Tewasnya Yeremias Zanambani, FPK-TP kutuk tindakan TNI

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADEI] – Tindakan TNI di Kabupaten Intan Jaya dikutuk Forum pemuda Kristen di tanah Papua [FPK-TP].

TNI melakukan penembakan terhadap pdt. Geming Nirigi pada tahun 2018 dan terjadi pada tahun 2020 yang menyebabkan Pdt. Yerimias Zanambani selaku ketua Sekolah teologi atas (STA) dan gembala di GKI Imanuel Hitadipa sekaligus penerjema Alkitab bahasa Moni di kampung Hitadipa, alami hal yang sama, di tembak oleh TNI dan Polri di Kabupaten Intan Jaya.

“Tindakan yang dilakukan TNI sangat tidak profesional dan tidak mendidik sesuai dengan semboyannya yakni melindugi dan mengayomi. Pada tahun 2018 yang lalu Pendeta Gemin Nirigi ditembak mati oleh anggota TNI dan di tahun 2020 ini Pendeta Yerimias Zanambani juga di tembak mati oleh TNI,” kata Sepi Wanimbo, Ketua pemuda Gereja Baptis Papua dalam rilisnya yang diterima redaksi wagadei.com, Rabu, [23/9/2020]

Sepi mengatakan, seorang gembala merupakan penyambung lidah Allah, sehingga selalu sampaikan kepada umat di setiap saat hanya nilai-nilai kebenaran, kejujuran, keadilan dan kedamaian yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri.

“Sehingga kami bagi umat di tanah Papua selalu menghargai, menjaga seorang hamba Tuhan tidak pernah membuat mereka sakit tetapi gaya kebijakan anggota keamanan Negara TNI/POLRI ini sudah berlebihan,” katanya.

Ia meminta kepada Presiden RepublikIndonesia untuk dapat memberikan pemahaman tentang pelayana yang baik TNI dan Polri kepada masyarakat di Papua itu seperti apa.

“Saya selaku pimpinan pemuda gereja Baptis di tanah Papua minta kepada Presiden Republik Indonesi dan Panglima TNI dan Polri segera memberikan pemahaman soal pelayanan yang baik, cerdas, bijaksana kepada mereka agar mereka melayani masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Papua dengan baik. TNI dan Polri stop tembak Pendeta di tanah Papua dengan sesuka hatimu, karena seorang Gembala tidak sama dengan pemimpinan lainnya,” ucap Wanimbo.

Ketua pemuda GKI di Tanah Papua Pdt. Edison Sekenyap mengatakan penembakan ini sudah terjadi tiga kali dan dengan terjadinya penembakan ini belum perna di selesaikan dengan baik.

“Penembakan terhadap Pendeta ini sudah tiga kali, Pendeta Elisa Tabuni ditembak Mati di Puncak Jaya pada 16 Agustus 2004, Pendeta Geyimin Nirigi tewas ditembak pada 19 desember 2018 di distrik Mapenduma, dan Yerimias Zanambani ditembak mati juga oleh TNI pada Sabtu 19 September 2020. Selama ini kalau penembakan itu dilakukan oleh TNI itu tidak pernah di lselesaikan dengan baik, kami berharap ada keadilan di atas tanah ini,” ucap Edison.

Ia berharap agar persoalan ini di selesaikan dan pelakunya di proses secara hukum yang berlaku di Negara ini.

“Kalau bisa itu ada tim pencari fakta dari luar negeri atau dalam negeri yang bisa mencari tahu motif dari kejadian yang terus terluang terhadap umat dan hamba Tuhan di Tanah Papua. Dengan begitu umat, pemuda dan rakyat Papua tahu bahwa proses hukum ini berjalan sesuai dengan UUD yang ada di Negara,” ucap Edison.

Ia menambahkan agar semua pihak untuk menyuarakan hal ini, karena ini satu ketidak adilan yang di lakukan oleh TNI terhadap hamba Tuhan.

“Kami juga mhon kepada dewan Pasific, dewan gereja Asia dan dewan gereja se dunia untuk menyuarakan kasus pembunuhan yang terjadi terus menerus ini. Dan pelaku yang melakukan penembakan ini untuk di proses hukum dengan hukuman yang setimpal tidak bisa hanya di pindahakn dan di nonaktifkan, karena pendeta ini tidak melakukan perlawan atau tindakan kekerasan apapun, dia hanya bertujuan untuk memberi makan ternaknya di kandang, kami harap ada keadilan,” ungkapnya.

Komisaris daerah (Komda) Katolik Provinsi Papua, Alfonsa Jumko Wayap mengatakan, apa yang dilakukan oleh TNI dan Polri itu merupakan tindakn refrensif dan sangat tidak berkemanusian sama sekali. Seharusnya itu TNI dan Polri melakukan pendekatan terhadap masyarakat.

“Saya sangat menyayangkan hal ini karena dimana hal ini terjadi terus menerus padahal in ini tidak boleh lagi terjadi, luka di atas luka dan penembakan di atas penembakan dan persoalan ini menjadi penumpukan hal ini yang membuat rakyat Papua tidak percaya lagi kepada Institusi dan Negara karena tidak ada niat baik selesaikan persolan ini,” kata Alfonsa Jumko Wayap.

Kata Alfonsa kejadian ini terus terjadi dan akan menjadi trauma yang berkepanjangan dan tidak perna di selesaikan hingga saat ini.

“Kita ini sedang berada di tol yang kritis dan negara tidak perna melihat apa yang orang Papua mau. Kita berharap itu bisa tidak melakukan pendekatan itu tanpa menggunakan kekerasan dan menggunakan alt negara, karena Pdt ini dia tidak melawan dengan senjata dia itu membawa terang inijil kenapa dia yang tidak tahu apa-apa dan melakukan aktivitasnya sebagai masyarakat biasa di tembak padahal tidak ada perlawanan,” tutur Wayap. [*]

Reporter: Enaakidabii Carvalho
Editor: Uka Daida

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *