Polri bubarkan paksa seminar Nasional di Museum Ekspo Jayapura, ini kronologisnya

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADEI] – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di jajaran Polresta Jayapura membubarkan secara paksa kegiatan seminar nasional dengan tema “Mencari Jalan Tengah Penyelesaian Pelanggaran HAM di Tanah Papua” Sabtu, (27/3/2021).

 

Ketua panitia seminar, Kaitanus Ikinia mengatakan, kegiatan tersebut digelar selama dua hari Jumat, (26/3) dan Sabtu, (27/3/2021). Konflik yang mengakibatkan adanya pelanggaran HAM terus saja terjadi di tanah Papua. Sampai saat ini, belum ada kasus pelanggaran HAM di Papua yang dituntaskan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

“Jumat, 26 Maret 2021 pukul 08. 00 – 17. 00 Waktu Papua, dari pagi hari Inteligen Indonesia sudah memantau tempat kegiatan dengan menggunakan mobil. Mereka terus menekan kepala museum untuk tidak boleh dilakukan kegiatan seminar. Ketika Panitia hendak lakukan persiapan, tetapi karena pihak intel Indonesia sudah menekan kepala Museum supaya kegiatan tidak boleh dilakukan,” ujar Kaitanus melalui keterangannya yang diterima wagadei.com, Sabtu, (27/3/2021).

Pelanggaran HAM telah menjadi keseharian hidup orang Papua, sementara Negara terus saja menutupinya atau tidak menyelesaikannya dengan baik dan benar sesuai dengan Hukum dan Mekanisme HAM yang berlaku.

Pelanggaran HAM di Papua telah menjadi sorotan internasional.

 

Dunia Internasional melalui berbagai Negara telah menyuarakan situasi HAM di Papua. Sampai pada tingkatan Perseriktan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Komisioner Tinggi HAM PBB, merencanakan untuk berkunjung ke Papua. Pemerintah Indonesia berjanji akan membuka akses, tetapi sampai saat ini belum membuka akses bagi KT. HAM PBB. Bahkan desakan Negara sudah mencapai 84 negara.

 

Sementara Indonesia tidak membuka akses Kunjungan itu, Indonesia terus saja mengirim pasukan militer ke Papua untuk melakukan operasi militer di beberapa kabupaten, seperti di Nduga dan Intan Jaya.

 

Melihat situasi ini, maka perlu ada upaya penyelesaiannya. Sehingga dibentuklah Panitia Seminar Nasional guna Mencari Jalan Tengah Penyelesaian Pelanggaran HAM di Papua. Oleh karena itu panitia merencanakan Seminar Sehari dalam bentuk Panel, bertempat di Museum Ekspo-Waena. Untuk kegiatan ini, Panitia sudah berkomunikasi dengan kepala Museum pada Senin, 22 Maret 2021.

 

“Panitia sudah melakukan persiapan tetapi, ketika akan melakukan kegiatan Pihak Kepolisian Mulai mengintervensi sejak Jumat, 26 Maret 2021. Dan pada hari Sabtu, 27 Maret 2021, Kepolisian Indonesia membubarkan kegiatan dimaksud,” ujarnya.

 

Berikut kronologisnya!

Kronologis I

Jumat, 26 Maret 2021, Pukul 08.00 – 17.00 Waktu Papua, dari pagi hari Inteligen Indonesia sudah memantau tempat kegiatan dengan menggunakan mobil. Mereka terus menekan kepala museum untuk tidak boleh dilakukan kegiatan seminar.

 

Ketika Panitia hendak lakukan persiapan, tetapi karena pihak intel Indonesia sudah menekan kepala Museum supaya kegiatan tidak boleh dilakukan. Panitia menunggu saja di tempat kegiatan. Sementara Tempat kegiatan sedang digunakan oleh Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem Jayapura. Panitia berkoordinasi dengan kepala museum dan PMKRI, sehingga kegiatan PMKRI dari jam 13.00 selesai pukul 17.00 Waktu Papua.

 

Pukul, 17. 00 -21.00, sore hari, petugas yang memegang kunci hendak mengunci pintu gedung museum. Tetapi ketua Panitia katakan, “Kami akan lakukan kegiatan, jadi bisa dibuka, kami akan kordinasi dengan kepala museum”.

 

Dari hasil kordinasi dengan kepala museum, disampaikan bahwa kepala Museum ditekan sehingga mengarahkan Panitia untuk bertemu dengan kepala Dinas. Dari Kepala Dinas katakan bisa dilakukan, hanya Kepala Dinas ragukan terjadi peristiwa yang tidak diinginkan, seperti peristiwa Rasisme. Jadi, Kepala Dinas katakan supaya kegiatan dilaksanakan.

Sekitar pukul, 19.20 Waktu Papua, saat persiapan sudah dilakukan dan sementara Panitia beristirahat, tiga orang Intel masuk ke gedung museum dengan alasan bertanya. “Ada pengelola Museum kah?, Kami mau pakai gedung ini minggu depan” kata salah satu Intel.

 

Ketua Panitia, Kaitanus Ikinia menjawab “Bisa ketemu langusung di rumah, kami besok akan pakai tempat ini. Bapa dorang bisa ketemu atau besok pagi bisa datang, ketemu dengan pengelola.” Setelah itu pihak Inteligen pergi.

 

Pukul, 21.00 – 23.30 WP, ketua Panitia bersama salah satu anggota Panitia bertemu lagi dengan Kepala Pengelola Museum Ekspo untuk memastikan kegiatan besok. Setelah memastikan, Ketua Panitia, Sekretaris dan beberapa anggota Panitia (12 orang) kemudian duduk disamping teras gedung museum Ekspo yang akan digunakan.

Sementara sedang duduk-duduk, Polisi Indonesia dari Polsek Heram masuk ke museum ekspo dengan menggunakan mobil kijang patroli. Mereka katakan ada perintah dari Kapolres untuk segera kosongkan (keluar) tempat.

Pihak Polisi katakan malam ini kosongkan tempat, nanti besok pagi kalian bisa lanjutkan.

 

Panitia kemudian mengikuti saran dari pihak kepolisian.

Kronologis II

Sabtu, 27 Maret 2021, pukul, 05.00 -09. 30 Waktu Papua, pagi pukul 05.00 Waktu Papua, Kepolisian Indonesia dan Brigader Mobil (Brimob) sudah menguasai tempat kegiatan. Mereka menggunakan mobil patroli, Barakuda dan truk dalmas. Mereka sudah parkir di Ekspo di pintu masuk Museum Ekspo, di jalan raya depan Mess Fak-Fak atau tempat jualan mama-mama Papua.

 

Sementara pintu pagar masuk utama museum Expo sudah dikunci oleh Kepolisian Republik Indonesia. Karena itu ketua Panitia bersama beberapa anggota masuk ke dalam lewat pintu belakang.

 

Di halaman depan Museum Ekspo sudah ada Kasat Intel Polresta Jayapura, Kasat Intel Polsek Abepura, Kasat Intel Polsek Heram dan Kapolres. Ketua Panitia bernegosiasi dengan Kepolisian Indonesia. Kepolisian Indonesia melalui Kasat Intel Polresta Jayapura Sampaikan kalau Kegiatan yang bertentangan dengan Ideologi Negara, Kami akan Tetap Batasi.

Panitia bernegosia hampir satu jam penuh. Tetapi karena intel, Polisi dan Brimob sudah kuasai tempat, mereka kemudian dengan paksa mengeluarkan ketua Panitia bersama rombongan.

 

Keterangan Tambahan

Personil yang diturunkan

Satuan Kepolisian Satuan Brigader Mobil (Brimob) kendaraan yang digunakan satu buah Barakuda, delapan buah Dalmas dan sembilan Mobil Patroli Strada. [*]

 

Redaksi

 

 

 

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *