Tujuan Aksi ke MRP Namun Dihadang Aparat Keamanan, Ini Kronologisnya

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADE] – Mahasiswa Universitas Cenderawasih [Uncen] dan rekan lainnya dari beberapa perguruan tinggi di Kota Jayapura sert masyarakat Papua menggelar aksi, Selasa, [27/10/2020] penolakan perpanjangan Otonomi Khusus [Otsus] jilid II 2021.

Para demonstran akhirnya dihadang TNI, dan Polri di seputaran Waena; Ekspo dan Perumnas III, distrik Heram, Kota Jayapura.

Kronologis dari wartawan wagadei.com melaporkan bahwa entah pendemo di Ekspo maupun putaran taksi Perumnas III dan gapura kampus Uncen baru berlangsung damai, namun tiba-tiba menjadi darurat lantaran keberadaan aparat keamanan sejak pagi dan kedatangan TNI dan Polri ketika demo berlangsung.

Pukul 06.30 WP, ketiga kordinator lapangan atau Korlap di ekspo arahkan massanya supaya harus patuhi aturan aksi dengan damai dan tunjukkan identitas mahasiswa seutuhnya.

“Dengan tujuan kami ke MRP untuk menyampaikan dan memberikan aspirasi rakyat dan stegmen mahasiswa bahwa telah gagal, maka Otsus jilid II 2021 tak boleh diperpanjang. Tapi pihak TNI dan Polri ambil tempat di titik kumpul massa aksi Ekspo pukul, 7.31 WP, itu sebelum turun oleh seluruh massa aksi dari asrama Intan Jaya,” kata korlap Ekspo.

Pukul 08.19 WP, massa aksi turun di jalan pukul, 8:19 WP, lalu pihak Polisi dan TNI kaget langsung palang jalan secara berlapis-lapis. Kemudian, massa aksi mulai orasi secara berhadapan yang sangat akrab dengan pihak aparat keamanan.

Ketika pihak TNI telah intervensi tolak massa aksi untuk menuju ke tujuan MRP, korlap arahkan massa aksi untuk cari jalan keluar menuju ke massa aksi yang di Perumnas III agar bergabung bersama di jalan masuk asrama Yahukimo dan asrama Paniai Perumnas III.

“Di situ juga pihak TNI POLRI tutup dalam kurungan sehingga masa aksi tidak bisa keluar di jalan raya, apalagi menuju di tempat tujuan sangat tidak bisa,” katanya.

Antara setiap korlap dengan pihak TNI POLRI tawar menawar untuk massa aksi harus ke tempat tujuan di MRP. Korlap pun sangat keras sehingga TNI Polri mulai muncul emos dan langsung keluarkan gas air mata. Dalam keadaan itu, semua mata dari orang pedis dan ada pula dapat luka-luka.

“Yang dapat luka-luka baik itu tembak dari pihak TNI Polri maupun gara-gara lari diri ada delapan orang ialah Zaking Sukuniap, Rprien Zool, Anace Degei, Namar Bayage, Abraham Heluka, Erson Bayo, Serogo mumpo, Paus Bayage dan ada lain juga banyak.

Lanjut, kronologis massa aksi di Uncen gapura bawah mengatakan, kami di buarkan oleh pihak TNI Polri dan nama-nama yang dapat ditahan di Mapolsek Abepura secara keseluruhannya ada 14 orang yaitu, Apniel Doo, [korlap Abepura], Yanias Mirin, Charle Siep, Arkilaus Lakon, Laban Hiluka, Orgenes Kabak, Mariko Kabak, Rafael Mere, Ones Sama, Donny Pekei, Alusilius Magai, Jhon Fredi Tebai, Yabet Lukas Degei dan Kristianus Degei selaku penanggungjawab.

“Kolonial Indonesia di Papua bukan mengayomi dan bukan sebagai keamanan sesuai UUD bersama rakyat, melainkan ternyata TNI Polri mebunuh dan memperkosa terhadap kepentingan dan berhak oleh rakyat sendiri di Papua,” ujar Kristianus Degei, selaku penanggungjawab aksi.

Direktur LBH Papua, Emanuel Gobai, SH, MH mengatakan, ketiga belas orang yang ditahan telah dibebaskan dari Mapolsek Abepura sore ini.

Reporter: Hendrikus Gobai Kadepa
Editor: Aweidabii Bazil

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *