Perempuan Papua, Perjuangan dan Papua Merdeka

  • Bagikan

Oleh: Marius Goo

 

DALAM suatu wawancara, ketika saya mau menjadikan Mama Yosepha Alomang sebagai skripsi saya di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “Fajar Timur”, mama Yosepha pernah mengidentifikasikan tanah Papua dengan tubuhnya sendiri. Dengan mengatakan “merusak tanah Papua itu merusak tubuh saya, tubuh perempuan. Merusak saya yang memberi makan saya punya ana-ana [anak-anak]. Darah saya sudah habis, tulang saya sudah mau lapuk. Saya diperkosa dan bahkan dibunuh oleh tentara dan pemerintah Indonesia.”

Bahasa yang setara disampaikan oleh Thina You dengan memasang status di Facebook. Dia pun menyamakan tanah Papua secara biologis, tubuh seorang wanita. Dalam banyak kesempatan, kita mendengar tanah Papua dipahami sebagai “keperawanan” tubuh seorang gadis yang dipermainkan oleh orang Indonesia yang tak bertanggung jawab. Di mana, kini tanah Papua sudah tidak perawan lagi, sudah dihancurkan dan masa depan orang Papua menjadi tak menentu. Di saat seperti ini, orang Papua, terlebih perempuan Papua “yang sadar” berdiri di garda terdepan melawan perempatan, pemerkosaan, eksploitasi, penjajahan dan pembunuhan.

Jati diri Perempuan

Kaum femisnis Papua tak sabar lagi dengan penderitaan yang begitu panjang, bahkan puluhan tahun. Bagi mereka, perjuangan “profetis” tidak bisa diserahkan, atau dipasrahkan begitu kepada kaum pria. Alasannya, soal hidup itu dilahirkan oleh perempuan dan perempuan yang melahirkan hidup harus bertanggung jawab.

Dalam usaha pemberdayaan dan pemerdekaan kaum perempuan Papua, beberapa hal terkait ” “budaya patriarkhat” yang mesti ditinggalkan, yakni;

Pertama, paradigma perempuan lemah. Secara mentradisi orang Papua turun-temurun memandang perempuan sebagai kaum lemah. Kelemahan ini disamarakatakan dalam semua segi. Padahal secara manusiawi, semua manusia mempunyai kelemahan, baik pria maupun wanita. Di mana, di satu sisi perempuan lemah di sisi lainnya perempuan kuat, demikian pun laki-laki. Saat ini, manusia pada kodratnya hidup untuk saling menolong, dan berdampingan. Terbukti, bahwa semua manusia memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing.

Kedua, paradigma perempuan hanya bertugas melahirkan, menyusui dan memasak makanan di dapur. Pandangan ini pun sudah dibangun lama. Pandangan ini membuat perempuan “terkungkung dan terpagar” dalam “penjara” derita dan penjajahan dominasi laki-laki. Di mana perempuan tidak merebut kursi-kursi politik, pemerintahan dan perjuangan. Kebiasaan ini membunuh “otak, hati dan fisik” kaum hawa dalam perjuangan merekonstruksi diri, keluarga dan bangsa.

Ketiga, paradigma batas studi perempuan Strata 1 (S1). Rakyat Papua dibatasi, bahkan dijajah pula dalam dunia pendidikan. Rahmat ” intelektual” yang diperoleh secara cuma-cuma mendapat tantangan, bahkan dihambat dengan kondisi rill yang tak berdampak pada perbaikan dan membuat kenyataan menjadi makin tertindas.

Kelima, paradigma iman yang bersifat “patriarkhat”. Dalam perayaan-perayaan suci yang berperan penting adalah kaum laki-laki, sedangkan perempuan ada untuk melayani dan bertugas tata laksana. Secara “dogma”, benar bahwa Allah sebagai “Bapa” dan bukan “mama”, karena itu, Bapa untuk istilah laki-laki, dan karena itu yang berperan mewakili adalah laki-laki adalah sesuai. Namun, satu sisi, kaum hawa diminta untuk melihat hal ini bukan sebagai sebuah penindasan, melainkan suatu penghayatan ini, yang tak perlu terpengaruh dalam perjuangan hidup secara nyata.

Perjuangan Papua Merdeka

Spritualitas perjuangan kaum tertindas harus dimulai dari kaum perempuan Papua. Sebab, jika direfleksikan lebih mendalam secara Teologi (Feminisme), perempuan yang merasakan secara pedih “sangat”, semua peristiwa penderitaan yang dialami orang Papua. Di mana tanah Papua disamakan dengan tubuh seorang perempuan Papua.

Perempuan Papua harus berdiri di garda terdepan dalam perjuangan. Laki-laki Papua harus membuka peluang seluasnya dalam memainkan politik di Papua. Satu keyakinan, penghianatan seorang perempuan Papua dengan bangsanya adalah “penghianatan dan pemerkosaan bagi tubuhnya sendiri”. Kaum perempuan sadar akan tubuhnya yang diperbudak, dia akan bangkit dan berjuang membebaskan tubuhnya dari perbudakan, penjajahan, pemerkosaan, eksploitasi atas tubuhnya sendiri.

Pemerdekaan bangsa Papua adalah pemerdekaan tubuh seorang perempuan Papua. Kenyataan real akan manusia Papua yang menderita adalah ketidaksadaran kaum perempuan Papua, sekaligus penjajahan kaum laki-laki dalam kebodohan dan sikap irasionalitas budaya yang “biadab” dan tak manusiawi.

Perempuan Papua kini mengharapkan penghargaan sebagai seorang manusia (perempuan) yang memiliki hati, Budi dan fisik yang dapat memperjuangkan dan memperbaiki kehidupan yang penuh penindasan dan penjajahan. Perempuan harus dibebaskan, sekaligus diberikan kepercayaan penuh untuk perempuan bertanggung jawab atas hidup dan kehidupan yang menjadi bagian dari kodratnya, yakni sebagai bervagina, dan berahim, dari sana kehidupan dilahirkan dan diadakan. Mereka yang melakukan kehidupan, mereka pula yang memperjuangkan kehidupan.

Perjuangan: Jati Diri Perempuan

Memperjuangkan kehidupan bagian yang tak terpisahkan dari tubuh seorang perempuan. Hidup itu sendiri adalah perjuangan. Dengan menjadi manusia, manusia diperhadapkan pada kenyataan rial yang jika tidak diperjuangkan, hidup menjadi tak berarti. Berjuang itu bagian dari manusia dan tak terpisahkan.

Perempuan dari lahir sampai mati berjuang mati-mati demi hidup. Melahirkan kehidupan pun berjuang mati-matian. Untuk melahirkan hidup harus berjuang, selanjutnya untuk mempertahankan hidup pun harus harus berjuang dan memerdekakan bangsa juga harus berjuangan. Antara perempuan, perjuangan dan kemerdekaan tak terpisahkan.

Perempuan harus dibebaskan dari penderitaan dan penjajahan ganda. Di satu sisi mereka menghadapi kodratnya sebagai perempuan, sisi lain mereka yang telah berkeluarga mendapat tekanan dan penindasan dari suami di dalam rumah tangga. Penindasan kaum perempuan Papua dari laki-laki Papua harus dibebaskan, supaya perempuan Papua “secara bebas dan leluasa” berjuang membebaskan penindasan kaum penjajah atas tanah Papua secara holistik.

 

*] Penulis adalah pemerhati sosial, budaya dan politik di tanah Papua

 

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *