Mama Assa Kayame, Guru Rakyat dari Obano

  • Bagikan

Oleh: Adii Tiborius

PENDIDIKAN untuk semua [Education For All] adalah bertalian dengan amanat Undang-Undang bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan yang layak. Realitas menunjukkan bahwa pada tataran implementasinya dua kutub pendidikan seperti pendidikan nonformal dan informal tidak digarap secara maksimal. Jika demikian siapa bertanggungjawab? Entahlah dalam penulisan ini hendak menampilkan secercah pemikiran dari seorang ibu rumah tangga bernama Assa Kayame yang memiliki komitmen tinggi untuk mendidik rakyat di Obani, Distrik Paniai Barat, Kabupaten Paniai.

Menurut perbincangan dengan mama Assa Kayame yang dikenal dengan sebuah julukan ‘Guru Rakyat’ sapaan seperti ini dilontarkan oleh para warga belajar yang ia didik setiap sore hari. Ucapan spontan dari ibu dari lima`anak ini awal mula`munculnya keinginan untuk mengajar adalah sebuah karunia yang langsung Tuhan berikan kepadanya. Mama Kayame yang kesehariannya rajin membaca Alkitab ini mengutarakan bahwa ia tidak pernah sekolah pada jenjang Sekolah Dasar [SD] sekalipun, tetapi dirinya punya Tuhan yang memberikan karunia sehingga diajari kepada masyarakat yang sama sekali tidak tahu membaca, menulis, dan menghitung atau M3.

Ketua kaum ibu sidang jemaat Emanuel Ikotu klasis paniai Barat ini berujar bahwa sejak pertama sekali ia muncul keinginan lantaran para kaum ibu ini tidak bisa membaca Alkitab justru tidak tahu baca dan tulis.

“Setelah pulang ke rumah, saya berpikir panjang lebar mengapa warga jemaat lain tidak tahu baca, sedangkan saya bisa membaca. Kerinduan seperti ini semakin membara dalam hati nuraniku,” katanya.

Ketika itu pula langkah kongkrit yang ditempuh adalah mengajar kepada suaminya Yusup Mote dan anak kandungnya Orison Mote yang kini mengenyam pendidikan di jenjang pendidikan sekolah lanjutan pertama atau SMP. Menurutnya, tugas pokok sebagai ibu rumah tangga tidak bisa dilepaskan dan ia manfaatkan adalah mengajar kepada warga belajar.

Selanjutnya orang pertama yang diajar selain suami dan anak kandungku adalah empat orang ibu rumah tangga. Di sela-sela waktu mengajar penulis mendatangi dan secara polos mengakui bahwa dalam proses belajar dan mengajar ia tidak biasa menggunakan media pembelajaran dan atau buku- buku penunjang lainnya sebagai acuan dasar, tetapi materi dan metode ajar muncul dalam hati kemudian ditransferkan kepada warga yang ingin belajar. Dengan polos juga ia mengakui bahwa dalam proses belajar ini dirinya mengandalkan Tuhan.

“Jadi sebelum ajar selalu saya buka dengan doa, lalu ditutup dengan doa juga,” ucapnya.

Anak pertama dari Dewaituma Kayame ini menuturkan bahwa di sekolah formal dari SD sampai SMP dan SMA itu ajar sampai enam tahun untuk SD dan tiga tahun bagi SMP serta SMA tetapi untuk warga belajar yang diajar hanya empat tahun sudah pintar membaca dan menulis. Kemudian setelah ditamatkan lalu idterima warga belajar yang baru. Istri dari Yusup Mote ini juga mengatakan bahwa soal honorarium setiap ia ajar dibedakan bahwa khusus yang ibu-ibu janda tidak diminta honor sedangkan yang bersuami istri dan yang dianggap mampu ia minta upah ajar Rp.20.000 setiap warga belajar. Sedangkan Honor dan bantuan dari luar seperti dari pemerintah hingga sekarang tidak pernah diperhatikan soal honor dan peralatan belajar lainnya.

Sejak itu juga ia berujar bahwa sejak tahun 1984 sekelompok ibu-ibu datang ke rumah untuk meminta diajar. Anehnya sejak datang ke rumah ia melontarkan dua pertanyaan pada calon warga belajar antara lain mau selesai enam tahun ataukah empat bulan? “Jika enam tahun, saya tidak tahu tetapi kalau diajar selama empat bulan saya mampu ajar,” katanya seraya menambahkan kedua pertanyaan seperti ini dilontarkan lalu para warga belajar menjawab dengan perasaan tegang kemudian memilih hanya empat bulan saja.

Kemudian setiap tahun saya ajar hanya dalam empat bulan saja diantaranya tiap bulan Februari, Maret, April, Mei, Juni dan Juli. Mama yang postur tubuhnya kecil ini membeberkan bahwa metode yang dia biasa gunakan dalam mengajar adalah menggunakan pengenalan secara huruf – angka – angka dan mengejah antara huruf hidup dan huruf mati yang lazim disebut vocal dan konsonan. Siasat lain yang digunakan dalam proses ajar adalah diajar dalam dua versi bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Mee.

Selanjutnya penulis bertanya secara spontan mengatakan; “Dari tahun 1984 sampai tahun 2006 saya telah ajar sebanyak 98 orang dan mereka semua sudah pintar membaca dan menulis serta menghitung,”.

Ia menargetkan dengan kemampuan baca, dan tulis yang dimiliki para warga belajar diharapkan mampu membaca Alkitab. Dalam tahun ini akan diajar 10 warga belajar tanpa honor dari siapapun. “Harapan saya paling kuat bahwa diakhirat saya akan mendapat imbalan yang setimpal dari Allah yang mempunyai seluruh alam raya ini beserta manusia,” ujarnya.

Dalam pada penuturan terakhir ketua kaum ibu ini mengharapkan perhatian yang realistis dari Pemerintah Daerah Provinsi Papua lebih khusus Pemerintah Kabupaten Paniai. “Oleh karena saya ajar ini membantu program pemerintah,” kata dia.

Mama Kayame bilang; “Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan bahwa kedepan akan ada program pemerintah, ternyata hingga kini ada program pemerintah tentng pemberantasan buta huruf. Jadi saya harap sekali lagi perlu sekali ada perhatian yang seriuas dari pemerintah terutama Dinas P dan P kabupaten Paniai,” katanya berharap. Semoga!

*] Penulis adalah Pemerhati Pendidikan Non-formal di daerah

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *