Yesus versus Orang asli Papua membuahkan Kemerdekaan

 

Berpatok pada kematian orang benar

 

Oleh: Marius Goo

 

SEMUA orang akan mati adalah satu kenyataan logis yang tak terelakan. Misalnya: a) Semua manusia akan mati; b) Karno adalah manusia; maka konklusinya, c) Karno akan mati. Soal kamatian manusia adalah sesuatu yang pasti, tak dielakan oleh siapa pun. Baik kaya maupun miskin, baik yang berdosa maupun yang tidak berdosa akan sampai pada situasi terakhir yang namanya “mati”. Yang mengganggu nalar juga iman adalah kematian orang benar, dengan keyakinan bahwa kematian manusia merupakan upah dosa. Terlebih kematian yang diakibatkan oleh pembunuhan, secara langsung maupun tidak langsung, secara terang-terangan maupun tersembunyi. Kematian yang berindikasi pembunuhan selalu meninggalkan aneka pertanyaan, bahkan pertentangan, ketegangan, pertengkaran bahkan pertumpahan darah. Dalam banyak persoalan pelik di Papua, terhadap orang Papua, adalah banyak kali berhubungan dengan pembunuhan terencana atau pembunuhan teratur membuat orang Papua banyak bertanya dan terdiam dalam ketertindisan. Pembunuhan terhadap Yesus pun termasuk “pembunuhan terencana”. Bagaimana orang Papua tak berdosa dan Yesus dibunuh secara terencana? Siapa bertanggung jawab atas kematian Yesus dan Orang Papua?

 

Kematian

 

Kematian manusia adalah satu hal yang pasti, hanya kematiannya memilik cara dan bentuk yang berbeda. Di samping seseorang memahami kematian sebagai sebuah “kerinduan” karena iman”, namun banyak orang memandang sebagai kutukan. Kematian di satu sisi membawa Rahmat, misalnya Yesus dalam pemikiran penginjil Yohanes, “jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati ia hanya tetap satu biji saja, tetapi jika ia jatuh dalam tanah dia akan keluarkan tunas baru.”

 

Kematian orang Papua harus sampai pada tingkatan kematian Yesus, yakni demi keselamatan atau menyelamatkan umat yang tertindas. Apa pun bentuk kematian, setiap manusia Papua yang meninggal harus dalam sebuah “gerakan pembebasan”. Refleksi selanjutnya di mana kematian badan tidak akan pernah membunuh “jiwa, semangat revolusi”. Dalam renungan perkataan Yesus,”tubuh dapat dibunuh, namun tidak dengan jiwa.” Seperti dosa didatangkan seseorang (Adam) untuk semua orang, demikian juga kebangkitan datang dari seorang (Yesus) untuk semua orang karena kematian-Nya.

 

Pada umumnya, kematian orang benar selalu meninggalkan aneka pertanyaan. Misalnya, kematian seorang bayi, baik yang diaborsi maupun karena waktunya untuk mati. Orang selalu mengaitkan kematian dan dosa, atau mati karena dosa atau juga dipanggil sebelum berdosa.

 

Orang Papua dalam banyak kesempatan menyuarakan kematian orang Papua yang tak berdosa. Bersuara bagi rakyat yang korban demi kepentingan negara. Di mana mereka yang tak bersalah dibunuh hanya karena melawan sistem penindasan, bukan karena berdosa. Mereka diburu dan dibunuh dalam usaha mempertahankan hak-haknya, terlebih hak kepemilikan: baik hidup, dan tanah pusaka leluhur.

 

Yesus juga termasuk gabungan kematian orang Papua yang tak berdosa. Yesus mati bukan karena dosa-Nya, tetapi karena mau menebus dosa semua orang. Semua orang yang terkutuk karena dosa dan kematian, dibebas-pulangkan kembali berkat penederitaan dan kematian Yesus di kayu salib.

 

Yesus Orang Benar Yang Mati

 

Yesus orang benar disiksa, dibunuh dan mati karena dosa manusia. Dia mati demi orang banyak walaupun tidak berdosa. Dalam pengadilan di hadapan Pilatus, dalam percakapan dengan Ahli Taurat dan orang Farisi, Yesus mengatakan: “Saya tidak menemukan sedikit pun kesalahan dari orang ini”. Untuk menjatuhkan hukuman mati, Ahli Taurat dan Imam-imam kepala menyampaikan tuduhan-tuduhan palsu, namun Yesus sedikit pun tidak membantah. Yesus mengambil posisi diam.

 

Yesus dibunuh oleh pemerintah, ahli taurat dan orang Farisi dalam pertarungan kepentingan. Yesus dilihat dan dipandang dari segi manusia. Yakni Dia yang datang merampas kekuasaan, jabatan dan kepemimpinan. Para pemuka Agama dan Politik panik dan takut, jangan-jangan Yesus mengambil alih kekuasaan dan mereka tidak terpandang lagi. Demi kenyamanan, kekuasaan dan jabatan, Yesus disiksa dan dibunuh.

 

Dalam perjalanan menuju Golgota (jalan salib), Yesus disiksa tanpa menyadari kesalahannya sendiri. Semua manusia bertindak seolah penguasa atas mati dan hidup dari Yesus. Yesus dipandang sebatas tandingan. Apa lagi pengukut-Nya banyak dan makin meluas, hampir seluruh Yudea dan Galilea. Dengan itu, Herodes sebagai raja kehilangan wibawa sebagai pemimpin satu-satunya yang sedang berkuasa.

Yesus yang adalah Anak Allah dan Anak Manusia (100% Allah-100% Manusia) tidak dipahami baik oleh orang-orang sezaman-Nya, termasuk oleh para Murid-Nya. Bahkan para murid menghianati-Nya. Menghianati Gurunya yang tak berdosa, yang mengajar dan mendidik mereka menjadi ahli waris Kerajaan Allah. Yesus sendiri mengatakan, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia”. Yesus membangun Kerajaan Allah tidak dipahami secara baik oleh para pengikut, termasuk pemuka agama. Akhirnya, Dia yang benar, yang datang membangun Kerajaan Allah dibunuh secara sadis. Kalaupun demikian, demi cinta-Nya pada Allah dan manusia, Yesus dengan rela memikul salib, bahkan wafat di salib. Kematian-Nya di salib membawa berkat melimpah bagi semua bangsa manusia, ialah mempunyai arti keselamatan.

 

Kematian Orang Papua Tak Berdosa

 

Sebagaimana Yesus yang dibunuh karena diri-Nya sebagai Anak Allah, rakyat Papua yang dirinya adalah pemilik hak Ulayat tanah Papua. Tanah Papua yang kaya membuat orang lain terpukau, terpikat dan merasa iri hati. Demi merebut semua kepemilikan, rakyat Papua tidak satu pun menjadi korban. Mereka yang korban adalah mereka yang melawan ketertindasan dan bukan karena berdosa.

 

Demi memperjuangkan hak-hak hidupnya, rakyat Papua dibunuh. Pembunuhan terhadap rakyat Papua karena ingin menguasai seluruh miliknya. Rakyat Papua disiksa dan didera, bahkan disalibkan dalam pembodohan, pembohongan dan perbudakan. Orang Papua yang tak berdosa dibodohi dengan sistem dan struktur ketidakadilan, pemarjinalan dan penyingkiran. Semua terjadi secara terencana, tersistem dan terstruktur.

 

Kematian Orang Papua mesti berdampak, pemberdayaan, pemerdekaan dan penyelamatan seperti Yesus sang Guru. Siapa pun orang Papua yang mati harus berdampak pada revolusi, mengubah atau memperbaiki hidup manusia yang terbelenggu dalam derita, penindasan dan pembodohan.

 

Makna Kebangkitan

 

Secara kristiani, iman akan kebangkitan menjadi dasar. Apa pun pengorbanan, apa pun perjuangan harus berdampak pada kemerdekaan, kebangkitan. Bangkit dari kebodohan (pembodohan), bangkit dari kematian (pembunuhan), bangkit dari pemusnahan (maut). Di mana Allah menciptakan manusia karena cinta dan cinta terwujud dalam hidup. Memperjuangkan hidup adalah satu tugas utama dan pilihan satu-satunya dari Allah.

 

Yesus sendiri yang pertama bangkit dan karena Yesus manusia dapat mengalami kebangkitan. Orang Papua harus mengikuti jejak Yesus, menjadi penyelamat dengan dan melalui jalan salib. Satiap manusia Papua yang mati, harus dalam usaha revolusi, karena itulah yang ditunjukan Yesus orang benar yang diadili dengan tuduhan-tuduhan palsu.

 

*] Penulis adalah seorang Guru SD di Dogiyai

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares