Fenomena penjualan Miras, mematahkan pentingnya nilai kemanusiaan

Oleh :Anias Lengka

MINUMAN keras [miras] yang dikonsumsi oleh sejumlah orang Papua berbeda dengan miras yang dikonsumsi oleh orang pendatang atau ras Melayu. Kecurigaan ini muncul dari beberapa rentetan peristiwa yang sudah terjadi, beberapa karakter konsumen Miras di Papua, kebanyakan orang Papua konsumsi Miras pasti pulang membawah masalah, mulai dari pemukulan, pemalangan, penikaman, merampas barang orang lain, membuat Keributan dalam rumah tangga, kecelakaan, dan lain-lain.

Beberapa hal di atas tidak dilakukan atau jarang terjadi kepada orang pendatang di Papua. Oleh sebabnya, kami merasa ada yang berbeda Miras yang dikonsumsi orang Papua berbeda dengan yang dikonsumsi oleh orang Papua.

Dalam catatan ini kami merasa ada yang salah dan sengaja dibiarkan oleh pemerintah, kami ingin memberikan catatan kepada Organisasi Perangkat Daerah terkait seperti Balai POM, Dinas Perhubungan dan Dinas Perdagangan untuk melakukan upaya penindakan dan pengecekan pada setiap toko minuman beralkohol untuk mengecek batas kadaluarsa, dan mengukur kadar alkohol.

Jika kedua institusi pemerintah di atas bisa melakukan tugasnya dengan baik, maka kadar alkohol dan batas kadaluarsa miras dapat dikontrol kehidupan manusia pasti baik-baik saja.

Seperti yang dilakukan oleh pemerintah Rusia, ketika angka kematian meningkat dan angka kelahiran bayi drastis turun, pemerintah mengeluarkan instrumen kepada pabrik-pabrik minuman beralkohol untuk memproduksi dan menjual minuman beralkohol dalam bentuk sachet. Sehingga pertumbuhan manusia kembali meningkat dan pemerintah Rusia berhasil meningkatkan pertumbuhan manusia.

Di Provinsi Papua, hingga detik ini belum melakukan upaya apapun terkait hal ini, walaupun nyawa manusia Papua sangat terancam dan setiap hari diprediksi orang di Provinsi Papua yang meninggal akibat Miras bisa berjumlah 5 sampai 6 orang setiap hari. Korban tidak hanya konsumen Miras, namun mereka yang tidak konsumsi menjadi korban. Semua orang yang tinggal di Papua pasti percaya dengan opini ini, sebab opini ini ditulis berdasarkan fakta-fakta yang ada di Papua.

Menjual Miras di Papua sudah sangat bebas, siapapun boleh datang melakukan usaha penjualan miras. Iiras oplosan maupun berlebel karena saking banyaknya jumlah peredaran minuman beralkohol dan pembelinya rata-rata remaja dan mahasiswa serta para oknum pejabat setiap malam minggu berjejeran di setiap toko minuman. Ada juga penjual Miras yang berjejeran di setiap trotoar jalan raya. Fenomena ini akan menjadi satu budaya yang tidak baik bagi orang-orang Papua di atas negeri,bmereka dan mengancam pertumbuhan manusia Papua.

Gubernur OAP, Kapolda OAP, Pangdam OAP, Walikota OAP, Bupati OAP, Ketua DPRP OAP, Ketua DPRD Kabupaten OAP tetapi semua tidak berdaya karena tertindas di bawah kapitalisme lokal, nasional, dan internasional pengusaha minuman beralkohol.

Ketika semua biarkan kondisi ini,bmaka orang Papua harus sadar dan bangkit selamatkan manusianya, bangsanya dan tanahnya.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Yalimo sebulan lalu, bahwa pemuda Yalimo menyita minuman beralkohol dan satu box sabu-sabu dari tangan oknum aparat. [Katanya] kasusnya hingga saat ini tidak diungkap oleh Polda Papua. Ketika tidak ada lagi yang bertindak, ketika kekuasaan digunakan untuk melindungi, dan pembekap para pengedar, maka tindakkan seperti itu yang harus dilakukan oleh semua komponen orang asli Papua. [*]

*] Penulis adalah Ketua anti Miras dan Narkoba Papua, tinggal di Numbay

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares