Injil Masuk ke 64 Tahun, Klasis Kingmi Debei rayakan HUT Dengan Sukacita

 

Deiyai, [WAGADEI] – Gereja Kemah Injil [Kingmi] di Tanah Papua, Kordinator Deiyai khusus Klasis Debei di merayakan hari ulang tahun [HUT] masuknya Injil di wilayah itu ke 64 tahun. Kegiatan digelar di kampung Widuwakiya pada 16 Oktober 2020.

Perayaan ibadah berlangsung cukup sukacita, hampir semua umat dari sembilan Jemaat di Klasis Debei turut hadir dan memeriahkannya dengan baik.

“Gereja Kingmi di Tanah Papua sudah bergabung ke Gereja- Gereja Pacific. Itu artinya bahwa seluruh gereja di tanah Papua harus berubah pikiran atau main sehat. Kemungkinan besok kita berhadapan dengan gereja dari Pacific, makanya kita harus belajar bahasa Inggris. Dulu bapak Markus Kayame [Penginjil Pertama di Debey] mereka perintis dengan bahasa Mee, kita hari ini pakai bahasa Indonesia, besok generasi berikut akan pakai bahasa Inggris, jadi mari kita ajar anak-anak kita bahasa Inggris,” kata Dominggus Pigai mewakili Ketua Sinode GKI Kingmi dalam sambutanya.

Hal itu disampaikan Pigai sesuai tema yang diusung pihaknya bahwa “Injil masuk di Debei yang ke 64 tahun. Firman telah menjadi manusia, oleh karena itu jadilah manusia yang taat pada Firman”.

Ketua Klasis Debei Yance Waine menyampaikan rasa hormat dan bangga dengan acara HUT Injil masuk yang ke-64 tahun di Debei. Ia memberikan apresiasi yang tinggi kepada Pengurus Pusat GKI [Kigmi] di Tanah Papua yang telah bekerja sama dengan gereja-gereja di Pacific.

“Saya selaku ketua Klasis Debei merasa bangga dengan Jemaat Antiokhia Widuwakia, yang telah menyiapkan segala sesuatu untuk menyukseskan acara ulang tahun ke 64 tahun Tuhan akan membalas semua yang dikerjakan dan yang semua ikut memberikan kontribusi dalam acara ini,” kata Pdt. Yance Waine.

Menurut Waine, seluruh keputusan yang akan ditetapkan oleh Sinode pihaknya tetap ikut dan komitmen untuk mendukung. “Dan luar biasa, kami Gereja Kemah Injil [Kingmi] sudah bergabung ke ikatan Gereja-gereja di Wilayah Pacific,” ucapnya.

“Ini langkah kemajuan Gereja kita, jadi benar bahwa kita di daerah harus siap dalam berbahasa, saatnya kita mulai ajar anak kita berbahasa Inggris, agar kedepan Gereja kita terus berkembang dalam berbagai hal,” kata Yance. [*]

Reporter: Nomen Douw
Editor: Uka Daida

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares