MIMPI

  • Bagikan

Sore yang indah di Modio, sebuah kampung di Pegunungan Mapiha, kunikmati sore yang indah dengan duduk membaca koran yang disimpan oleh ayah. Aku sedang duduk di teras rumah yang menghadap jalan, karena rumah kami di bibir jalan. Ketika teman-teman berlalu-lalang, salah satu dari mereka singgah untuk bertegur sapa.
Kawan, sebentar kita kerumahnya martha ya. Kita harus menemaninya hingga fajar menyinsing.” Teman-teman lain mengiyakan ajakan itu, mereka berjanji untuk kerumah martha pada pukul 19:00 WIT. Saya juga berjanji akan ikut serta.

Pukul 19:00 WIT kurang sedikit, aku pamit ke Mama dan Bapa di rumah untuk menyusul ke rumah Martha. Saya juga ingin menemaninya melewati masa-masa menstruasi. Aku melewati beberapa petak rumah dan tiba di rumah Martha walau terlambat daripada teman-teman lain. Setelah salaman dan prosesi basa basi lainnya selesai, aku duduk di samping ibunya Martha.

Mama sedang menemani Marta di pondok kecil yang dipisah ini. Padahal, saat bersalaman, aku telah melihat banyak makanan di ruang tengah rumah Martha. Rasanya begitu aneh melihat Martha harus memasak sendiri makanannya. Aku mulai penasaran.
’Mama, kenapa Kakak Martha memasak sendiri?”
Mama Martha melihat kesekeliling, tak ada orang lain kecuali kami bertiga. Karena itu, Mama Martha mulai menceritakan semua hal ikhwal tentang hal ini.
Anak, Semua anak perempuan yang lahir dari Rahim suku Mee, sudah sepantasnya melakukan cara-cara seperti ini, ketika ia memasuki masa menstruasi pertama. Ia harus melakukan semua pekerjaannya sendiri, tanpa dibantu oleh siapapun sampai masa menstruasinya habis. Segala mimpi-mimpi selama masa pubertasnya, harus diingat dan ceritakan kepada orangtua. karena bagi perempuan Mee, dalam mimpi-mimpi pada masa itu, kita akan tahu, seperti apa hidup kita dimasa depan. Termasuk bertemu bakal suami di masa depan. Dulu, mama juga melakukan hal yang sama,’’ ibunya berkisah.
‘’Berapa lama harus dipisah, mengapa dipisah?’’ Rasanya aku belum mendapat jawaban yang dapat memuaskan rasa tahuku.
Selama tiga sampai satu minggu, anakku,” jawab Mama. “Marta harus dipisah karena sudah ajaran adat bahwa perempuan dengan haid dianggap dalam masa ”.

Saya yang baru mengetahui semua ini hanya termangu-mangu. Kakak Marta lalu bertanya soal Mama dan Bapa di rumah, yang saya jawab dengan senyum dan menerangkan bahwa mereka baik-baik saja. Lalu saya segera bergabung dengan teman-teman yang lain di ruang tengah. Kami menikmati makan malam yang agak mewah, dengan daging ayam di atas piring-piring nasi milik kami.
Tiba-tiba saja rasa iba segera mendekat, dan saya mengingat apa makanan yang dimasak Kakak Martha. Sayuran dan ubi rebus tanpa ayam. Karena masakan dari dapur umum tidak dapat dimakan Kakak Martha selama masa-masa ini.

Berikut ini, akan aku ceritakan kisah Marta selanjutnya.
Saya merasa perlu menuliskan ini untuk semua perempuan Mee dan Papua untuk dibaca.

Beginilah cerita selanjutnya.

Tiga malam berlalu, waktu menstruasi pertamanya selesai. Pagi itu, burung-burung bernyanyi, Martha dan keluarga sambut pagi itu dengan gembira. Martha telah terbebas dari masa kurungannya. Sambil menikmati sarapan, mereka menikmati udara pagi yang segar.
Martha, ceritakan mimpi-mimpimu di tiga malam kemarin,” ajak Mama Martha.
Lalu Martha menceritakan semua mimpinya kepada kedua orangtuanya.  Ada mimpi yang baik, tapi ada juga mimpi yang tidak baik menurutnya.
Nak, Berdoalah. Adat memang pasti nyata, tapi Kuasa Tuhan lebih nyata. Kuasa-Nya Ya dan Amin. Rancangan Tuhan atas hidupmu adalah yang terbaik,’’kata Ibu menguatkan Martha.
Martha juga meminta doa dari kedua orangtuanya.

*********

Martha semakin besar, ia menyelesaikan SMA disalah satu sekolah di Papua dan melanjutkan Perguruan Tinggi di salah satu Univeristas ternama di Indonesia. Mimpinya sudah ia lupakan. Empat tahun kuliah, Ia Lulus dengan Predikat Cumlaude. Ia mendapatkan beasiswa melanjutkan study S2 di London, Inggris.

Disana, ia bertemu banyak orang termasuk Michael, putera terbaik Papua yang sudah lebih dulu di Inggris. Ia dan Michael berteman dan akrab. Karena keakraban dan kenyamanan mereka, Martha dan Michael memutuskan hubungan mereka, bukan lagi berteman tapi lebih serius dengan status berpacaran.

Dua tahun berlalu, tiba waktunya, Martha dan Michael pulang ke Papua dengan membawa Ijazah S2. Predikat mereka sangat memuaskan.

Sesampainya mereka di Papua, Martha diterima di salah satu perusahan dengan menduduki suatu jabatan. Sedangkan, Michael memilih buka usaha café sendiri karena latar belakangnya, pendidikan ekonomi. Hubungan mereka semakin serius. Martha yakin, lelaki yang ia lihat dimimpi dulu saat menstruasi pertamanya adalah Michael.

lima tahun setelah bekerja, Martha dan Michael  merasa sudah cukup uang untuk menikah dan bangun rumah tangga.  Mereka sepakat untuk segera mengadakan acara peminangan dan pernikahan. semua berjalan lancar. Dan Mereka di karuniai dua orang anak.
Tahun-tahun pertama, keluarga mereka hidup dalam Kebahagiaan dan kedamaian. Michael semakin kaya, karena membuka beberapa cabang café dari café pertamanya.

Michael semakin hari semakin sibuk. Sampai jarang punya waktu untuk istri dan anak-anak. Namun, seiring berkembangnya usaha suaminya, Martha merasa hidupnya dilimpahi banyak uang. Namun hebahagiaan, kedamaian, ketenangan dan kepuasan hidupnya belum begitu terasa. Ia mersa hidupnya dan hidup suaminya adalah semata-mata demi jabatan, kedudukan, uang, bukan untuk kebahagiaan dan kedamaian hidup bersama anak-anak.

Suatu sore, langit menjadi begitu merah dengan siluet matahari terbenam yang indah. Martha sangat merindukan sikap Michael yang dulu. Yang romatis, penuh kejutan, dan perhatian padanya. Dari matanya yang seksi, sebening air turun membasahi pipinya. Ia merasa rumah tangganya sedang diuji. Martha merasa begitu sedih, tiba-tiba. Ia masuk kamar dan berdoa.

Seusai berdoa, Martha menuju pintu utama karena ia mendengar orang mengetuk pintu. Perlahan, Martha membuka pintu dan melihat Michael tergeletak didepan pintu dengan kondisi mabuk berat.

Segera Martha menggendong suaminya menuju kamar tidur. Michael tidur pulas. Tiba-tiba, Hp Michael berdering. Martha segera bergegas mengambil handphone milik Michael dan mengangkat telpon.

Hallo sayang, aku masih di hotel, segera kamu jemput aku yah. Sekalian bawain ATM Cardmu, aku ingin belanja sebanyak-banyaknya,’’ suara dari balik telpon itu menyuruh.
Martha lansung menutup telepon. Hati Martha sangat terpukul. Ia tak kuasa marah di depan tubuh suaminya yang terbaring tenang di ranjang akibat mabuk. Sepanjang malam ia merenungi nasibnya dan menunggu Michael bangun.
Keesokkan paginya, Martha, Michael dan kedua anak mereka duduk menikmati sarapan. Setelah anak-anak berangkat ke sekolah, mulailah Martha membuka perang.
Siapa perempuan dengan nama kontak Lisbeth? Tadi malam ia telpon di Hpmu dan menyuruhmu ke hotel menjemputnya,’’ tanya Martha tajam menusuk suaminya dari depan.

Kenapa, tidak suka? Kalau tidak suka saya mengambil Elisabeth sebagai istri, pergi saja dari kehidupanku. Dan jangan kau bermimpi bawa dua anak ini bersamamu,’’ kata  michael mengancam.

Martha paham, dirinya tidak punya kuasa dalam rumah tangga ini kecuali satu, menjadi semacam pelayan semua kebutuhan suami dan anak-anaknya. Tapi meninggalkan anak-anaknya, itu adalah pilihan terberat. Saat itu, ia mengingat mimpi-mimpinya dulu, di masa haid pertama. Semua yang dia mimpi ternyata terjadi.

*********

Semenjak Martha pergi dari rumah, kehidupan kedua anaknya terlantar.  Mereka hidup dalam tekanan sang ayah yang hanya hidup menghabiskan harta bendanya dengan Elisabeth.

Suatu waktu, kekayaaan Michael terkuras, kehidupannya mulai berantakan. Perempuan-perempuan yang telah menguras hartanya, mulai pergi satu persatu. Michael tak punya pilihan lain selain kembali kepada dua anaknya dan hidup bersama mereka.

Suatu sore langit memerah, Michael bergegas kerumah dimana dua anaknya berada. Ia menemukan kehidupan kedua anaknya yang hidup mandiri, sepeninggal ibunya telah mapan. Ia mengetok pintu. Jhon anak pertama Michael, keluar dan membuka pintu. Ia melihat ayahnya dengan wajah yang sedih, ia memeluk ayahnya dan segera mengajaknya masuk.

Malam itu, tak satu pun kata-kata keluar dari mulut kedua anaknya. Mereka nembiarkan ayah mereka merenungi hidup untuk menemukan sari-sari hidup demi kehidupan di masa depan.

Subuh, Michael membangunkan kedua anaknya. DI hadapan mereka, ia mengakui semua kesalahan dan kekeliruannya. Ia mengatakan dengan sejujur-jujurnya semua hal yang selama ini ia pendam di hadapan kedua putranya.

Kedua putranya merasa iba, kasihan, dan mulai mengajak ayah mereka sarapan. Pagi itu, mereka bertiga menyepakati, akan mencari Martha sampai ke ujung dunia. Namun, mereka telah berpisah cukup lama, 15 tahun lamanya.
Berhari-hari mereka mencari, tak ada informasi pun mereka dapatkan. Bahkan Makin bertambah hari, mereka mulai putus asa, dan kuatir. Jangan-jangan mereka benar-benar kehilangan mama yang mulai muncul arti penting kehadirannya dalam keluarga mereka. Berbulan-bulan mereka mencari, tak juga mereka ketemu. Semua harta benda mereka yang tersisa telah mereka korbankan bagi upaya pencarian ibu mereka.

Di sebuah kota kecil di pinggiran tanah Papua, setelah seharian mencari, mereka singgah untuk makan. Segera mereka pesan menu makanan dan pelayan melayani mereka dengan sangat sopan dan baik. Ada sebuah rumah indah di samping restoran itu. Penasaran dengan rumah indah dengan arsitektur kekinian di pinggiran kota kecil, Michael bertanya siapa pemilik rumah itu.
Itu milik majikan rumah makan ini,” kata pelayan.
Michael terkagum-kagum. Selama hidupnya, ia telah menghamburkan uang bagi perempuan tanpa sedikit pun berpikir untuk membangun rumah serupa di pinggiran kota, menghabiskan sisa waktu bersama anak istri, melakukan kegiatan-kegiatan sosial, dan seterusnya. Ia bagai mendapatkan inspirasi baru.
Majikan kami itu tidak hanya punya rumah makan ini. Ia punya beberapa rumah makan di beberapa tempat di kota ini, dan di beberapa kota lain,” lanjut pelayan itu menjelaskan.
Gajinya bagus?” Tanya Michael lagi.
Tidak hanya gaji. Ia juga memperhatikan kehidupan kami, mengambil keuntungan dari usaha ini sewajarnya dan selebihnya untuk kami dan panti asuhan khusus untuk menampung anak-anak jalanan.
Kata-kata pelayan ini memukul nuraninya berkali-kali. Gemanya terasa dan bergetar. Ia yang mampu melakukan hal serupa, telah menyia-nyiakan waktu dan sumber daya yang ia punyai. Ia merasa sangat sedih dan terpukul. Kedua anaknya mulai membesarkan hati Michael, bahwa keluarga mereka pun mampu melakukan hal serupa. Mereka menghibur Michael.
Ya sudah. Setelah makan ini, kita akan hentikan upaya pencarian dan akan memulai hidup baru. Kita telah mendapatkan pelajarannya siang ini,” tegas Michael kepada kedua putranya.

Begitu hendak meninggalkan rumah makan, seseorang memarkir mobil mewah di depan rumah majikan. Seorang perempuan dengan dandanan yang bersahaja, keluar dari mobil. Ia segera menuju rumah makan. Pandangan mereka tertuju ke perempuan itu. Semakin dekat, semakin mirip Martha.
Roberth, selamat pagi. Bagaimana rumah makan kita satu minggu ini?” Tanya perempuan itu kepada pelayan tadi. Segera mereka terlibat dalam pecakapan tentang rumah makan itu.
Tunggu,” kata Michael dengan tangan bergetar itu, berdiri, menghentikan langkah perempuan itu yang sudah mendekati pintu.
Demi melihat Michael dan kedua putranya, Martha tertegun. Ia menghentikan langkah kaki. Ia kenal betul mereka walau telah berpisah lama.
Mamaaaaaa….Mamaa….. Aku Rindu mama.”
Sekejap suasana menjadi haru. Ibunya memeluk Jhon dan adiknya Naftaly.
Michael bersujud dan meminta maaf atas segala perbuatannya, yang memisahkan Ibu  dan anak-anak. Mereka berpelukan.
Semua ini terjadi seperti mimpi,” kata Martha sambil menyeka air mata.
Semua yang kulakukan pada kalian seperti mimpi,” balas Michael.
Seperti dalam mimpi, akhirnya kita punya kesempatan hidup bersama lagi,” seru Jhon, anak pertamanya.

Oleh : Theresia F.Tekege

banner 120x600
  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *