PHP Dev Cloud Hosting

Pewarta Katolik di Intan Jaya ditembak mati, KWI dan Vatikan terkesan diam

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADEI] – Pasca ditembaknya Rufinus Tigai, seorang pewarta  gereja Katolik di stasi Jalai, Paroki St. Misael Bilogai, Deenat Moni Puncak, Keuskupan Timika terbilang Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Vatikan Roma diam diri. Banyak pihak agar agar segera sikapi peristiwa ditembak matinya Rufinus Tigau pada Senin, [26/10/2020] lalu.

Salah satunya dating dari Dewan Adat Papua (DAP). Pihaknya menilai tak ada satu pernyataan keras yang dikeluarkan dari KWI maupun Vatikan untuk melindungi para hamba Tuhan dari gereja Katolik yang masih hidup di dunia, khususnya Papua.

“Satu pewarta Agustinus Duwitau ditembak tapi masih hidup, yang satu Rufinus Tigau sudah meninggal dunia. Kami ikuti selama ini tidak ada pernyataan resmi dari KWI maupun Vatikan. Jangan sampai Pastor jadi sasaran, mestinya harus ada pernyataan keras dulu,” ujar John NR Gobai, sekretaris II DAP saat menghadiri doa bersama dan pembakaran lilin dari solidaritas muda Katolik di STFT Fajar Timur Abepura, Sabtu, [14/11/2020].

KWI adalah organisasi Gereja Katolik yang beranggotakan para Uskup di Indonesia dan bertujuan menggalang persatuan dan kerja sama dalam tugas pastoral memimpin umat Katolik Indonesia.

“Jangankan KWI dan Vatikan, lima Uskup se regio Papua terlihat diam. Sangat sunyi senyap. Saya harap anak muda Katolik jangan diam, harus terus bersuara. Kita tidak boleh tunggu Pastor jadi sasaran baru mau bersuara, ini jangan,” kata dia.

BEM STFT Fajar Timur, Fr. Darius Marian, Pr mengatakan, pihaknya menggelar acara doa bersama dan pemasangan lilin merupakan bentuk solidaritas kemanusiaan yang terjadi di Intan Jaya, Nduga dan seluruh tanah Papua.

“Kami tergerak hati atas kejadian di Intan Jaya, kami sangat terpukul dengan tindakan kekerasan ini. Jadi sebagai bentuk solidaritas kami lakukan doa dan pemasangan lilin ini,” kata Marian.

Ketua PMKRI St. Efrem Jayapura Wakol Yelipele mengatakan, pihaknya mendukung semua upaya yang dilakukan pihak gereja Katolik demi keadilan di tanah Papua, khususnya Intan Jaya.

“Presiden Jokowi harus menarik kembali semua pasukan TNI, organik maupun non organik, juga Kepolisian. Tidak boleh ada sana (Intan Jaya,” katanya. [*]

Reporter: Abeth A. You

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *