Media Sosial, Hegemoni Negara Membungkam Fakta di Papua

  • Bagikan

Oleh: Gamoye Makiimee

NEGARA menggunakan media sosial [medsos] dengan kekuasaan kenegaraannya membungkam bahkan membalikkan kenyataan di Papua. Hampir semua berita tentang Papua diwartakan secara terbalik dari kenyataan real. Yakni, “bicara lain, sementara di lapangan lain.”

Media sosial bukan lagi sebagai alat pemberitaan kebenaran melainkan dibelokkan menjadi alat pemberitaan palsu (hoax). Media sosial sudah tidak menjamin akurasi, akuntabilitas, aktualitas dan validitas. Masyarakat dunia merasa baik-baik, aman, damai dan bahagia di Papua dengan berita-berita bohong di manca negara dan dunia, padahal yang sebenarnya tidak seperti yang diberitakan di media.

Indonesia menjadi negara pembohong dan paling licik, dan bisa dipastikan bahwa “ Indonesia dapat saja menipu Tuhan”. Hal ini dapat dibenarkan karena misi kebohongan dan penipuan di kancah internasional selalu berhasil. Sebaliknya, jika Tuhan mengetahui pasti semua kebohongan, penipuan dan kejahatan dan akan segera diadili dan dibongkar. Saat seperti ini, yang ada hanya “iman dan harapan” bahwa Tuhan tidak buta dan akan segera mengadili dan memerdekakan kebenaran.

Hegemoni Media Sosial

Negara menggunakan kekuasaan penuh untuk menimbun dosa dan kejahatan. Yang di maksud adalah “pembohongan publik dan kejahatan kemanusiaan” di Papua kepada dunia. Di Indonesia, terlihat dan tampak bahwa atas nama keamanan dan negara bisa melakukan kejahatan, termasuk membunuh. Bahkan demi keamanan negara, tidak satu manusia yang telah korban. Kekuasaan dipergunakan negara untuk menindas dan membodohi rakyat miskin, lemah dan tak berdaya.

Negara bersekongkol untuk menindas yang lemah. Kekuasaan negara berkonspirasi menghalangi ide, kreativitas, kekayaan dan kemampuan untuk tidak berkembang dan tumbuh subur. Rakyat jelata makin menjerit dan tak berdaya di bawa kuasa dan kehormatan negara. Negara mewartakan “yang baik, yang damai”, padahal rakyat menderita, tertekan, tertindas dan banyak yang mati.

Madia sosial bukan menjadi alat netral, ada di tengah-tengah, namun digunakan dan dikuasai negara: hampir semua chenal, aplikasi dan situs. Rakyat kecil selalu bermimpi buruk siang malam, negara berkuasa memainkan sandiwara bejat yang tak memperdulikan “harkat dan martabat” manusia. Seolah, negara ada bukan untuk menjamin keadilan, kebenaran, kesejahteraan, melainkan menumbuhkan kebohongan, penipuan, penindasan dan pembunuhan.

Media Indonesia Senjata Pembalikan Fakta

Yang membunuh tubuh rakyat Papua dengan “senjata api”, maka yang membunuh ideologi rakyat Papua dengan “senjata media”. Karena itu, bagi Indonesia, tiada nilai kemanusiaan bagi Papua. Manusia Papua tiada artinya di mata Indonesia. Fakta di Papua dibolak-balik dengan berita bohong (hoax) di media.

Media dikuasai negara, bahkan hingga rakyat Papua tidak mendapat ruang sedikit pun untuk pemberitaan. Semua kebenaran tentang disengsor dan dipropaganda dengan kebohongan. Hal ini telah diketahui rakyat, bahwa apa yang diberitakan melalui media pasti lain dengan situasi real di Papua.

Situasi Nyata di Papua

Yang diharapkan rakyat Papua ialah, segera mengangkat situasi yang senyata-nyatanya untuk Papua di kancah dunia. Apa yang diimpikan bisa sampai di mata dunia. Atau, rakyat mengharapkan situasi real Papua dapat dilihat dunia dengan pemberitaan di Media yang baik. Karena itu;

Pertama: Indonesia jangan main hegemoni negara untuk membungkam situasi real di Papua, misalnya: kasus pembunuhan Pendeta di Intan Jaya oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI), Namun dituduh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Kedua, Rakyat Papua dihimbau untuk mampu menulis, setidaknya menulis berita, agar situasi real di Papua dituliskan selengkapnya sesuai “kronologi”, agar pemberitaan tidak terbantahkan dan tidak mudah dipelesetkan kebenarannya.

Ketiga, Diharapkan agar dibuka akses wartawan Internasional meliput berita yang sejati di Papua, supaya masyarakat Internasional tidak dibohongi dengan berita palsu.

Akhirnya, media sosial menjadi kunci pemberitaan kebenaran. Dihimbau kepada negara untuk tidak main kuasa (hegemoni) dan sekaligus membuka peluang bagi rakyat tertindas untuk berbicara lantang tentang situasi real. Juga untuk rakyat terjepit untuk tidak putus asa dalam bidang tulis menulis, mengangkat fakta dan isu yang sebenarnya setiap saat [setiap kejadian], agar diketahui secara pasti semua yang terjadi di Papua oleh masyarakat

*] Penulis adalah pemerhati isu sosial dan politik di Papua

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *