MRP Ingat, Rakyat Papua mau Referendum!

  • Bagikan

 

Oleh: Gamoye Makiimee

RAKYAT Papua menolak secara tegas pemberlakuan otsus, baik otsus jilid maupun otsus dalam bentuk apa pun. Rakyat Papua lebih memilih untuk menggelar referendum, supaya rakyat sendiri menentukan: tetap dengan Indonesia atau membentuk negara bangsa Papua Barat tersendiri. Dalam usaha mempertemukan kedua pihak (Jakarta dan Papua), Majelis Rakyat Papua (MRP) harus menjadi mediator dan fasilitator, tanpa mengorbankan pihak mana pun.

Konsolidasi MRP

Dalam beberapa minggu terakhir ini, MRP telah turun ke beberapa wilayah adat Papua untuk melakukan konsolidasi tentang Otsus. Meminta tanggapan langsung kepada masyarakat, apakah menerima Otsus atau menolak Otsus. Sebenarnya satu sikap terbaik dari Gubernur Lukas Enembe diambil pula oleh MRP, yakni: “berikan rakyat sendiri menentukan pilihan sendiri, apakah menolak atau tidak?”. Menolak dengan alasan apa? Sebaliknya tidak menolak dengan alasan apa? Bahkan lebih radikal, Enembe memberitahukan pusat, jika Jakarta tolak draf Undang-Undang Otsus Plus, berikan referendum bagi rakyat Papua”. Pernyataan Gubernur ini penting dan MRP pun harus mengikuti Gubernur.

Keinginan Rakyat Asli Papua

Rakyat Papua ingin melakukan referendum. Sebab Otsus dalam jilid dan bentuk apa pun sudah ditolak. Rakyat Asli Papua ingin menentukan nasib sendiri. Keinginan rakyat ini “sangat penting” diketahui oleh MRP yang sedang melakukan konsolidasi. MRP wajib perjuangkan rakyat Papua menentukan nasib sendiri. Sebab MRP hanya perpanjangan (pengejahwantahan) suara asli rakyat Papua untuk tiba di Jakarta bahkan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Artinya, MRP tidak bisa main hakim sendiri dengan mengorbankan salah satu pihak.

Referendum adalah Solusi

Dalam polemik konflik berkepanjangan Papua, di mana Papua dalam situasi krisis kemanusiaan, MRP harus mengambil sikap yang pas: tepat, bijak dan bermartabat. Setidaknya, menghargai hak-hak kemanusiaan satu terhadap yang lain melebihi hal-hal lain.

Dalam usaha penghargaan untuk kemanusiaan ini, saat MPR sedang gencar melakukan konsolidasi tentang Otsus, sebaiknya Otsus dihentikan dan digelar referendum. Sebab;

1. Otsus benar-benar telah gagal. Tidak ada kemajuan di era Otsus.

2 Otsus telah menjadi (bom waktu) pemusnahan OAP

3. Otsus tidak menjamin masa depan OAP dalam Negara Indonesia.

Dari beberapa kenyataan ini, bersama bapak gubernur (Lukas Enembe), MRP harus berani dan mampu menyuarakan Referendum, apa pun hasil yang dicapai diakhir referendum. Papua merdeka atau tetap dengan Indonesia tidak jadi masalah, yang terpenting dalam terutama adalah Jakarta segera membuka ruang demokrasi setinggi-tingginya bagi rakyat asli Papua atau OAP Papua dengan melakukan “jajak pendapat”.

*] Penulis adalah pemerhati Sosial-Politik Papua

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *