Buku Antologi Puisi “Rasa yang Hilang” diterima Balai Bahasa Papua

  • Bagikan

Nabire, [WAGADEI] – Buku Antologi Puisi berjudul “Rasa yang Hilang” karya Benediktus Pigai akhirnya diterima Balai Bahasa Provinsi Papua [BBPP], Senin, [28/9/2020] dan menjadi arsip dalam perpustakaan pada lembaga itu.

Fatimah, salah satu petugas Balai Bahasa Provinsi Papua mengatakan, harus menulis untuk memaknai dunia literasi dalam konteks Papua, juga harus mengajak kawan-kawan lain untuk terus menulis.

“Karena orang asli Papua jarang menulis identitasnya dalam bentuk buku. Untuk itu menulislah sebanyak mungkin,” ujar Ibu Fatimah ditirukan Benediktus Pigai.

Penulis buku Benediktus Pigai mengungkapkan, sebelum dirinya terbitkan buku itu, ia pernah diundang bersama Komunitas Sastra Papua [KOSAPA] dan Komunitas Gerakan Papua Mengajar [GPM] untuk hadir dalam seminar pentingnya dunia literasi dalam perspektif Papua pada tahun 2019 lalu.

Dari seminar itu, Pigai mengaku termotivasi untuk menulis dan dikenal oleh para tenaga kerja kantor Balai Bahasa Papua saat itu.

“Setelah saya menerbitkan buku perdana ini, saya diundang untuk mereka membeli buku itu dijadikan sebagai bahan arsip dalam perpustakaan balai itu,” ujarnya.

Ia ucapkan terima kasih kepada lembaga itu karena telah menerima buku karyanya yang perdana dengan lapang dada. “Saya akan terus menyuarakan dunia literasi kepada generasi muda papua harus terus menulis,” ucap dia.

“Saya sebagai generasi muda dan literasi itu penting dilakukan dalam generasi milenial bahwa kalangan generasi muda Papua saat ini jarang sekali menulis apalagi literasi soal membaca itu sangat memprihatinkan, sehingga melihat dengan kondisi buta aksara dan sebagai salah satu cara untuk memberantas buta huruf di pelosok tanah air West Papua,” kata Pigai.

Ia mengajak generasi muda OAP harus tanamkan spirit untuk menulis dan membaca setiap realita yang terjadi.
Menurutnya, agar anak-anak muda di Papua bisa ikut serta dalam membangun dunia literasi.

“Bahwa, generasi muda harus perbanyak membaca, memiliki bahan bacaan [referensi] yang banyak, generasi muda harus bangun ruang diskusi mengenai pentingnya dunia literasi. Selain itu, wajib menanamkan benih benih menulis dalam konteks Papua,” ujarnya.

Melalui bukunya, ia ingin memberikan sebuah nilai belajar bahwa literasi itu sangat penting untuk dilakukan oleh generasi muda Papua. “Selain itu saya menulis buku itu karena saya ingin melengkapi biaya kuliah saya sekaligus dengan beban biaya adik-adik saya,” ucapnya. [*]

Pewarta: Norbertus Douw
Editor: Aweidabii Bazil

banner 120x600
  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *