Berlakukan Otsus untuk Jakarta: Papua Mau Merdeka

  • Bagikan

Oleh: Marius Goo

ORANG Asli Papua sudah sadar betul bahwa mereka sudah lama ditindas dan dijajah oleh bangsa Idonesia. Diskriminasi rasial, militerisasi dan pembohongan terhadap orang Papua membuat orang Papua sudah tidak percaya pada Negara Republik Indonesia [NKRI]. Bagi rakyat Papua, NKRI telah memberengggus banyak nyawa orang Papua. Dalam bingkai Indonesia tidak sedikit rakyat Papua yang telah menjadi korban. Puncak pembohongan negara terhadap rakyat Papua adalah negara memberlakukan Undang-Undang Otonomi Khusus [Otus] no. 21 tahun 2001 yang berakhir pada tahun 2021. Semua undang-undang dilanggar sendiri orang Jakarta. Karena itu, untuk keberlanjutan, atau Ketika Jakarta memaksa Otus dilanjutkan, rakyat Papua secara tegas menolak dan meminta Referendum. Kalaupun demikian, Jakarta masih bersih keras memberikan Otsus kepada rakyat Papua. Sikap terakhir yang diambil rakyat Papua dengan kebijakan Jakarta yang sepihak adalah biarkan Otsus diberlakukan untuk Jakartan dan Papua minta merdeka. Sikap inilah yang paling tepat dan paling terbaik untuk demokrasi dan keadilan terhadap rakyat Papua yang telah dikorbankan.

PEMBERLAKUAN OTSUS

Bagi rakyat Papua pemberlakuan Otus tidak sesuai hati Nurani. Bahkan sangat bertentangan dengan keinginan rakyat Papua. Di mana Rakyat Papua telah melihat dan mengalami sendiri bahwa Otsus memang sudah gagal total. Kegagalan Otsus sudah dibuktikan dengan penelitian-penelitian ilmiah oleh bapak Natalis Pigai [Mantan Anggota KomNas HAM RI], juga situasi real di tanah dan manusia Papua. Dari kenyataan, rakyat Papua menemukan bahwa semua bidang kehidupan manusia Papua menjadi yang paling terbelakang. Bahkan di era Otsus, hak-hak rakyat asli Papua dikorbankan, termasuk pulihan ribu manusia Papua meniggal.
Sepanjang 20 tahun Otsus tidak diberlakukan sesuai dengan Undang-Undang Otsus. Jakarta telah merumuskan Undang-undang Otsus secara sempurna, namun dalam implementasinya tidak sesuai denga nisi undang-undang. Dalam Bahasa orang Papua, “Orang Jakarta tulis lain, buat lain”. Orang Jakarta memperlakukan Papua tidak sesuai dengan Undang-undang Otsus.

OTSUS UNTUK JAKARTA

Dengan melihat realitas kegagalan Otsus, orang Papua mengatakan bahwa Undang-undang Otsus dibuat untuk Jakarta sendiri dan jika Otsus dilanjutkan berarti memberlakukan Otsus untuk wilayah Jakarta, karena Papua mau merdeka. Alasan dikatakan Otsus untuk Jakarta:

Pertama, Jakarta berkembang lebih maju dari Papua. Orang Papua menilai bahwa Undang-undang diberlakukan untuk Papua namun semua dana dan pembangunan untuk Jakarta. Artinya, Paua hanya menjadi pelampiasan, atau penipuan, supaya niat Papua untuk merdeka dibungkap. Otsus sebatas Undang-undang [dokumen] dikeluarkan untuk Jakarta dan pembungkaman politik bangsa Papua. Dengan dalil Otsus, Jakarta memenangkan status politik Papua Barat.

Kedua, Jakarta melanjutkan Otsus untuk Jakarta, bukan untuk Papua. Di mana melihat realitas pemberlakuakn Otsus untuk 20 tahun yang sudah berlalu, rakyat Papua menyadari dan mengetahui bahwa Otsus dilanjutkan untuk Jakarta sendiri. Otsus dikatakan diberikan untuk Papua, namun pada kenyataannya untuk membangun Jakarta untuk lebih maju, sekaligus Papua menjadi lebih termargil. Jadi Otsus dilanjutkan untuk membodohi, menjajah dan menindas rakyat Papua. Otsus tidak lain adalah “rasisme” terselubung dan halus namun berdampak buruk pada kemanusiaan rakyat asli Papua.

Dengan alasan tersebut, rakyat Papua meminta kemerdekaan. Rakyat Papua minta merdeka, supaya Otsus diberlakukan untuk Jakarta.

PAPUA MINTA MERDEKA

Rakyat Papua meminta merdeka, bukan Otsus. Apa pun alasan, rakyat Papua tetap pada posisi Papua merdeka. Otsus bukan keinginan rakyat. Otsus hanya paksaan Jakarta untuk membungkam kemerdekaan bangsa Papua. Karena itu, biarkan Jakarta menjadi wilayah khusus untuk pemberlakuan Otsus, alihkan Otsus Papua ke Jakarta, sebaliknya berikan kemerdekaan penuh untuk bangsa Papua.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *