Damabagata dari masa ke masa menuju Paroki yang mandiri

  • Bagikan

 

Deiyai, [WAGADEI] – Membaca sejarah berarti mengenali masa lalu, baik fakta maupun orangnya, baik dinamika maupun pergumulannya karena itu semua yang melatarbelakangi realitas hidup masa kini. Masa kini merupakan penerusan dari masa lalu l, dan masa kini akan mempengaruhi realitas masa depan, karenanya masa kini hanya jangan memberi beban dan luka bagi masa berikutnya, terlebih bagi generasi mendatang. Reksa pastoral adalah suatu proses yang menyejarah menjadi bagian dari jalannya sejarah dan akan menentukan pula jalannya sejarah. Dengan demikian diharapkan reksa pastoral pun berkat bimbingan roh Kudus maupun mewujudkan secara konkret realitas sejarah keselamatan Allah, yang dinyatakan secara murni dan tuntas dalam puteranya Yesus Kristus.

Salah satu tokoh agama Katolik di wilayah Dekenat Paniai – Tigi, Bertus Takimai mengungkapkan, sejarah berdirinya Paroki K3 Damabagata. Menurut Takimai, awal mula gereja dan sekolah para misionaris membuka satu paket gereja dan sekolah pertama di Edagotadi dengan SK gereja tanggal 1 Februari 1950. SK operasional sekolah Dinas P dan K Provinsi Irian Barat nomor DCZ 9, tanggal 21 Januari 1960. Sekolah Rakyat Edagotadi sejak tanggal 1 Februari 1950 sampai dengan tahun 1979 satu gedung dipakai hari Senin sampai Sabtu sebagai gedung sekolah dan hari Minggu tempat ibadah. Selanjutnya gedung sekolah 6 ruang kelas yang ada dibangun oleh bapak guru Yohanes Edowai. Ia yang akan memperingati dan merayakan 50 tahun menjadi guru jika pada tanggal 24 Juni 2021.

“Selanjutnya berdirilah SK gereja tanggal 1 Februari 1957 untuk gereja dan Sekolah Rakyat. SK operasional sekolah Dinas Pendidikan Provinsi Irian Barat Nomor 039/SKEP/F/1969. Sejak berdirinya gereja dan sekolah 1 Februari 1950 sampai 1977 sekolah dan gedung gereja satu gedung. Tahun 1977 lahirlah gedung sekolah Santa Veronika Damabagata,” ujar Bertus Takimai kepada wagadei.com, Minggu, [18/4/2021].

Lebih lanjut ia mengatakan, tahun 1955 dibuka gereja dan Sekolah dibuka di kampung Egepakigida. Namun lantaran adanya masalah perkawinan tahun 1971 sekolah dan gereja ditutup. SD YPPK Egepakigida, Diyouto, Yagu, dan Mugouda dibuka oleh Dewan Paroki Santo Yohanes Pemandi Waghete pada tahun 2002 dengan status kelas jauh SD YPPK Waghete, walaupun ada surat edaran Irian Jaya tidak boleh buka sekolah YPPK.

“Tahun 2008 sekolah tersebut sudah punya SK operasional dari pemerintah Kabupaten Paniai sehingga ada NSS dan NPSN sendiri,” ucapnya.

“Gereja pos menuju stasi. Pada Oktober 1997 saya melakukan pelarian dari Kamuu (sekarang Dogiyai) keluar dari Mauwa jam 03.00 dini hari sampai di Waghete jam 09.00 langsung menghadap ke PSD YPPK Tigi (sekarang Deiyai) dengan membawa surat pindah dari PSD Kamuu, dalam surat itu saya ditugaskan di Edagotadi atau Damabagata, tetapi oleh PSD Tigi ditahan karena waktu itu PSD boleh menentukan tempat tugas seorang guru. Tahun 2001 saya dipilih menjadi ketua dewan Paroki Santo Yohanes Pemandi Waghete, melayani 24 Stasi bersama Pastor Albert Edi Anthony, SJ berjalan kaki dari stasi yang satu stasi lain. Sementara pusat Paroki mengalami kekosongan gembala Paroki karena bapak Wilem Doo yang bertugas dari tahun 1973 dipindahkan dari Dago Kebo hingga meninggal dunia. Jadi saya merangkap sampai dengan hari ini, sudah genap 20 tahun. Masih mau lagi 20 tahun yang akan datang kalau Tuhan mengizinkan,” ungkap alumni PGAK Jayapura tahun 1988 ini.

Damabagata menuju Paroki

Takimai mengatakan, tahun 1974 atau 1975 Uskup Jayapura, Mgr. H.F.M. Muninghoof, OFM datang memberikan sakramen Krisma di stasi Damabagata, tepat di halaman SD YPPK Damabagata. Saat itu Uskup berjanji: Saya akan membangun gereja besar, saya siapkan paku dan daun sengk, Pastor Paroki Waghete siapakah tukang, dan umat siapkan kayu”.

Menanggapi pesan Uskup itu, umat Stasi Damabagata, Watiyai, Dagokebo, Udaugi, Edagetadi dan Bagou langsung bergerak menyiapkan bahan lokal selama dua tahun yakni dari 1975 dan 1976. Pada tahun 1977 gereja stasi Damabagata sudah jadi. Uskup Muninghoof kembali ke Damabagata dan memberkatinya dengan nama “gereja Santa Veronika” milik Stasi Apogo. Mulai saat itu sampai dengan tanggal 24 Mei 2009 berada dalam Paroki Santo Yohanes Pemandi Waghete. Berpisah hanya pada saat masa Natal dan paskah.

“Pada tanggal 25 Mei 2009 menjadi kuasi Paroki Santa Veronika dengan data yang ditandai dengan pemberkatan oleh Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil dan penandatanganan berita acara serah terima lokasi gereja. Pada tanggal 5 Mei 2010 minggu ketiga masa Paskah menjadi paroki sendiri dengan nama Paroki Kristus Kebangkitan Kita (K3) Damabagata,” ujarnya.

Mulai saat itu lanjut dia, Pastor Paroki pertama ialah Pastor Amandus Fahuk, Or asal dari NTT, pulau Timor orang perbatasan antara NTT Indonesia dengan Timor Leste. Ia bahkan meninggal dunia pada saat masa jabatan sebagai Pastor Paroki belum berakhir, dan selanjutnya diberikan penanggung jawab paroki kepada Diakon PU Fransiskus Doo dan Pastor Marthen Ekowaibii Kuayo, Pr sampai sekarang dengan Pastor Ibrani Gwijangge yang rencana tugasnya akan berakhir tahun 2024.

“Selama 11 tahun ini pula jabatan dewan Paroki sudah tiga kali diadakan pemilihan. Tiga Dewan Paroki yang telah mengambil bagian itu dianggap sukses dalam Muspamee Dekenat. Dua dewan Paroki awal sebagai peserta Muspamee di paroki Obano, Diyai dan Madi. Dewan Paroki yang ketiga menjadi tuan rumah penyelenggaraan Muspamee ke-6 tahun 202 lalu,” katanya.

Dewan Paroki K3 Damabagata, Yance Takimai mengatakan, petugas Pastoral asal Paroki itu diantaranya Jack Takimai alumni Kateket selesai di APK Ruteng tahun 1984. Bartus Takimai dari PGAK Jayapura tahun 1988, selanjutnya diikuti oleh Fransiskus Doo, Anselma Doo dan Veronika Adii, ketiganya alumni STFT Fajar Timur Abepura Jayapura.
Pesan

“Dalam suatu perjalanan tidak terlepas dari banyak suka duka yang dialami, ada kegembiraan, ada suka, duka, cerah, tampak pula wajah buram. Perjalanan Gereja banyak dipengaruhi oleh bagaimana pastor dan dewan parokinya yang profesinya menjalankan serta membangun kehidupan menggereja di paroki,” kata dia.

Ia berharap, reksa pastoralnya tidak melenceng dari arah kegembalaan pastoral Uskup setempat. Paroki merupakan pangkal serta dasar kehidupan menggereja yang paling nyata dan kelihatan malahan dikatakan sebagai fundamen pertama dari struktural gereja, dalam bahasa Mee “Kabo tiga epi make tai”. [*]

Reporter: Abeth A. You

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *