Tolak Otsus, Ribuan Rakyat Papua di Nabire Turun Jalan sampaikan 9 Pernyataan

Nabire, [WAGADEI] – Ribuan rakyat Papua tergabung dalam Petisi Rakyat Papua [PRP] yang ada di Kabupaten Nabire turun jalan. Aksi damai yang digelar, Kamis [24/9/2020] tersebut dalam rangka penolakan terhadap Otonomi Khusus [Otsus] jilid II yang sedang didorong oleh Pemerintah Provinsi Papua.

Sejak pagi, massa mulai kumpul di sejumlah titik seperti Siriwini, Kalibobo, SP 1 Nabire Barat. Ketiga titik ini mulai digerakan oleh masing-masing kordinator lapangan [Korlap]. Sekitar jam 08.00 pagi, puluhan orang diangkut pake truk oleh aparat kepolisian, terutama dari Siriwini dan Kalibobo. Mereka dibawah ke kantor Polres.

Satu jam kemudian, giliran massa aksi dari SP1 Nabire barat. Mereka juga diangkut pakai dua truck. Massa yang lain dari titik ini, ikut dengan kendaraan roda dua.

Jam 9.35 WP, massa yang dari Siriwini dan SP1 Nabire Barat dipisahkan menjadi 2 kelompok. Dan, mereka diberikan arahan oleh Kepala Polisi Resort [Kapolres] Nabire, AKBP Sonny M. Nugroho dengan beberapa pejabat Polres

“Seperti yang kalian [Wartawan] lihat. Kami hanya mengamankan saja untuk memberikan arahan. Kami tidak sendiri, ada bapak kepala suku. Kepala suku yang lain kami sedang hubungi,” kata Wakapolres Nabire, Kompol Samuel Tatiratu, Kamis [24/9] pagi kepada awak media.

Sementara massa aksi damai yang titik kumpulnya di Lapangan Tai Sapi, Wonorejo, pukul 10.00 WP mulai lakukan longmarch. Namun, gabungan aparat keamanan blokade jalan tepat di jembatan Nabire. Massa tertahan di situ hingga 12.10 WP.

Dipimpin langsung Wakapolres Nabire, Kompol Samuel Tatiratu bersama beberapa kordiantor lapangan, Juru bicara juga dengan beberapa kepala suku datangi di jembatan kali Nabire dan menyepakati untuk jalan kaki ke Polres. Dan, massa aksi tersebut bergerak ke Polres Nabire.

Jam 13.10 WP massa aksi damai tiba di depan jalan masuk Polres Nabire. Setelah lakukan perundingan, akhirnya ribuan rakyat Papua itu sepakat untuk masuk ke Polres.

30 menit kemudian, massa aksi yang telah diamankan terlebih dulu di Polres itu dengan massa yang datang bersatu di halaman Polres Nabire.

Lalu, Jubir menyampaikan sejumlah orasi yang kemudian dilanjutkan oleh kepala suku Damal, Dani, Dauwa, Nduga [D3N] Bapak Wenda dan kepala Suku Moni, Soter Songgonau.

Dan, aksi tersebut diakhiri dengan pembacaan pernyataan sikap oleh Kordintaor Umum aksi tolak Otsus di Nabire. Lalu, massa aksi bubarkan diri dengan aman.

Wakil Kepala [Waka] Polisi Resort (Polres) Nabire, Sam Tatiratu mengatakan pihaknya telah mengamankan masa aksi damai hampir 200-an lebih. Masa aksi sementara ditahan untuk memberikan pengertian dan arahan langsung dari Kapolres Nabire dan jajarannya.

Kepala suku Damal, Dani, Dauwa, Nduga (D3N) Bapak Wenda, dalam orasinya menegaskan Otsus di Papua sudah mati. Terkait aksi penolakan Otsus, dirinya sebagai kepala suku sudah nyatakan telah mendukung.

Dihadapan ribuan rakyat, ia mengaku 28 Agustus lalu ia didatangi sejumlah orang untuk meminta dukungan Otsus Jilid II. “Saat mereka datang, saya sampaikan Otsus itu sudah meninggal. Dari dulu. Otsus itu sudah mati dan dikubur baro kenapa ada Jilid II?” tanya dia

“Saya atas nama rakyat Papua dan Papua Barat, saya menolak,” tegas dia.

Ia meminta kepada kepolisian dan pemerintah daerah harus terima aspirasi dari rakyat ini dan teruskan kepada pemerintah pusat.

Di tempat yang sama, Kepala Suku Besar Suku Moni, Soter Songgonau mengatakan dirinya siap mati bagi warganya. “Seperti Tuhan Yesus mati di kayu salib, Soter Songgonau siap mati atas nama rakyat,” katanya tegas.

Kordinator umum, Adhen Dimi membacakan pernyataan sikap politik atas nama rakyat Papua di Nabire. Berikut pernyataan sikapnya;

1. Kami menolak dengan tegas perpanjangan pemberlakuan Otonomi Khusus Jilid II dalam bentuk dan nama apapun di teritori West Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat).

2. Menolak segala bentuk kompromi sepihak serta agenda-agenda pembahasan dan keputusan yang tidak melibatkan rakyat Papua selaku subjek dan objek seluruh persoalan di Papua.

3. Segera kembalikan kepada rakyat Papua untuk memilih dan menentukan nasibnya sendiri; apakah menerima Otsus atau merdeka sebagai sebuah negara.

4. Kami mendukung suara 1,8 juta rakyat Papua yang telah menandatangani petisi pada tahun 2017 yang meminta supervisi internasional dalam penentuan nasib sendiri melalui referendum.

5. Mengutuk dan bubarkan Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dibentuk oleh gubernur dan Majelis Rakyat Papua (MRP) untuk loloskan Otsus Plus.

6. Tarik Militer dan Hentikan Penyisiran Intan Jaya, Nduga, Yahukimo, Oksibil dan Timika serta seluruh Tanah Papua.

7. Mengutuk dengan tegas penembakan yang dilakukan oleh TNI terhadap Pendeta Yermias Zanambani pada 19 September 2020 di Intan Jaya dan Pendeta Gemin Nirigi pada 19 Desember 2018 di Nduga.

8. Menolak Pilkada di Nabire dan menghimbau kepada seluruh rakyat untuk golput.

9. Bila petisi ini tidak ditanggapi maka kami akan melakukan Mogok Sipil Nasional secara damai di seluruh wilayah West Papua. [*]

Reporter: Philemon Keiya
Editor: Uka Daida

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares