Peringati HUT Negara West Papua, ULMWP Meepago umumkan hari-hari besar

 

Nabire, [WAGADEI] – The United Liberation movement for West Papua (ULMWP) Wilayah Meepago telah gelar ibadah dalam rangka memperingati hari ulang tahun Kemerdekaan Republik West Papua ke 59 di Nabire, Selasa, [1/12/2020].

Parlemen Nasional West Papua PNWP Wilayah Meepago, Nawipa Habel menjelaskan, diadakannya kegiatan ulang tahun karena dunia internasional bahkan, juga kolonial Indonesia sudah mengetahui bahwa tanggal 1 Desember adalah hari kemerdekaan Negara Republik Papua Barat.

“Mulai dari tahun 1961 hingga sampai detik ini, saya mulai mengangkat dan menceritakan sedikit dari tahun 1961 bawah. 1961 ini adalah hari bersejarah di mana secara defakto menyatakan sikap bawah Papua harus merdeka di bawah kolonial Belanda. Tetapi oleh karena kepentingan membuat 1963 ini dikomandankan yang disebut Trikora untuk membunuh nasib hidup bangsa West Papua yang dideklarasi 1961 ini,” ujar Nawipa dalam sambutannya.

Ia mengatakan, kesempatan tahun 1961 menyatakan bahwa negara yang dibentuk oleh Belanda untuk West Papua adalah negara boneka buatan Belanda sehingga di situlah benar dihancurkan oleh Indonesia untuk nasib hidup bangsa West Papua.

“Mulai sampai 1969 itulah rekayasa dan manipulasi dalam pelaksana Pepera 1969 hingga dalam New Agrimen itu lima tahun Indonesia menjajah, Indonesia membina, membimbing dan Indonesia bangsa ini tetapi ada satu yang perna diungkapkan oleh Soekarno bahwa saya membina bangsa yang primitif itu betul-betul serius diterima oleh Karel Gobai, dia adalah seorang Wakil Bupati dan dia termaksud juga adalah dewan New Guinea Raad,” katanya menceritakan sejarah.

Dalam perjalanan hidup selama lima tahun Indonesia di Papua lanjut dia, kekerasan dari TNI dan Polri mulai melakukan sampai semua bangsa itu hancurkan oleh Indonesia.

“HUT yang ke-59 ini kami tetap pada posisi dengan UUDS yang sudah ditetapkan dalam sidang komite legislatif ULMWP pada tanggal 12 Oktober dan diumumkan pada  20 November 2020. Walaupun begitu banyak ancaman dari pihak kapitalis, inperalis dan militerisme kolonial Indonesia, tetapi kami percaya bahwa Tuhan bersama dengan kami umatnya bangsa Papua Barat,” katanya.

Dalam perjalanan perjuangan pembebasan nasional memiliki latar belakang sejarah dan peristiwa-peristiwa bersejarah dalam dalam perjuangan pembebasan nasional West Papua.

Berikut hari-hari bersejarah yang harus diketahui:

1 Desember 1961 – Hari Penetapan simbol negara Papua dan Hari kenaikan bendera Bintang Kejora. Atau lebih dikenal dengan hari lahir menifesto politik bangsa Papua.

19 Desember 1961 – Soekarno berpidato Trikora di Yogyakarta untuk membubarkan negara yang baru merdeka berumur 18 Hari.

15 Agustus 1962 – Perjanjian New York dibuat tanpa dilibatkan orang asli Papua [OAP].

30 September 1962 – Perjanjian Roma, di Roma, Italia tanpa keterlibatan orang asli Papua.

1 Oktober 1962 – United Nations temporary executive authority (UNTEA) menduduki Papua, selanjutnya diserahkan kepada Indonesia.

1 Mei 1963 – Hari dianeksasi kepada indonesia oleh UNTEA, padahal sesuai perjanjian New York UNTEA harus berada di Papua sampai dilakukan referendum (PEPERA 1969).

1965 – Pendirian OPM Arfai, Manokwari.

7 April 1967 – Kontrak karya PT. Freeport ditandatangani oleh Soeharto setelah dilengser Soekarno dan sebelum 2 tahun orang Papua melakukan Pepera tahun 1969 sesuai perjanjian New York.

Tahun 1969 – Dilakukan Pepera yang penuh manipulatif dan militeristik Indonesia.

1 Juli 1971 proklamasi negara West Papua oleh Zet Yafet Rumkorem, Pray, Tagahma dkk, di Victoria Waris, tanah Tabi.

16 April 1984 – Arnold Clemens Ap seniman dan budayawan Papua dibunuh oleh Kopassus Indonesia.

14 Desember 1988 – Proklamasi negara Melanesia Barat dengan bendera Bintang 14 dilakukan oleh Dr. Thomas Wapai Wainggai, setelah itu ditangkap dan dipenjarahkan seumur hidup di Jakarta dan meninggal di dalam tahanan.

29 Mei –  4 Juni 2000 – Konggres Rakyat Papua II,  di Gedung Olahraga Cenderawasih Jayapura.

6 Desember 2014 – Lahirnya United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) di Vanuatu atau sering disebut dengan deklarasi Saralana.

Ketua Gerakan Komunal (GK) West Papua daerah Nabire Yoelian Bunai mengatakan banyak nyawa yang sudah korban, bahkan yang masih hidup di teritorial West Papua rintangan dan penghalangan untuk susah hidup damai dan sejahtera di atas tanah sendiri.

“Kami tetap memperingati karena hari lahirnya embrio negara bangsa Papua Barat dari Sorong sampai Merauke, rakyat Papua Barat tetap merealisasikan sebab itu hari kemerdekaan bangsa Papua,” ungkapnya. [*]

Reporter: Yulian Bunai
Editor: Uka Daida

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares