Menjadi Bupati di tengah konflik, tantangan paling berat

  • Bagikan

 

 

Jayapura, [WAGADEI] – Akhir Desember 2019, Kabupaten Nduga dilanda kekerasan. Sebagian warga masyarakat meninggalkan wilayah itu demi menghindar dari konflik. Bupati Yairus dan wakilnya Wentius Nemiangge dibuat pusing menyusul konflik yang melanda warganya yang bermukim di sekitar Taman Nasional Lorentz.

Terkait kematian Bupati Nduga, Papua, Yairus Gwijangge mendapatkan tanggapan kesedihan dari Dewan Adat Papua (DAP). Menurut John NR Gobai, sekretaris II DAP,  menjadi Bupati di daerah konflik seperti Nduga dan Intan Jaya adalah sebuah tantangan yang penuh dengan terganggunya bathin, sakit hati, fitnah dan penuh curiga.

“Saya sedih mendapatkan berita duka kematian pak Bupati Nduga. Jadi menjadi Bupati di daerah konflik apalagi konflik yang berkepanjangan itu tantangannya sangat berat. Ketika semua permintaan agar daerah kembali aman dan damai tidak didengar oleh semua pihak tentu batin menjadi tersiksa dan mengganggu fisik pemimpin yang mau melayani tanpa ada konflik di daerahnya,” ungkap John NR Gobai, Minggu, (15/11/2020) di Jayapura.

Atas konflik yang berkepanjangan di Nduga, ia mempertanyakan, adakah telinga dan hati dari manusia yg mendengar keluhan hati pemimpin daerah di Papua yang masih konflik.

“Adakah manusia yang berniat berbicara dari hati hati tanpa bicara dengan senjata dengan orang Papua?,” ujarnya bertanya.

“Hanya Tuhan yang pasti menjadi harapannya, sandaranya agar daerahnya bisa menjadi aman dan damai, tanpa bunyi bunyi senjata, tanpa menghitung korban penembakan,” katanya.

Bupati Nduga Yairus Gwijangge dikabarkan berpulang kepada Tuhan di sebuah rumah sakit di Jakarta, Sabtu, (1411/2020) kemarin.

Ansel Deri, mantan staf Diaz Gwijangge saat anggota DPR RI tahun 2009-2014 mengatakan, natal 2019 adalah momen paling buruk bagi sebagian warga Nduga yang mayoritas umat Kristiani merayakan Natal, hari raya keagamaan umat Kristiani. Tak hanya Presiden Jokowi dibuat sibuk. Para menteri pun disita waktu dan tenaganya; memalingkan wajah ke Nduga guna mencari alternatif solusi sebelum warga Nduga terjerembab dalam ketidakpastian.

“Kemarin, orang nomor satu Nduga itu tutup mata selamanya. Kini, kabupaten yang berbalut pesona Lorentz, taman nasional jumbo di Asia Tenggara itu segera dikendalikan wakil bupati Wentius Nemiangge. Selamat jalan, pace Yairus. Bahagia di surga. Tete manis sayang engkau dan diberikan ketabahan bagi masyarakat yang ada di tempat pengungsian,” katanya. [*]

Reporter: Enaakidabii Carvalho

Editor: Uka Daida

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *