Bahasa Mama harus dilestarikan dan abadikan selamanya

Oleh: Damoye N

SAYA mau tulis ini memandangi kenyataan yang ada di atas Tanah Papua. Beberapa tahun lalu,  viral di media sosial di Papua ada beberapa bahasa Mama Punah lantaran bahasa yang baru kita kenal. Atas dasar itu, saya beri judul tersebut.

Papua merupakan wilayah yang terletak paling timur nusantara dan saat ini bercita-cita ingin memisahkan dari wilayah hukum Indonesia dengan alasan sumber daya alam (SDM) dibor dengan mesin dan sumber daya manusia (SDM) dibunuh dengan peluru besi.

Wilayah Papua perbatasan langsung dengan negara Papua Nugini di sebelah Timur, sedangkan disebelah barat perbatasan dengan Papua Barat Sebelah Selatan dengan laut Arafuru dan disebelah Utara perbatasan dengan Samudra Pasifik. Papua dengan luas`wilayah 421.981 km2 , tertutup hutannya yang dikenal dengan nama kawasan hutan hujan tropis, hanya dapat dibandingkan dengan kekayaan yang ada di hutan Kongo di Afrika dan di wilayah Amazon Amerika Selatan.

Papua merupakan Pulau yang memiliki tujuh wilayah adat Papua yakni Tabi,  Saireri,  Domberai, Bomberai,  Animha, Lapago dan Meepago besar dengan keragaman Suku,  Ras,  Budaya Agama,  hingga berbahasa daerah yang dikenal dengan “Bahasa Mama”

Salah satunya ialah Bahasa Mama/Jatih Diri orang Papua. Di Papua memiliki beragam bahasa yang diwariskan dari nenek moyang.

Bahasa belarti sistem lambang bunyi yg arbitrer yg digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Daerah belarti bagian permukaan bumi kaitannya dengan keadaan alam dsb yg khusus seperti khatulistiwa (kutub, Padang Pasir, Pantai,  Pegunungan, dsb).  Jadi, Orang Papua katakan bahasa daerah adalah Bahasa Mama atau Jati Diri tidak bisa ditinggalkan dan keindahan menyimpan banyak cerita. Bukan hanya bentang alam yang luar bias menakjubkan, tapi dari keindahan bahasa daerahnya yang tak pernah habis.

Saya mengharapkan dengan segenap hati kepada penghuni pulau burung Cendrawasih tanpa terkecuali “Bahasa Mama terus mengunakan kapan dan dimana saja kita berada, tidak perlu mengunakan bahasa Indonesia terus”. Saat ini kondisi generasi muda mulai melupakan bahasa daerah atau bahasa Mama. Jadi,  terpenting saat ini kembali mengangkat dan menumbuhkan rasa cinta akan bahasa daerah.

“Pesan saya untuk generasi muda saat ini belajarlah untuk mencintai bahasa daerah atau Bahasa Mama sebagai harga diri dan jati dirimu karena kalau bukan kita siapa lagi”.

Ini bukti kepunahan Bahasa Mama di Papua saya lampirkan dan buka link lalu baca “Daftar Bahasa Terancam Punah, Salah Satunya di Papua” sumber: (mpublika-co-id), “Bahasa di Puncak Jaya Papua ini Terancam Punah” sumber: (news.detik.com)

“Adat istiadat yang diturunkan nenek moyang bukan kita abaikan tetapi lestarikan dan abadikan selamanya”

Bahasa-bahasa daerah yang ada di Papua paling unik dan melekat pada diri kita. Kenapa bisa punah? Padahal itu ibarat Tuhan dan Manusia tidak bisa terlupakan sedetikpun.

Menurut saya, Lupa bahasa Mama adalah lupa diri dan sekitarnya. Benar-benar hilang akal sehatnya. Siapa dia yang lupa bahasa Mama (Daerah) adalah ia bukan anak suku asal Papua karena anak Papua harus tahu bahasa daerahnya.

Saya Papua! Saya harus tahu bahasa daerahku biar lahir besar kota, biar lahir dikampung besar dikota.

Saya selalu bertanya dalam diri pada tiap memandang orang tua mengajarkan anaknya bahasa Indonesia, Ini ajaran yang salah. Saya pikir, belajar bahasa Indonesia itu gampang dan mudah tangkap saja. Akibatnya daripada itu, pola berpikir/mengungkapkan sudah terbiasa mengunakan bahasa Indonesia maka ia akan sulit dan kaku ketika berkacap-cakap dalam bahasa dan ia akan seperti orang mono dan akibat itu dia hidup ibarat tak punya bahasa jati diri akhinya bahasa Mama menunjang pada punah.

Dalam tulisan ini, saya tidak menilai siapapun tentangnya. Saya cuma mengkhawatirkan bahasa daerah punah kemudian hari pengaruh bahasa nasional, karena memandangi kenyataan beberapa daerah di Papua bahasa daerah terancam punah. Jangan sampai hal itu terjadi diseluruh Tanah Papua.

Opini ini sebagai mengingatkan agar “Bahasa Mama itu Harus Dilestarikan dan Diabadikan Selamanya”. Dan turunkan ke tiap generasi seperti nene moyang turunkan ke kita dan kita turunkan ke Generasi berikut agar bahasa daerah tidak terbatas dan dilestarikan sampai Generasi ke Generasi.

Sekian dan terimakasih. Sampai jumpa opini berikutnya.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares