Gereja Katolik Bilogai kekurangan bama untuk cukupi pengungsi

  • Bagikan

 

Intan Jaya, [WAGADEI] – Warga dari tiga kampung yakni Bilogai, Kumlagupa, dan Puyagiya telah mengungsi ke Gereja Katolik St Misael Bilogai, Kabupaten Intan Jaya, Keuskupan Timika sejak Senin, (8/2/2021). Pengungsi bahkan mencapai 600 orang, mereka tinggal di balkon gereja, pastoran, susteran dan rumah bina Bilogai, Sugapa.

Atas jumlah pengungsi yang cukup banyak ini justru pihak gereja Katolik kewalahan mendapatkan makanan dan minuman untuk penuhi kebutuhan mereka.

Hal itu disampaikan Diakon Yosep Bunai, Pr selaku Pastor pembantu di Gereja Katolik St. Misael Bilogai Dekenat Moni – Puncak, Keuskupan Timika. Menurut dia, hingga hari ketiga jumlah pengungsi terus bertambah.

“Mereka yang mengungsi itu tiga kampung, terdapat lebih dari 600 warga berlindung di kawasan gereja. Tapi sore kemarin dan pagi ini terus bertambah, kami tidak tahu jumlahnya sekarang,” ujar Diakon Yosep Bunai ketika dikonfirmasi wagadei.com, Rabu, [10/2/2021].

Bunai mengaku, pihaknya kesulitan dalam memenuhi makanan dan minuman hingga kemarin keluarkan beras 200 kilo gram milik penghuni asrama SMP YPPK Bilogai.

“Tapi 100 kilo gram beras itu cukup untuk anak dan mama-mama saja, tidak termasuk dengan laki-laki dewasa atau bapak-bapak. Ini yang kami kewalahan betul,” ungkap dia.

Ia mengatakan, pihaknya sangat merindukan untuk kembali bersekolah sebab jika tak sekolah maka nasib masa depan anak-anak Intan Jaya akan terancam. “Kami mau sekolah kembali, kasihan anak-anak kami, kantor buka, pemerintahan daerah berjalan. Aparat keamanan dan TPNPB OPM mundur, jangan baku tembak di kebun, di kampung,” ujarnya.

Pater Yustinus Rahangiar, Pr, Pastor Dekan Dekenat Moni – Puncak, Keuskupan Timika meminta agar warga tetap bertahan di areal gereja Katolik karena situasi belum juga kondusif.

“Saya akan memulangkan mereka setelah situasi sudah kondusif. Selama masih belum aman mereka akan tetap tinggal di sini (gereja dan pastoran),” kata Pater Yustinus.

Ia mengatakan, belum dihitungkan dengan para pengungsi yang ada di Gereja Katolik St. Paulus Baitapa, Kampung Puyagia. Para pengungsi ini berasal dari Bilogai, Kumbalagupa, Puyagia, dan beberapa warga di tempat lain yang datang menggabungkan diri di Pastoran karena trauma dengan kondisi keamanan sekarang ini. [*]

Reporter: Abeth A. You

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *