Orang Papua yang memilih “Otsus” adalah “Monyet”

  • Bagikan

Oleh: Gamoye Makiime

BEBERAPA kepala daerah di Papua, wilayah adat Mamta dan Saireri yang beranggotakan 9 orang mengatakan untuk lanjutkan Otsus. Alasan mereka adalah dengan Otsus, Papua ada kemajuan, namun belum jelas kemajuan untuk Orang Asli Papua (OAP) atau Orang Pendatang di Papua. Selanjut, mereka belum dapat membedakan alasan mendasar Otsus diberlakukan, yakni bukan demi pembangunan atau kesejahteraan melainkan sebagai “tawaran politik Papua Merdeka”.

Mereka juga tidak sadar bahwa memilih Otsus atau referendum itu bukan oleh kepala daerah, melainkan oleh rakyat sendiri. Gubernur sendiri telah angkat tangan, diberitahukannya bahwa, “kali ini tanyakan langsung kepada rakyat Papua sendiri, apakah mereka mau Otsus atau referendum”.

OAP yang memilih Otsus adalah Monyet

Pemberlakuan Otsus untuk tanah Papua adalah “pembodohan”. Jakarta mau mengatakan OAP adalah monyet. Bahwa OAP dapat diperalat dengan cara apa saja, bahkan dibunuh pun bukan melanggar hukum, baik loka, nasional maupun internasional. Karena Jakarta telah memandang OAP adalah monyet, maka Jakarta dapat memperlakukan OAP tidak sebagai manusia. Otsus adalah salah satu cara memperlakukan OAP adalah bukan manusia.

Di pihak OAP sendiri, ada beberapa orang menginginkan Otsus dilanjutkan. Termasuk 9 kepala Daerah di atas. Namun, mereka tidak sadar bahwa dengan mengatakan statement ini, mereka adalah monyetnya Indonesia. Mereka mengatakan dengan Otsus ada banyak pembangunan dan kesejahteraan. Atas pernyataan ini, rakyat Papua dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud adalah “pembangunan perutnya sendiri”. Dikatakan Otsus membangun Papua karena dompetnya ditebalkan oleh Jakarta. Namun, belum disadari bahwa mereka terlalu egois, tidak memikirkan anak cucu masa depan, pada puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan tahun mendatang. OAP yang memilih Otsus merasa kekenyangannya adalah kekenyangan untuk anak cucu masa depan. Mereka juga buta terhadap rakyat Papua yang sedang ditindas, dijajah dan bahkan dibunuh seperti monyet.

Perjuangan Menolak Stigma Monyet

Di samping mereka yang menyetujui Otsus dilanjutkan, masih banyak OAP yang sadar akan “stigma dan rasis”, menolak Otsus dan meminta agar menggelar referendum di seluruh teritori West Papua dari Sorong sampai Merauke bagi Orang Asli Papua.

Tidak sedikit rakyat Papua turun aksi tentang penolakan Otsus, yang kadang direpresi militer, misalnya seperti di Menado, di Malang, di Makassar, di Jayapura, di Nabire, dan lainnya.

Kalaupun direpresi militer, rakyat tetap menolak Otsus, sebab Otsus bagian dari perpanjangan penjajahan. Karena gubernur Lukas Enembe telah memberikan kewenangan penuh kepada rakyat asli Papua menentukan, maka rakyat Papua menolak (tidak mau Otsus) dan meminta Referendum. Rakyat Papua sudah tidak percaya Indonesia karena:

1. Ras berbeda. Rakyat Papua menilai aneka kekerasan yang terjadi untuk mereka karena memang ras yang berbeda. Tentu karena ras Melanesia nilai kemanusiaan lebih rendah dari ras Melayu. Karena itu, rakyat Papua dirasis, tidak hanya bersifat verbal namun juga non verbal, tidak hanya secara langsung namun juga tidak langsung.

2. Sejarah berbeda. Rakyat Papua menilai bahwa semua kekerasan yang dilakukan negara atas rakyat Papua karena sejarah negara yang berbeda. Karena keperbedaan sejarah ini, rakyat Papua dipandang sebagai musuh sesama bangsa, yang harus ditumpas habis dengan aneka operasi dan tindakan kekerasan lainnya. Karena itu juga, rakyat Papua makin tidak simpatik dengan Indonesia, bahkan melahirkan embrio negara sediri, yakni West Papua.

3. Sangat militeristik. Indonesia yang amat represif, militeristik membuat rakyat Papua makin tidak percaya Indonesia. Bagi rakyat Papua, Indonesia adalah pembunuh melalui kaki tangannya “militer”.

4. Tiada masa depan Papua dalam Indonesia. Dari aneka pembohongan, kekerasan, stigma, diskriminasi, dan lainnya, rakyat Papua merasa bahwa mereka tidak punya masa depan dalam negara Indonesia. Indonesia membunuh masa depan rakyat Papua, dan yang adalah dalam benak rakyat Papua adalah “merdeka”, terpisah dari negara Indonesia yang penuh rasis, diskriminatif dan militeristik.

Kalaupun ada beberapa orang menyetujui Otsus, itu pun tentu karena intimidasi, atau pemaksaan (bayar-bayar), seluruh rakyat Papua (100 persen) menolak Otsus.

Menurut Orang Papua sendiri, mereka yang memilih Otsus adalah monyetnya Indonesia, sedangkan hampir semua rakyat Papua yang menolak Otsus menunjukkan identitas diri sebagai “manusia Papua”, ras Melanesia, mereka juga meminta untuk segera melakukan referendum, menentukan tetap dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau membentuk negara Papua Barat, terpisah dari NKRI.

*] Penulis adalah pemerhati isu sosial politik di tanah Papua

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *