Surat kecil dari pengungsian kepada Jakarta

  • Bagikan

Oleh: Damoye Nor

Kepada Yth;
Bapak Presiden RI, Ir. Joko Widodo

Di Jakarta

Perihal: “Jakarta segera hentikan kekerasan jelang Natal di tanah Papua dan kembalikan pengungsian ke rumahnya untuk rayakan Natal”

Syallom.

Toleransi atau toleran secara bahasa kata ini berasal dari bahasa latin tolerare yang berarti yang berarti dengan sabar membiarkan sesuatu. Pengertian toleransi secara luas adalah suatu perilaku atau sikap manusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana seseorang menghormati atau menghargai setiap tindakan yang dilakukan orang lain. Istilah Toleransi mencakup banyak bidang, salah satu-satunya adalah Tidak melarang ataupun mengganggu umat agama lain untuk beribadah sesuai agama atau kepercayaan masing-masing.

Undang-Undang Dasar [UUD] 1945 Pasal 29 Ayat 1 dan 2 menyatakan bahwa [1] Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa; serta [2] Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu.

Rumusan tersebut, menurut penulis, Didalam tulisan Berbagai Dimensi Kerukunan Hidup Umat Beragama di negri ini. Bulan Desember adalah bulan suci dan damai untuk menyambut sang juru selamat yang datang tepat pada 25 Desember bagi Umat Kristen se-dunia. Oleh karena itu, saya menegaskan bahwa “Negara sangat penting menghormati dan memberi jaminan keamanan mantap bagi setiap Umat di Tanah Papua dalam memperingati Hari Kelahiran Tuhan Yesus. Dan demikian, Agama lain pun.

Warga Nduga Papua rindukan rayakan Natal seperti sebelumya.

Setelah dua tahun ribuan warga Nduga hidup di pengungsian, mereka rindu kembali ke kampungnya. Merayakan Natal tahun bersama sanak keluarga, seperti pada tahun tahun sebelum mereka mengungsi. Pekerja kemanusiaan untuk pengungsi Nduga.

Ribuan warga Nduga Papua sudah dua kali perayaan Natal di tenda-tenda pengungsian sehingga saat belum bisa kembali merayakan natal seperti biasa. Dimana sikap toleransi Negara, Kapan negara menjamin keamanan bagi Rakyat sedang mengungsi. Mereka ingin Rayakan natal dengan tenang dan bergembira.

Kepada yang terhormat, Bapa Presiden RI, Ir. Jokowi “segera hentikan kekerasan terhadap umat Tuhan di tanah Papua jelang Natal”.

Apa itu Natal, Natal dari bahasa Portugis yang berarti “kelahiran” adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Natal dirayakan dalam kebaktian malam pada tanggal 24 Desember; dan kebaktian pagi tanggal 25 Desember.

Oleh karena itu, Pemerintah Pusat [Pempus] di Jakarta segera hentikan operasi militer gabungan, dan saya meminta memberi jaminan keamanan yang luar biasa bukan kekerasan luar biasa. Selama ini saya menilai Pemerintah Pusat tidak menghargai sila [1]. Ketuhanan Yang Maha Esa. Kapan menghormati dan menghargai memeluk agama lain untuk beribadah sesuai keyakinan dan kepercayaan masing-masing.

Sementara menjelang Natal ini warga Nduga Papua dari pengungsian menelepon dan menceritakan bahwa “kami rindu rayakan Natal ini dengan aman, damai, sukacita dan penuh gembira tanpa gangguan apapun, kami rindu kembali ke rumah untuk rayakan Natal ini” suara tangis dari tenda-tenda pengungsian Nduga, Papua.

Pempus segera tarik kembali TNI dan Polri yang sedang beroperasi di Nduga dan daerah lain di Papua. Jangan salahkan OPM TPN-PB jika TNI dan Polri tarik kembali pasti aman.

Pempus segera memberi kenyamanan bagi pengungsian di Tanah Papua agar kembali rayakan Natal di rumah masing-masing.

Saya hanya bisa bersuara melalui kata-kata buat saudara-saudariku ditenda-tenda Pengungsian di Tanah Papua.

“Surat kecil dari Pengungian di Tanah Papua”

Terimakasih.

*] Pengirim adalah peduli kemanusiaan Papua

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *