Malangnya nasib Papua!

 

Oleh: Maiton Gurik

MALANGNYA nasib yang ‘tak berkaki, tak menginjak bumi, tak mampu pula menyentuh langit’ adalah ibarat makhluk air di atas danau hijau Habema Jayawijaya yang penuh misteri, seolah ada di dalam namun sebenarnya tiada untuk diambil manfaat atas kemanusiaan dan peradaban bagi orang asli Papua [OAP]. Atau bisa pula, gambaran Papua seperti teori klasik yang tak berguna, seperti benih yang ditanam kemudian mati muda, karena tak ada yang mau merawat dan membesarkannya di atas pundak pulau tanah Papua.

Nasib Papua sebaiknya jangan dibiarkan ia menjadi sepi dari pencarian, perenungan, tanpa sentuhan tangan perbaikan, proses berpikir kreatif terus rawat bersungguh-sungguh. Jangan pula Papua hanya sebatas ‘diare kata-kata’ – banyak dikeluarkan, tapi kemudian berakibat tubuh menjadi lemas tak berdaya di ruang VIP, ber-AC dan berlantai bintang.

Mengelaborasi Papua adalah bagian dari kerja kemanusiaan yang berada digaris terdepan oleh komunitas-komunitas kemanusiaan seperti KNPB dan ULMWP. Nasib Papua akan baik bila ia mengandung unsur yang rinci, sistematis dan mampu di perbandingkan. Akan lebih baik jika ia suatu yang indah, cantik rupawan pilihan katanya, potensi menyimpan milyaran energi perubahan, mampu mengungkap akar persoalan dan mendobrak rezim penjajah untuk membuka bagi para pencari solusi atas masalah kemanusiaan.

Namun, banyak pula nasib OAP dan tanah Papua yang tak dikenal oleh mereka, tak menarik untuk di pertontokan lewat ‘layar kaca mereka’. Papua itu dianggap foto model belia; yang nasibnya ‘ibaratnya buku tua,’ yang dibiarkan tertindih diam di bawah kepala, menjadi bantal alas tidur saja. Sekadar ada, tapi tiada, tiada diperhitungkan dan tidak mampu memberikan inspirasi, seakan-akan Papua itu ‘ibarat kata-kata ilusi’.

Pun, Papua bukan kata-kata ilusi atau sebuah teori klasik dan tak menarik untuk diperdebatkan dan tidak mengundang orang untuk memberikan ulasan, sehingga ia tidak memperoleh kesempatan yang pantas dan proposional. Papua bukanlah teori tanpa kontestasi pertarungan, pengujian nalar, sungguh tak berarti untuk disebut ‘telah lahir’ di jalan aspal Elspo Waena Kota Jayapura, sambil menghirup debu kiriman para penjajah dan kolonial.

Oleh karena itu, mengenal Papua bukanlah hanya dengan kata-kata ilusi klasik dibuku tua seperti Plato, Aristoteles, dan Socrates di Atena, lalu dikunyah, dibolak-balik oleh gigi dan lidah, digiling di dalam mulut, dirasakan dan dinikmati, sebelum ditelan bulat-bulat atau dimuntahkan jika ternyata kurang berkenan. Pun, masalah Papua bukanlah sekedar tempelan atau pajangan, seperti foto pemandagan di dinding gedung putih Istana Presiden di Jakarta. Bangun pagi-pagi, lihat lalu pergi begitu saja. Masalah Papua, perlu dikomentari, perlu dipersoalkan, perlu diberi jalan perdamaian, perlu diberi ruang demokratis, perlu diberi perhatian penuh dan perlu mencari jalan keluar.

Semoga!

*] Penulis adalah tokoh pemuda Papua, tinggal di Numbay

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares