Tragis! Ibu dan bayi di kandungan meninggal bersama di RSUD Nabire

  • Bagikan

Emanuel Dumupa, saudara kandung dari korban – Ist

Nabire, [WAGADEI] – Seorang ibu hamil bernama Rufina Dumupa (36 tahun) warga Siriwini, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire yang hamil tua ini harus meregang nyawa bersama bayi di perutnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire, Jumat (16/4/2020) sekitar pukul 04.00 WP. Pasangan ibu dan anak itu diduga meninggal akibat lambatnya penanganan medis.

Sungguh memiriskan dialami istri dari Hanok Herison Pigai ini masuk RSUD milik Pemerintah Kabupaten Nabire ini sejak Senin, (12/4/2021) hingga hembuskan nafas terakhir pada Jumat subuh.

Suami korban, Hanok Herison Pigai mengatakan, korban meregang nyawa setelah anak dalam janinnya tak bisa keluar selama empat hari lamanya berada di dalam RSUD yang berlokasi di Siriwini itu.

Emanuel Dumupa, keluarga korban juga mengaku menyesal dengan tindakan pihak RSUD Nabire. Kondisi korban pun kala itu semakin memburuk, pihak keluarga telah berupaya minta pertolongan namun tak digubris.

“Selama empat hari dibiarkan begitu saja pembiaran. Kaka saya tidak bisa buat apa, kondisi lemas, wajah pucat, tetapi tidak ditanggapi,” beber Dumupa yang berprofesi sebagai penerbang ini kepada wagadei.com di balik selulernya, Jumat, [16/4/2021].

Akibat tidak ditangani dengan serius, kata dia, Jumat (16/4) dini hari sekitar pukul 04.00 WP, saudarinya bersama bayi di dalam perutnya meninggal dunia. “Beberapa saat sebelum kaka saya meninggal, kami keluarga sudah memanggil perawat tapi terlambat. Kakaku saya sudah meninggal,” ungkapnya.

Suami korban, Hanok Herison Pigai mengatakan, dalam kondisi kesakitan itu diduga karena kelalaian petugas medis di RSUD Nabire saat melakukan penanganan persalinan.

“Kami sangat menyayangkan tindakan rumah sakit yang seakan tidak memperhatikan istriku saat proses persalinan berlangsung. Kami sudah berusaha keras tapi pihak medis abaikan begitu saja hingga meninggal dunia,” ujar Hanok Herison Pigai.

Istrinya waktu itu sudah mengeluhkan rasa sakit, sehingga dibawa ke rumah sakit tersebut.

“Kami keluarga bawa ke rumah sakit karena permintaan istri,” ujarnya.

Lanjut dia, pada Kamis (9/4), istrinya kembali melakukan kontrol kesehatannya. “Saat itu dokter menawarkan untuk dilakukan operasi, tapi sebelumnya diberikan solusi agar diberi obat perangsang dulu. Kami menandatangani perjanjian untuk operasi,” tuturnya.

Jika dilihat dari kejadian ini, nampaknya tak ada kordinasi kerja yang baik antara sesama perawat terutama bidan dan dokter.

“Jadi kalau setiap orang datang berobat di RSUD Nabire lalu pulang bawah mayat itu benar, kami lihat hasilnya sendiri hari ini. Tadi kami mau hancurkan RSUD ini karena kecewa, tapi tidak sempat. Mereka harus dievaluasi total, kejadian yang sama tak boleh terulang lagi,” ungkapnya kesal.

Pihak RSUD Nabire melalui Direktur Utama dr. Andreas Pekei yang dikonfirmasi wagadei.com melalui WhatsApp mengaku, belum mengetahui sehingga ia akan mengecek ke dalam.

“Belum dengar info itu. Nanti saya cek dulu,” ujar dokter Pekei balas chat WA.

Ia bahkan turut bersedih atas kematian tersebut. “Kasihan saudara perempuan itu, dulu sering datang berobat ke saya di poli,” ucapnya. [*]

Reporter: Abeth A. You

banner 120x600
  • Bagikan

Respon (2)

  1. Apa yg perlu di cek kedalam lagi, semua su terlambat.
    Bapak Andreas Pekey dan komplotan RSUD itu lalai dalam penangan pasien.😞😭🙏🏾

  2. Apa yg perlu di cek kedalam lagi, semua su terlambat.
    Bapak Andreas Pekey dan komplotan RSUD itu lalai dalam penangan pasien.😞😭🙏🏾

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *