Salah satu penyebabnya adalah kurang gizi. Sementara fasilitas kesehatan sangat jauh.

“Dua hari plasenta masih di dalam itu sangat berbahaya bagi keselamatan pasien karena pasti pendarahan terus. Hasil pemeriksaan, HB Mama Walea sangat rendah, hanya enam saja. Tapi puji Tuhan, Mama Walea masih kuat. Dia butuh tambahan darah. Darah O. Saya baru selesai donor juga buat dia. Kejadian seperti ini sering,” kata Mia.

Dokter Mia mengisahkan, sebenarnya perjalanan Wamena menuju Welarek hanya butuh sekitar 30 menit untuk mengevakuasi Mama Walea. Namun awan tebal menutup Yalimo di Sabtu pagi itu. Setelah belasan menit di udara, Matt Meeuwse, sang Pilot asal Montana Amerika Serikat itu, harus mencari titik celah untuk landing di helipad yang disediakan.

“Saat kami tiba, pasien sudah ditandu ke helipad. Jadi jarak antara kampung itu dengan tempat helipad itu butuh waktu satu jam. Belasan keluarganya menjaga Mama Walea dari pagi. Saya langsung periksa Mama, saya cek pendarahannya apakah masih aktif atau tidak, tapi Puji Tuhan baik. Kami bungkus baik-baik dan naikkan ke helicopter ditemani dua keluarganya,” urai dokter Mia.

Sudah dalam helikopter, bukan berarti sudah aman. Kabar yang diterima pilot, awan tebal menutupi Kota Wamena, walau cuacanya cerah. Helikopter tidak bisa terbang menuju Wamena lewat Elelim. Mereka dianjurkan mengambil rute ke arah Dekai, Kabupaten Yahukimo, menyusuri Sungai Baliem menuju Tangma sebelum masuk ke Wamena.

“Awan tebal ini biasa. Padahal cuaca cerah, panas terik sekali. Tadi saja saat periksa pasien ini, karena terlalu panas, saya minta orang potong beberapa daun pisang untuk naungi ibu dan saya karena terlalu panas,” tambah dr. Mia.

Wilayah Pegunungan Tengah Papua meliputi Jayawijaya, Yalimo, Lanny Jaya, Yahukimo, Mamberamo Tengah, Tolikara, Puncak Jaya, Puncak dan Pegunungan Bintang memiliki medan geografis yang berat. Berbukit-bukit curam. Transportasi antarwilayah lebih banyak menggunakan angkutan udara. Maka di setiap distrik, dijumpai lapangan terbang untuk pesawat perintis. Jika tidak ada, selalu ada helipad yang dibangun masyarakat agar ada helikopter yang bisa mendarat.

“Nah keadaan seperti ini, harusnya Pemda Yalimo bangun kerjasama dengan Helivida, sharing dana. Supaya ketika ada pasien, mereka bisa bantu evakuasi. Demikian pun juga Pemda lain. Kalau tidak, ya Pemprov Papua atau kabupaten-kabupaten ini beli Ambulance Udara seperti milik Helivida ini supaya saat keadaan darurat bisa digunakan evakuasi pasien,” pinta lulusan Magister Rumah Sakit Universitas Indonesia ini.

Apalagi, kata Mia, saat ini sejumlah wilayah Pegunungan Tengah perlahan-lahan mulai dipasang tower Telkomsel. Jika ada kejadian darurat seperti ini, masyarakat akan menghubungi pihak Helivida. Beda dengan dulu yang hanya menggunakan radio HF atau SSB sebagai alat komunikasi.

“Selama 11 tahun bergabung dengan Helivida, setahun terakhir jumlah pilot lokal baik anak asli Papua maupun yang lahir besar di Papua, mereka ikut terlibat. Mereka semangat melayani kemanusiaan bersama Helivida seperti pilot asing lain. Hanya mereka kekurangan dukungan donasi dari Pemda. Beda dengan pilot asing yang dihargai mahal oleh negaranya. Tolong ini jadi perhatian Pemda,” tuturnya.

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana [Unkrida] Jakarta ini juga meminta kepada kabupaten-kabupaten yang tergabung dalam Asosiasi Bupati Pegunungan Tengah Papua bekerjasama dalam hal pendanaan dengan RSUD Wamena sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di wilayah La Pago.

“Kami di RSUD Wamena memang tetap utamakan pasien dulu, layani selamatkan pasien dulu. Soal dananya belakangan. Tetapi tidak bisa bebankan terus ke Pemda Jayawijaya. Seharusnya kabupaten sekitar minimal ada sharing dana atau obat dengan RSUD Wamena sehingga mendukung operasional pelayan bagi pasien yang datang dari luar Jayawijaya. Apalagi, masyarakat yang datang tidak punya KTP, kita kesulitan untuk klaim BPJS,” pungkasnya. [*]

Reporter: Enaakidabii Carvalho

Editor: Aweidabii Bazil

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *