Mati satu tumbuh seribu; Keuskupan Timika tambah 2 Imam dan 8 Diakon

Nabire, [WAGADEI] – Belakangan ini berita kematian terhadap Imam Katolik di Papua maupun Indonesia terus mengalami peningkatan, terutama sejumlah Pastor asli Papua yang mati secara kontinyu. Banyak pihak bertanya-tanya ada apa dan mengapa terjadi demikian. Para Pastor ini ada yang meninggal karena sakit, juga tiba-tiba seperti Alm. Mgr. John Philip Saklil, Pr selaku Uskup Timika.

Kematian beruntung ini justru mendatang hasil yang berlimpah, setelah tahun 2019 Uskup Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM menahbiskan enam Imam di gereja Katolik Tiga Raja Timika, kini giliran Keuskupan Timika menambah pasukan laskar Kristus.

Tepat hari Minggu, (11/10/2020) di paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire, Uskup Mgr. Aloysius Murwito juga menahbiskan dua Imam diantaranya P. Benyamin Magay, Pr dan P. Nikolaus Wakei, Pr bersama delapan Diakon lainnya.

Tentunya ini telah terwujud kerinduan umat Katolik dan khalayak umum bahwa harus ada pengganti dari para Imam Katolik yang telah mendahului kita.

Para Diakon diantaranya Febronius Angelo, Pr, Fransiskus Sondegau, Pr, Paulus Leopati Yerwuan, Pr, Silvester Dogomo, Pr, Vincentius Budi Nahoba, Pr, dan Yoseph Bunai, Pr.

Uskup Murwito meminta kepada kedua imam baru agar harus mengedepankan tiga pesan utama yakni mengajar, menguduskan, dan memimpin atau menggembalakan umat.

“Dua Diakon yang ditahbiskan menjadi Paator, dan delapan Frater yang ditahbiskan menjadi Diakon bukan orang hebat, tapi punya keterbatasan. Tetapi anda akan memasuki jajaran imamat dalam gereja secara resmi demi kepentingan pelayanan umat Allah. Hendaklah kalian tekun dan dengan setia melayani umat” kata Uskup Aloysius dalam kotbahnya.

Ia mengatakan, dua Imam dan delapan Diakon lebih banyak mendengar, ketimbang ikutan arus. Harus mengimani perintah Tuhan Allah; ‘Inilah anak yang kukasihi, dengarkanlah dia’.

“Dengarkan, mendengar dengan telinga tapi juga mendengar dengan seluruh indera kita akan apa yang sesungguhnya Tuhan mau kepada kita. Kita diajak untuk sungguh-sungguh memahami apa yang dikehendaki Tuhan. Pengalaman menunjukkan, mendegar itu tidak mudah. Hal-hal yang penting sering kita abaikan, banyak orang sibuk hanya dirinya sendiri. Tuhan bersabda kepada kita melalui kitab suci juga melalui peristiwa. Tanda-tanda itu disampaikan Tuhan kepada kita untuk menanggapinya,” ungkapnya.

Administrator Diosesan Keuskupan Timika, Pastor Marthen Ekowaibii Kuayo, Pr mengatakan, Tuhan Allah sendiri yang memilih dan menetapkan dua orang imam dan delapan orang diakon.

“Seperti Yesus mengutus murid-muridnya di tengah-tengah serigala. Artinya medan bisa menjadi serigala, kesulitan itu bisa menjadi serigala, situasi politik Papua yang semakin memanas seperti penolakan Otsus dan Jakarta mau supaya berjalan tenang-tenang tapi menghanyutkan juga serigala,” kata Kuayo.

Ia berharap, kehadiran Pastor dan Diakon di tengah-tengah umat dalam situasi yang makin banyak kesulitan ini untuk menyatukan semuanya.

“Kita dengar pewarta ditembak, pendeta ditembak, tentara dipotong. Maka itu kepada diakon dan pastor hadir untuk menyatukan semua itu,” ucapnya.

Kesempatan itu juga Kuayo ajak semua pihak melakukan hening sejenak untuk Almarhum Mgr John Philip Saklil, Pr. “Sebenarnya dia yang menahbiskan, tapi ia sudah mendahului kita, dan mereka yang ditahbiskan ini adalah hasil karya dari almarhum,” ucapnya.

“Kami juga menyampaikan terimakasih kepada Mgr Aloysius Murwito, OFM Uskup Agats yang datang dari jauh-jauh untuk menjalankan misi Tuhan,” katanya. [*]

Reporter: Abeth A. You

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares