Sehebat apapun, pemimpin Papua tidak boleh lupa “mama” noken

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADEI] – Titus Cristhoforus Pekei, ketua Yayasan Noken Papua, meminta para bupati di seluruh wilayah Papua atau di 7 wilayah adat untuk bikin kebijakan tentang penggunaan noken.

Pekei mengatakan pemerintah daerah (Pemda) Mimika tampak ada kebijakan dari bupati Eltinus Omaleng bagi ASN, anak sekolah dan masyarakat, setiap hari bawa atau pikul noken.

“Lalu bagaimana pemerintah daerah lain di tanah Papua terutama yang di Meepago dan Lapago,” tanyanya belum ini melalui cuitan didinding Facebooknya.

Noken, dikatakan Pekei, adalah mama (ibu) dan orang Papua adalah anak. Sehingga orang Papua sebagai anak dari noken yang merupakan mama, menurutnya, tidak boleh melupakan rahim ibunya.

Ia menuding lupa apakah karena terperangkap hipnotis “pintar janji mama lalu lupa mama kandung nokenmu sendiri”.

“Namanya hidup, sehebat apapun kalau tanpa mama noken kandungmu tidak ada arti apa-apa dalam kehidupan ini. Tidak akan dapat gelar Ogai (peroleh jabatan bupati dan lain-lain),” tekannya.

Dicuitan lainnya, Pekei mengapresiasi pegawai dan lima komisioner anggota KPUD kabupaten Dogiyai yang memposting foto menggunakan noken secara bersama.

“Terlepas dari hal privasi institusionalnya, kita fokus melihat institusi KPU Dogiyai sampaikan bahwa hadir hargai identitas warisan budaya bangsa Papua,” puji foto yang diposting ketua KPUD Dogiyai, Andi Gobai, di Facebooknya (12/4/2021).

Menurut Pekei, pesan nilai dasar budaya dari noken yang ditunjukkan KPU Dogiyai, kekompokan, kebersamaan antara pribadi satu ke pribadi yang lain.

“KPU Dogiyai dari balik gunung Dogiyai lembah Kamuu berpesan bahwa apapun masalah, kami tetap kompak satu keluarga penyelenggara demokrasi. Siap melayani sukseskan sesuai tugas dan tanggungjawab hari ini dan kedepan,” lagi pujinya.

Pesan positif KPUD Dogiyai itu, diharapkannya, dapat ditiru siapapun tanpa ego membuat noken dengan bebas tulis nama pribadi, asal instansi, lembaga, sekolah, alumni atau apapun.

Seperti diketahui; atas perjuangan yang begitu gigih, panjang dan tidak kenal lelah oleh Titus Pekei, pada 4 Desember 2012 silam noken yang didoronnya berhasil ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO (Badan PBB untuk urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya) di Paris, Prancis, bersama dengan sejumlah warisan budaya lainnya dari Kyrgyzstan, Uganda, dan Bostwana.

Dan noken pun oleh UNESCO digolongkan masuk dalam kategori “in Need of Urgent Safeguarding” atau warisan budaya yang membutuhkan perlindungan mendesak.

Seperti dilansir CNN Indonesia (4/12/2020), mengingat berbagai faktor sedang mengancam kelestarian noken Papua, Titus berharap museum noken di Jayapura segera terwujud supaya bisa menjadi tempat belajar masyarakat tentang noken, terutama bagi generasi muda. Titus juga berharap noken bisa menjadi muatan lokal di berbagai sekolah di Papua.

Reporter: Glow

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *