Pemuda Gereja duga Aparat Keamanan kehabisan akal

Jayapura, [WAGADEI] – Ditembaknya Pendeta Yeremias Zanambani di kampung Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya oleh TNI dinilai NKRI melalui pasukan keamanan telah kehabisan akal sehat untuk melindungi dan mengayomi masyarakat, terutama yang bukan lawannya.

Tokoh pemuda gereja GKI Papua, Naftali Magai kepada wagadei.com menegaskan, lawan dari aparat keamanan merupakan pihak TPN/OPM yang memiliki atau memegang alat perang yakni senjata api.

“Kami menduga negara Indonesia melalui aparat keamanan sudah kehabisan akal sehat. Ini sangat memalukan. Seorang pendeta yang sedang pergi ke kandang ternaknya ditembak mati. Ini sudah buta, buta hati, buta mata,” ujar Naftali Magai, Senin, (21/9/2020).

Ia meminta kepada pimpinan TNI dan Presiden Indonesia agar memberikan pemahaman pendekatan kepada masyarakat yang baik agar tak membias kejadian serupa kepada hamba Tuhan lainnya di tanah Migani, Intan Jaya.

“Kalau model begini, saya anggap kita orang asli Papua sudah tidak ada harapan hidup lagi. Karena dari kasus ini kami analisa bahwa semua orang asli Papua adalah OPM. Kenapa pendeta kok ditembak mati tanpa ada komunikasi yang baik? Siapa yang biasa melindungi kita? Sudah tidak ada harapan lagi,” ujarnya tegas.

Atas situasi ini, ia meminta semua pihak harus bersatu padu menetralisir kondisi Intan Jaya.

“Komnas HAM, PBB dan semua komponen yang bergerak di sisi kemanusiaan jangan diam, ini sudah keterlaluan,” katanya.

Dilansir dari jubi.co.id disampaikan Aner Maisini, anak pendeta Yakobus Maisini, tetangga dekat almarhum Zanambani di Hitadipa. Aner Maisini menuturkan, ditemani istri pada Sabtu (19/9/2020) sore, Pdt Zanambani pergi ke honai milik mereka yang juga di sana piara babi sekaligus untuk memberi makan. Dari rumah mereka di kompleks Sekolah Satu Atap YPPGI ke lokasi honai letaknya di seberang kali di Hitadipa.

Setelah selesai dari honai untuk kasih makan babi dan saat mau balik pulang ke rumah itulah pasukan TNI langsung menembak pendeta hingga meninggal di tempat, ujarnya. [*]

Reporter: Abeth A. You

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares