Kasus Intan Jaya, Pastor Yogi Tegaskan Media Massa Harus Cek Ke Lapangan

Deiyai, [WAGADEI] – Kematian Rufinus Tigau, seorang katakis atau pewarta gereja Katolik stasi Jalae, Paroki Bilogai, Dekenat Moni – Puncak, Keuskupan Timika masih banyak media massa yang salah memberitakan. Beberapa media itu publikasikan bahwa ditembaknya Rufinus oleh TNI merupakan informasi tidak benar atau hoax dengan narasumber dari pihak otoritas.

Menanggapi itu, Pimpinan Gereja Katolik Dekenat Moni – Puncak Keuskupan Timika Pastor Yance Yogi, Pr mengingatkan kepada semua media massa yang ada di Papua maupun Indonesia agar harus mengecek kebenaran di lapangan atau tempat kejadian agar ada kebenaran dalam pemberitaan.

“Saya pimpinan gereja Katolik Dekenat Moni – Puncak mulai dari Kabupaten Intan Jaya, Puncak dan Puncak Jaya mau ingatkan kepada semua media atau wartawan agar tidak sekedar menulis pernyataan pihak yang memiliki otoritas, melainkan juga turun ke lapangan atau telepon kami sebagai pimpinan gereja Katolik untuk mengecek kebenaran tentang ditembaknya Rufinus Tigau. Dia adalah seorang Katakis stasi Jalae, Paroki Bilogai,” ungkap Pastor Yance Yogi, Pr kepada wagadei.com, Selasa, [27/10/2020].

Menurut Pastor Yogi, Rufinus Tigau merupakan bawahnya yang bekerja di stasi Jalae benar ditemukan tak bernyawa.

“Jadi dia [Rufinus] bukan KKB atau TPN-PB, dia murni katakis. Dia anak buahku yang ada di Jalae. Dia sudah bertugas sebagai katalis menjelang lima tahun. Dia benar-benar Katakis atau pewarta gereja Katolik. Jadi dibilang anggota TPN itu sangat tidak benar,” katanya.

Ia mengaku, pihaknya selalu terbuka diri untuk menyampaikan informasi yang baik kepada siapapun, apalagi wartawan. “Setidaknya jurnalis memiliki hubungan kontak dengan kami, tokoh agama atau masyarakat seperti kepala kampung agar mendapat gambaran yang terjadi lapangan,” katanya.

“Jadi saya sampaikan ini karena selama ini saya ikuti semua pemberitaan di media massa itu pro otoritas. Padahal mereka juga menyampaikan informasi yang berasal dari pihak lain. Nah, kami ada di lapangan. Tentunya tanya kami juga,” ungkapnya.

Dilansir Jubi, Pastor Marten Kuayo, Administrator Diosesan Keuskupan Timika membenarkan kejadian yang menewaskan Rafinus ini.

“Benar, saya baru dapat laporan dari Pastor Paroki Jalae bahwa Rafinus meninggal karena ditembak. Dia dituduh sebagai anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat [TPNPB]. Tidak benar itu. Rafinus sudah sejak lama menjadi pewarta gereja Katolik di Jalae,” kata Pastor Marthen kepada Jubi, Senin [26/10/2020]. [*]

Reporter: Abeth A. You

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares