Di Papua, sudah tiga Pendeta ditembak mati oleh TNI

Jayapura, [WAGADEI] – Ditembaknya Pendeta Yeremia Zanambani di Intan Jaya oleh TNI pada Sabtu, 19 September 2020 telah menambah catatan hitam di lembaran sejarah Orang Asli Papua [OAP] terutama di kalangan para Hamba Tuhan. TNI menembak mati tiga pendeta di Papua sejak tahun 2004 hingga 2020 diantaranya Pendeta Yeremias Zanambani, Pendeta Geyimin Nirigi dan Pendeta Elisa Tabuni.

Dr. Socratez S. Yoman selaku Presiden Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua [BPP-PGBWP] mengencam dan mengutuk keras atas penembakan Pendeta Yeremia Zanambani di Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua yang ditembak mati oleh Tentara Nasional Indonesia [TNI] pada Sabtu, 19 September 2020. Pendeta Yeremia tewas ditembak Pasukan TNI dalam operasi militer pada saat Pendeta Yeremia ke kandang babi miliknya untuk memberi makanan.

“Pendeta Yeremia adalah Ketua Sekolah Teologia Atas [STA] di Hitadipa dan gembala jemaat Imanuel Hutadipa dari Gereja Kemah Injil Indonesia [GKII] Daerah Hitadipa wilayah Papua 3, Penterjemah Alkitab bahasa Moni dan tokoh gereja dan juga pemuka masyarakat suku Moni,” ujar Yoman melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi wagadei.com, Selasa, (22/9/2020).

Akibat dari operasi militer, ada 7-8 gereja dikosongkan dan anggota jemaat menyelamatkan diri dengan melarikan diri ke hutan-hutan.

Kekejaman dan kejahatan TNI ini bagian yang tak terpisahkan perintah operasi militer dari Presiden Republik Indonesia Ir.Joko Widodo di Nduga Papua sejak Desember 2018 yang menyebabkan pelanggaran berat HAM besar-besaran dilakukan TNI di Papua.

“Pendeta Geyimin Nirigi tewas ditembak oleh pasukan elit TNI tanggal 19 Desember 2018 di Distrik Mapenduma. Korban di suruh menggali tanah di belakang halaman rumah dan kemudian ditembak mati dan disiram dengan minyak tanah di tubuhnya dan dibakar dengan api. Kapendam XVII Cenderawasih, Mohamad Aidi menyebarkan hoax bahwa pendeta Geyimin Nigiri masih hidup dan sehat-sehat. Tetapi, hasil investigasi Yayasan Keadilan dan Perdamaian Keutuhan Manusia Papua dipimpin langsung Direktur Theo Hesegem pada 25-27 Desember 2018 membuktikan, Pdt. Giyimin Nigiri [80/L] benar tewas di tangan pasukan elit TNI,” ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kejahatan dan pelanggaran berat HAM lain yang dilakukan TNI menewaskan Pendeta Elisa Tabuni di Tingginambut, Puncak Jaya pada 16 Agustus 2004. Sebelumnya Pendeta Elisa Tabuni ditangkap, diborgol tanganya dan tewas ditembak oleh pasukan Kopassus dibawah pimpinan Dansatgas BAN-II/Koppasus, Letkol Inf.Yogi Gunawan.

“Kekejaman, kekerasan dan kebiadaban TNI yang merendahkan martabat kemanusiaan sebagai tindakan yang tidak manusiawi dan tidak beradab terhadap para pendeta dan gembala umat, pantas dikutuk dan dikecam karena perilaku TNI sangat terkutuk di hadapan TUHAN dan manusia,” kata dia. [*]

Reporter: Enaakidabii Carvalho
Editor: Admin 1

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares