Kami Punya Martabat Bukan KKB, Separatis, dan Makar

 

(HARUSKAH kita, rakyat dan bangsa West Papua terus-menerus TUNDUK atas perilaku penguasa Indonesia keturunan ular beludak yang merendahkan martabat kemanusiaan kami sudah memasuki lebih dari lima dekade ini? Mitos KKB, mitos separatis, mitos makar itu diproduksi dan milik penguasa Pemerintah dan TNI-POLRI. Karena mitos KKB, mitos separatis, mitos makar itu belum pernah ada dan hidup dalam kehidupan Orang Asli Papua di Tanah Melanesia sebelum tanggal 1 Mei 1963.)

Oleh Dr. Socratez Yoman,MA

“Kami manusia bermartabat yang hidup di atas Tanah pusaka kami. Kami bukan KKB, separatis, makar. Hargai kami sebagai manusia. Jangan merendahkan martabat kemanusiaan kami di atas Tanah leluhur kami sendiri. Hargai dan hormati kami sebagai manusia, kami pun hargai dan hormati Anda.”

Leluhur kami tidak mewariskan nama kami KKB, Separatis, Makar. Orang tua kami tidak menyembut kami KKB, separatis, makar. Tuhan kami tidak menyebut kami KKB, separatis, makar. Misionaris asing tidak mitoskan kami KKB, separatis, makar.

Alkitab tidak menyebut kami KKB, separatis, makar. Alkitab mengajarkan kami manusia, gambar dan rupa Tuhan.

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” (Kejadian 1:26).

Di Tanah Melanesia di West Papua ini tidak pernah dikenal marga KKB, separatis, makar. Di atas Tanah ini manusia-manusia bermartabat yang memiliki sebutan marga dengan jelas dan garis keturunan yang jelas dan pasti.

Contoh: Penulis marga Yoman. Leluhur Yoman. Ayah dari ayah saya Yoman. Ayah kandung saya Yoman. Kedua putra saya Yoman. Cucu saya Yoman dan selamanya Yoman. Leluhur, ayah dari ayah saya dan ayah saya bukan KKB, separatis, makar.

Ada hampir 250 suku bangsa Papua yang hidup dalam budaya, sejarah, bahasa dan marga yang jelas di atas Tanah leluhur kami di Melanesia, West Papua. Terlalu banyak marga, karena itu penulis sebut marga penulis saja.

Darimana mitos KKB, separatis, makar ini datang? Siapa yang menciptakan mitos KKB, separatis, makar ini? Mengapa manusia ciptakan dan gambar Allah dimitoskan KKB, separatis, makar?

Pemerintah Indonesia, TNI-Polri sebagai kolonial modern, jangan mendirikan Kerajaan dan Pemerintahan Iblis di atas tanah leluhur rakyat dan bangsa West Papua dengan memproduksi mitos-mitos yang sangat tidak pantas atas hidup kami. Kami tahu, mengerti dan sadar, bahwa Pemerintah Republik Indonesia, TNI-POLRI, memang berniat buruk untuk memusnahkan rakyat dan bangsa West Papua dan ingin menguasai Tanah dan Sumber Daya Alam (SDA) serta mau merampok, mencuri, menjarah emas di atas Tanah kami, jangan dengan cara kolonialisme dan kekerasan yang merendahkan martabat kemanusiaan kami. Jangan berikan nama kami KKB, separatis, makar. Perbuatan itu secara iman sangat berdosa dan secara etika itu sangat salah.

Sebelum 1 Mei 1963, penguasa Indonesia, TNI-Polri menduduki dan membangun Kerajaan dan Pemerintahan kekerasan di Papua, rakyat dan bangsa West Papua ada kehidupan bersama TUHAN tanpa sebutan nama KKB, separatis dan makar.

Mitos KKB, mitos separatis, mitos makar itu diproduksi penguasa Pemerintah dan TNI-POLRI. Mitos KKB, mitos separatis, mitos makar itu milik penguasa kolonial modern Indonesia. Mitos KKB, mitos separatis, mitos makar itu bagian dari memperlebar dan memperluas Kerajaan kekerasan dan kejahatan di bumi. Karena mitos KKB, mitos separatis, mitos makar itu belum pernah dan hidup di Tanah Melanesia sebelum tanggal 1 Mei 1963.”

Penguasa pemerintah Indonesia dan TNI-POLRI jangan mengikuti watak dan sifat Iblis/Setan itu pencuri, perampok, penipu, pembohong, pembunuh, licik, melawan kebenaran dan marusak perdamaian.

Ingat! Rakyat dan bangsa West Papua manusia punya martabat, harga diri dan pemilik Tanah Papua. Jangan merendahkan martabat kemanusiaan kami di atas Tanah pusaka kami dengan mitos-mitos yang tidak layak.

Pemerintah dan TNI-POLRI Perlu merenungkan pernyataan iman dari Prof. Dr. Franz Magnis dan Pastor Frans Lieshout adalah fakta, realitas, kenyataan, bukti tentang apa yang dilakukan penguasa kolonial Indonesia terhadap rakyat dan bangsa West Papua.

“Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka belum diakui sebagai manusia…..“Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia.” (hal.255).

“…kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab, sebagai bangsa yang biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam.” (hal.257). (Sumber: Franz: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme Bunga Rampai Etika Politik Aktual, 2015).

Sementara Pastor Frans Lieshout melihat bahwa “Papua tetaplah luka bernanah di Indonesia.” (Sumber: Pastor Frans Lieshout OFM: Gembala dan Guru Bagi Papua, (2020:601).

Pastor Frans Leishout,OFM melayani di Papua selama 56 tahun sejak tiba di Papua pada 18 April 1969 dan kembali ke Belanda pada 28 Oktober 2019. Pastor Frans dalam surat kabar Belanda De Volkskrant ( Koran Rakyat) diterbitkan pada 10 Januari 2020, menyampaikan pengalamannya di Tanah Papua.

” Saya sempat ikut salah satu penerbangan KLM yang terakhir ke Hollandia, dan pada tanggal 1 Mei 1963 datanglah orang Indonesia. Mereka menimbulkan kesan segerombolan perampok. Tentara yang telah diutus merupakan kelompok yang cukup mengerikan. Seolah-olah di Jakarta mereka begitu saja dipungut dari pinggir jalan. Mungkin benar-benar demikian.”

“Saat itu saya sendiri melihat amukan mereka. Menjarah barang-barang bukan hanya di toko-toko, tetapi juga di rumah-rumah sakit. Macam-macam barang diambil dan dikirim dengan kapal itu ke Jakarta. Di mana-mana ada kayu api unggun: buku-buku dan dokumen-dokumen arsip Belanda di bakar.” (2020: hal. 593).

Pastor Frans menggambarkan tentang siapa sebenarnya Indonesia. “Wajah Indonesia dari semula wajah sebuah kuasa militer.” (hal. 594).

Amirudin al Rahab membenarkan dan memperkuat, “…orang-orang Papua secara perlahan, baik elite maupun jelata juga mulai mengenal Indonesia dalam arti sesungguhnya. Singkatnya dalam pandangan orang Papua, ABRI adalah Indonesia, Indonesia adalah ABRI.” (Sumber: Heboh Papua, 2010, hal.43.

Pemerintah Indonesia, TNI,-POLRi solusi terhormat dan manusiawi adalah kita sama-sama selesaikan 4 akar masalah. Empat akar persoalan Papua sudah berhasil ditemukan dan dirumuskan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang tertuang dalam buku Papua Road Map: Negociating the Past, Improving the Present and Securing the Future (2008).

Empat akar persoalan sebagai berikut:

1) Sejarah dan status politik integrasi Papua ke Indonesia;

(2) Kekerasan Negara dan pelanggaran berat HAM sejak 1965 yang belum ada penyelesaian;

(3) Diskriminasi dan marjinalisasi orang asli Papua di Tanah sendiri;

(4) Kegagalan pembangunan meliputi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat Papua.

Terima kasih.

Ita Wakhu Purom, 19 Oktober 2020

Penulis:
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
3. Anggota Baptist World Alliance (BWA).
__________

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares