Dampak Internet Terhadap Kedangkalan Pola Pikir Suatu Realitas Kontemporer

  • Bagikan

Oleh: Adii Tiborius

Pengantar Suatu Komparasi

Dahulu, mahasiswa yang ingin mendapatkan referensi untuk mengerjakan tugas kuliah atau mempelajari tentang banyak hal guna memperkaya khazanah intelektual, harus meluangkan waktu untuk mencari di rak-rak buku yang ada di perpustakan. Seringkali mereka juga harus bersusah payah untuk menulis dengan tangan, yang mesin ketik manual ketik sendiri di rumah, ketika ada hal-hal yang tergolong sangat penting dan diperlukan, sementara jumlah buku yang bisa dipinjam sangat terbatas. Cara-cara manual tentu saja menjadi tak terhindarkan.

Kondisi Faktual Kekinian

Namun, keadaan itu berubah secara drastis seiring dengan revolusi di bidang teknologi informasi [IT]. Kehadiran internet disusul dengan ditemukannya mesin pencari google.com, telah membuat semuanya itu menjadi jauh lebih mudah. Untuk mendapatkan informasi ter-up date atau berbagai referensi untuk tugas akademik, mahasiswa tidak lagi harus mencari dengan susah payah di perpustakaan. Tinggal duduk di depan monitor komputer, di Hand phone buka google.com, memasukkan key word, lalu dengan mengklick sekali saja, dalam hitungan detik, semua yang memiliki hubungan dengan kata kunci yang ditulis akan muncul. Tinggal pilih mana yang diinginkan atau dirasa memiliki relevansi dengan pemenuhan kebutuhan. Mudah sekali.

Kemudahan itu membuat para pengguna internet sangat termanjakan. Tugas yang dulu membutuhkan upaya yang sungguh-sungguh dan pemikiran atau kontemplasi yang mendalam, kini bisa diselesaikan dengan cara yang terbilang sangat instan. Namun, itu tidak membuat mahasiswa menjadi semakin cerdas. Sebaliknya justru membuat pola pikir para mahasiswa menjadi dangkal. Misal saja, dahulu seorang mahasiswa yang diberi tugas oleh dosen untuk membuat makalah akan pergi ke perpustakan untuk mencari buku dan kemudian membacanya, hingga ia menemukan pemahaman; apakah memiliki relevansi dengan tugas tersebut atau tidak. Walaupun sangat banyak dan tebal buku yang harus dibaca, tapi mahasiswa tetap melakukannya demi melaksanakan tugas dari dosen.

Hal yang sama tidak akan terjadi di era internet sekarang. Kebanyakan mahasiswa saat ini lebih suka memilih untuk menggunakan jalan pintas. Dalam kasus ini, bisa dipastikan bahwa sebagian besar dari mereka hanya akan membuka google.com dan mencari apa saja yang dibutuhkan. Dan tanpa perlu membaca hingga akhir serta banyak pertimbangan, mereka akan langsung mengcopy-paste materi yang ada di internet itu dan mengganti identitas penulisnya dengan identitas mahasiswa itu. Dari sinilah praktek plagiarisme menjadi lebih marak lagi. Ironisnya lagi, tidak hanya mahasiswa saja yang melakukannya, tetapi juga tidak sedikit dosen, bahkan yang sudah bergelar profesor sekalipun. Pernah terjadi, seorang calon doktor yang batal mendapatkan gelarnya, lantaran belakangan diketahui bahwa ia menggunakan hasil penelitian orang lain. Juga pernah mencuat kasus plagiarisme yang dilakukan oleh dua calon profesor yang berasal dari Manado. Sesungguhnya, semua itu adalah bukti faktual bahwa seringkali di balik kemudahan yang ditawarkan oleh internet, terdapat efek negatifnya, yakni kecenderungan untuk melakukan plagiarisme semakin besar di segala kalangan dalam dunia akademik.

Menumpulkan Otak

Plagiarisme hanya akan semakin mempertumpul otak untuk dapat berpikir kreatif. Nicholas Carr dalam bukunya berjudul The Shallows: What the Internet is Doing to Our Brains? menegaskan tentang bahaya internet bagi otak, karena berpengaruh pada cara berpikir. Menurutnya, kurangnya wawasan mengenai bahaya internet telah membuat sebagian orang terjerumus kepada hal negatif, yaitu kecenderungan untuk mengarah kepada alam kedangkalan dan budaya instan, sehingga menyebabkan kreativitas menjadi mati. Sebab, budaya instan itu telah mendorong untuk tidak mau menggunakan otak untuk berpikir secara maksimal. Memang, tidak ada aturan yang melarang untuk percaya pada internet. Namun, jika internet hanya akan semakin memperdangkal pikiran dan kreativitas, serta mendorong untuk melakukan plagiarisme, maka lebih baik meminimalisir penggunaannya.

Sesungguhnya, membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari kegiatan akademik dan komunitas ilmiah. Membaca adalah pintu gerbang yang akan mengantarkan kepada kemampuan menulis. Tidak akan ada yang bisa ditulis jika tidak ada bahan-bahan yang ditulis. Dalam konteks ini, membaca dan menulis sangat penting artinya bagi orang yang dikarunia mata untuk melihat dan otak untuk berpikir. Dan agar semuanya bekerja optimal, maka akan lebih baik dan bermanfaat jika kedua anggota tubuh itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk selalu membaca dan kemudian menuliskan apa yang dipahami dari bacaan itu.

Akhirnya, internet sesungguhnya telah banyak membantu manusia, utamanya mahasiswa dalam melaksanakan tugas-tugas perkuliahan dari dosen. Namun, tidak dapat dipungkiri pula bahwa internet juga memicu tindak plagiarisme yang menyebabkan kedangkalan berpikir dan membuat jadi tidak kreatif. Oleh karena itu, kiranya budaya membaca dan menulis harus digalakkan. Sebab, keduanya akan melatih otak untuk terus berpikir. Semakin berpikir, maka akan semakin cerdas dan kreatif, sehingga mampu menambah kepercayaan terhadap kemampuan diri dan akan semakin jauh dari plagiarisme yang merupakan “dosa” terbesar dalam dunia akademik.

*] Penulis Adalah Permerhati Pendidikan Sosial di Daerah

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *