Tolak Otsus, mahasiswa Papua di Makassar dihadang massa Ormas

 

Nabire, [WAGADEI] – Ratusan mahasiswa Papua yang sedang menimba ilmu di kota Makassar yang tergambung dalam Forum Solidaritas Peduli Rakyat Papua atau FSP-RP menggelar aksi, Jumat, (25/9/2020) dengan dengan tema menolak Otonomi Khusus (Otsus) jilid II dan segera gelar memberikan referendum di Papua Barat sebagai solusi demokratis.

Juru bicara FSP-RP Antonius Boma kepada wagadei.com mengatakan, awalnya para mahasiswa berkumpul di asrama Kamasan Cenderawasih IV Makassar Jln. Lanto DG. Pasewan dengan tujuan aksi monumen Mandala atau sering dikenal dengan sebutan nama “Tempat pembebasan Irian Barat”.

“Massa aksi demostrasi damai mulai berkumpul di asrama Papua Makassar, pada Jam 07.10 WITA, sesaat itu telah ada beberapa OTK dan juga intel berpakaian preman di depan asrama Papua dan di depan Rumah Sakit Jiwa Dadi. Jam 08.30 WITA datang juga Polisi berseragam lengkap dan beberapa Brimob, setelah semua massa mulai aksi pada jam 9:30 WITA, kami mulai keluar dari titik aksi. Namun sempat dihadang tepat di depan pagar asrama Papua dengan cara menutup pintu pagar oleh kurang lebih lima Intel berpakaian preman,” kata Antonius Boma, Jumat, (25/9/2020).

Lanjut, kata dia sekitar pukul 9.40 WITA kordinator lapangan (korlap) memberikan arahan kepada massa aksi untuk tetap melanjutkan keluar ke jalan raya di depan asrama menuju titik aksi yaitu Monumen Mandala. Kata dia, saat berjalan sekitar jam 9.45 WITA terjadi pelemparan batu dari arah belakang dan mengenai salah satu orang masa aksi berinisial M.

“Sekitar jam 9.55 mulai dihadang oleh satu orang anggota Ormas, setelah itu banyak Ormaa yang meneriakkan yel-yel NKRI Harga Mati. Mereka muulai menyerang kami dari berbagai sisi hingga massa aksi mundur dan sempat terbagi menjadi dua kelompok,” ungkapnya.

Selanjutnya kata Boma, korlap ditarik dan dipukul menggunakan helm di pelipis kanan langsung sobek laku keluar darah. “Di situlah saling dorong mendorong, kami kembali bersatu lalu masih didorong oleh pihak Ormas,” ucapnya.

“Jadi sempat ada pembiaran dari pihak keamanan, hingga terjadi pelecehan terhadap dua massa aksi perempuan. Setelah itu massa aksi masih didorong, dipukuli, dan dilempari helm oleh pihak Ormas yang ditengahi oleh Polisi dan Brimob hingga masuk ke dalam asrama Papua,” katanya.

Selanjutnya, massa aksi melakukan Orasi di dalam pagar asrama hingga membacakan pernyataan sikap pada jam 10:40 WITA, lalu pihaknya membubarkan diri.

Korlap FSP-RP, Macho Pahabol menegaskan, pihaknya menolak dengan tegas perpanjangan pemberlakuan Otsus Jilid II dalam bentuk dan nama apapun di Papua Barat.

“Menolak segala bentuk ekonomi sepihak serta agenda-agenda pembahasan dan keputusan yang tak melibatkan papua selaku subjek seluruh persoalan Papua,” kata dia.

Pihaknya meminta agar segera kembalikan kepada rakyat Papua untuk memilih dan menentukan nasibnya sendiri, apakah menerimah Otsus Jilid II atau menentukan sebagai sebuah negara berdaulat.

“Kami mendukung suara sebanyak 1,8 juta suara rakyat Papua yang telah mendatangani petisi rakyat Papua pada tahu 2017 yang supervisi internasional dalam penentuan nasib sendiri melalui mekanisme referendum di Papua Barat,” kata Macho.

Bila petisi ini tidak ditanggapi pihaknya mengancam akan melakukan mogok sipil nasional secara damai di seluruh wilayah West Papua.

Jubir Antonius Boma mengatakan, pada malam hari 24 September 2020 pihaknya sedang lakukan pertemuan internal, didatangi tiga orang intel yang berpakaian preman dengan keluarkan bahasa; “Eee kalian jangan aksi karena dilihat dengan ada beberapa hal, kami menolak karena yang pertama di seluruh Indonesia semakin meningkat penangkapan orang yang selalu melawan konstitusi negara”

“Yang kedua, mereka bilang isu naik terus semakin naik,” katanya menirukan ucapan intel.

Para mahasiswa, menurut dia bahkan bertanya-tanya bahwa isu yang semakin naik. “Kami pada waktu itu, jangan sampai isu Papua yang naik jadi kami harus turun jalan,” ucapnya.

Alasan ketiga yang disampaikan oleh intel berpakaian preman adalah melihat dengan Covid-19.

“Maka kesepakatang kami dalam aksi kami perlu ikuti protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh pemerintah kemi kenyamanan kita bersama,” ujarnya.

Berikut adalah mahasiswa Papua yang kena pukulan dari Ormas, dan aparat keamanan diantaranya Boas Payage, mengalami bengkak tangan kanan akibat lemparang hlem. Antonius Boma mengalami luka di tangan kanan akibat kena pukulan dan tarik baju Bintang Kejora (BK). Petrus Badi kena pukulan luka di leher bagian bawah dagu. Macho Pahabol kena pukulan di alis mata kanan hingga berdarah dan Aplahesa Kaningga mengalami tangan kanan dan telinya kanan bengkak akibat lemparan batu. (*)

Reporter: Abeth A. You

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares