Anak Panah adalah Atribut Budaya bukan alat Perang

Oleh: Damoye N

BUDAYA adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Anak panah termasuk budaya asli orang Papua tepatnya didaerah pegunungan Papua khusus laki-laki dan ada lagi khusus kaum wanita. Jadi anak panah merupakan alat atau benda yang biasanya dilakukan untuk berburu bukan perang. Oleh karena itu, Negara perlu mengenal arti dan makna terlebih dahulu.

Atribut budaya Papua yang unik dan elok ini negara dipandang sebagai simbol perlawanan sehingga menyita secara paksa dan dibakar. Sebenarnya negara menghormati artribut kebudayaan sebagai bentuk kehidupan manusia di Papua. Bukankah Negara Indonesia memiliki beragam budaya, suku, dan bahasa? Pantas curiga karena Papua minta merdeka tetapi manusia Papua lawan sistimnya bukan dengan manusianya.

Mengapa Negara bunuh Budaya OAP?

Sungguh aneh tapi nyata! Negara dengan sengaja membakar roh semangat orang asli Papua [OAP]. Anak Panah merupakan roh semangat seorang laki-laki asal wilayah adat Mee-pago dan La-pago. Disisi lain, anak panah merupakan alat berburuh kebutuhan sehari-hari. Tapi sayang, atribut budaya [anak punah] musnah lantaran kekejaman negara. Menurut saya, Kasus ini bukan kasus biasa-biasa, kasus ini dikategorikan dalam pelanggaran hak asasi manusia. Negara abaikan itu wajar sebab kasus-kasus Papua berdarah saja masih terpelihara dan tumbuh subur diwalayah teritori kolonial Indonesia. Bila perlu disetiap daerah di Papua tetapkan peraturan daerah [PERDA] berisi perlindungan atribut budaya Papua.

Negara segera hentikan Aparat Keamanan Sita anak panah di Papua.

Pemusnahan peralatan tradisional yang dilakukan oleh tim gabungan brimob, polisi, dan tentara. Seperti Kepolisian Resor Timika memusnahkan lebih dari 500 anak panah, 76 anak panah disita oleh aparat gabungan yang terdiri dari dua STT Brimob, satu serse, dan satu STT dari Dalmas Polresta Jayapura.

Sudah lama, bertumbuh, dan berakar menyita atribut budaya Papua namun negara membiarkan aparat bertindak semena-mena, tidak ada teguran keras kepada oknum-oknum sampai saat ini.

“Dalam tradisi adat istiadat, anak panah yang dilakukan di Papua tidak sembarang memanah. Anak panah dilakukan untuk berburu babi rusa, kuskus, dsb bukan alat memanah manusia. Oleh karena itu, Negawan/i yang terpelajar segera hentikan kekerasan terhadap atribut budaya Papua secepat mungkin”.

Oya!! Saya baru ingat maka saya tambahkan sedikit dalam tulisan ini yaitu tentang “Disita Alat Kerja”. Hal ini biasa terjadi disetiap daerah di Papua.

“Kehidupan warga di Papua tak sama dengan kehidupan warga di Jakarta, kalau di Papua : Ibu – ibu dan bapa – bapa itu kan biasa ke kebun atau hutan mereka biasa bawa alat-alat tajam untuk berkebun. Bagimana kalau alat- alat tajam mereka disita? Ini kan macet aktivitas sehari-hari, mereka mau makan apa? Jadi, hal ini juga perlu kerja keras untuk memberantas, tidak boleh diamkan karena manusia bertahan hidup karena makan, biarkan mereka berkebun dengan tenang”.

Jadi, sebagai pungkas opini ini! Para perusak, penghancur, pemusnah atribut Budaya Papua. Selamat bertindak semaumu, Anak panah memang benda mati dan tak beracun. Apa yang menabur akan tuai diakhirat.

*] Penulis adalah Generasi Koteka-Moge pemilik anak panah asal suku Mee.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares