Lebih baik tiga negara di Indonesia, daripada pemekaran Provinsi di Papua

  • Bagikan

 

Jayapura, [WAGADEI] – Daripada memekarkan banyak Provinsi di tanah Papua, lebih baik Negara Republik Indonesia memutuskan tiga negara, yakni Negara Indonesia Barat, Negara Indonesia Tengah dan Negara Indonesia Timur.

 

Hal itu diungkapkan Ketua Badan Pelayanan Pusat Gereja Baptis West Papua, Pdt. Dr. Socrates Sofyan Yoman menanggapi rencana pemerintah enam Provinsi di Papua yang sedang digodok oleh Pemerintah Pusat melalui Menteri Dalam Negeri [Mendagri] saat jumpa pers di Kantor Sinode GKI Kingmi di Tanah Papua di Kota Jayapura, Jumat [9/4/2021].

 

 

“Lebih baik kita bikin tiga negara saja, Indonesia Barat, Indonesia Tengah, dan Indonesia Timur. Daripada pendududknya masih belum cukup buat provinsi boneka di Papua,” ungkap Pdt. Dr. Socrates Sofyan Yoman didampingi dua rekan pimpinan agama pribadi Papua lainnya, yakni Pdt. Dr. Benny Giay dan Pdt. Dorman Wandikbo.

 

Saat ini kata Yoman, negara Republik Indonesia sedang panik terhadap Papua karena kehilangan sahabat di MSG.

 

Yoman mengatakan, jika hendak melakukan pemekaran suatu daerah mestinya diukur berapa umlah penduduknya, cakupan luas wilayanya, lalu sumber daya manusia dan sumber daya alam.

 

“Hal-hal ini harus dilihat tapi itu diinjak saja begitu tidak diperhatikan oleh Negara. Kalau mereka mekarkan enam Provinsi lalu jumlah orang asli Papua mencapai satu stengah, sementara Jawa itu 50 juta lebih kenapa tidak mekarkan itu? Kemudian Jawa Barat juga hal yang sama, kejahatan rasis oleh negara, pengalihan persoalan Papua, Negara Indonesia tidak mau menyelesaikan persoalan Papua. Tetapi mereka melakukan pengalihan kegagalan di bidang pendidikan, kesehatan dan juga ekonomi,” ujarnya.

 

 

Presiden GIDI Pdt Dorman Wandikbo menegaskan, sesungguhnya Ostus adalah rasisme jika enam provinsi dimekarkan sepihak.

 

“Itu mereka akan menutupi ruang bergerak ruang demokrasi, semua hal yang sampaikan di muka umum dibatasi. Itu berarti rasismenya lebih, jadi ini bukan Otsus yang tambah maju lagi, bukan perpanjangan yang mensejaterakan masyarakat Papua yang mereka katakan, tapi ini jujur betul-betul murni rasis,” kata Pendeta Dorman.

 

Semarang kata dia, pemekaran yang dimekarkan justru Indonesia mau menutupi semua jaringan Papua untuk berbicara tentang keadilan dan kebenaran. “Jadi otsus ini adalah benar benar rasis,” ujarnya.

 

“Otsus hari ini lebih kejam dan lebih berbahaya. Untuk nasib masa depan orang asli Papua, karena semuanya akan dibatasi termasuk kami Dewan Gereja Papua hari ini menyampaikan surat seperti ini juga mereka akan batasi. Bahwa kami tidak boleh bicara ditutup rapi, itu yang direncanakan Papua jadikan enam Provinsi. Berarti rasis yang lebih berbahaya,” ungkapnya kesal.

 

Ketua Sinode GKI Kngmi di Tanah Papua, Pdt. Dr. Benny Giay mengungkapkan melalui enam provinsi yang direncana adalah mekarkan rasisme dan kriminalitas akan tumbuh subur dan dipelihara oleh Negara Indonesia sendiri.

 

“Seperti 20 tahun pertama, hanya dua provinsi di tanah Papua saja sudah terbukti bahwa selain rasisme dan kriminasi, kehadiran TNI dan Polri juga menjadi berbahaya bagi umat Tuhan di tanah Papua,” ujar Giay.

 

 

Reporter: Yulianus Magai

Editor: Abeth A. You

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *