Otsus; Percikan wajah Jakarta yang paling kejam

  • Bagikan

Oleh: Gamoye Makiimee

UNDANG-UNDANG Otsus Nomor 21 Tahun 2001 diberlakukan selama 19 tahun. Mulai dari bulan September 2020 tersisa genap empat (4) bulan, sesuai dengan perjanjian pemberlakuan Otsus selama 20 tahun dalam usaha mengindonesiakan Papua, Yakni hingga 1 Januari 2021. Artinya, meredam isu kemerdekaan bangsa Papua diberikan Otsus secara paksa kepada rakyat Papua. Rakyat Papua memilih kemerdekaan bangsanya, namun di bawah kendali presiden Megawati Soekarno Putri memaksa Papua untuk tetap dalam Indonesia dengan memberikan Otsus. Otsus diberikan sebagai cerminan, bahwa Jakarta sangat kejam atas kemanusiaan Papua. Jakarta secara halus pasti sedang berjuang untuk memusnahkan rakyat Papua. Otsus adalah perangkat jitu memusnahkan rakyat Papua.

Latar belakang Otsus Papua dan Presiden Megawati

Otsus (Otonomi Khusus) diberikan kepada suatu wilayah untuk mengangkat harkat dan martabatnya dikala diinjak-injak, dilanggar dan dijajah. Otsus diberikan kepada rakyat Papua dalam usaha menemukan kemanusiaan Papua yang dijajah, diinjak-injak dengan aneka dalil. Tujuh puluh Sembilan (79) pasal diberikan dalam UU Otsus tahun 2001 kepada rakyat Papua, namun rakyat Papua menilai Jakarta secara konsisten melaksanakan UU tersebut. Artinya Jakarta sendiri memperkosa UU Otsus yang didokumenkan. Jakarta menipu masyarakat dunia sepanjang 20 tahun di era Otsus.

Otsus diberlakukan semasa Megawati Soekarno Putri menjadi Presiden Indonesia. Dia presiden perempuan satu-satunya di Indonesia yang dapat menjabat sebagai kepala Negara. Presiden perempuan ini terpampang wajah halus, mulus dan berbelas kasih, namun berhati busuk, kejam dan membodohi. Alasannya, rakyat Papua meminta M (Merdeka), namun dibalas dengan O (Otonomi). Otonomi diberikan supaya rakyat Papua dibunuh, diburuh dan dihabiskan satu demi satu. Megawati bermimpi menyamaratakan pembangunan antara Jakarta dan Papua dengan memberikan Otsus, namun yang terjadi adalah penipuan publik. Terlihat wajah Negara Indonesia penipu dan pembohong. Di mana pasal-pasal dalam UU Otsus tidak dilaksanakan. Terjadi kesenjangan dan ketidakadilan mendasar antara Jakarta dan Papua.

Otsus sebagai Alat Pemusnah

Mimpi presiden Megawati untuk membangun dan memajukan Papua setara Indonesia, terlihat mimpi siang bolong, mimpi buta dan tan membabi-buta. Rakyat Papua sendiri tidak mengetahui secara persis apakah Otsus memang diberlakukan atau tidak, karena Otsus memang tidak berdampak untuk kemanusiaan Papua.

Di era Otsus tidak sedikit manusia Papua yang korban. Mulai dari korban pembangunan, sarana-prasarana sampai korban harta dan nyawa. Di era Otsus hampir setiap hari terdengar penembakan, kematian dan duka bagi rakyat Papua dari Sorong sampai Merauke. Hampir setiap hari rakyat Papua mati di tangan Indonesia. Sebab Jakarta tidak membangun rumah sakit setara dengan Jakarta. Pendidikan setara dengan Jakarta. Komnas HAM setara dengan Jakarta. Keamanan setara dengan Jakarta. Ekonomi setara dengan Jakarta. Sebab itu, Otsus diberlakukan hanya untuk memusnahkan orang asli Papua. jadi Otsus merupakan sebuah alat yang digunakan untuk memusnahkan rakyat Papua.

Jokowi berhati Megawati

Jokowi yang berwajah seperti perempuan yang halus, mulus, polos, jujur dan sederhana menyembunyikan kejahatan Indonesia di hadapan dunia. Jokowi membuatnya Indonesia tak memiliki masalah apa pun. Artinya Indonesia baik-baik saja. Korban kemanusiaan, eksploitasi alam, pembabatan hutan, perampasan hak ulayat di Papua disembunyikan secara rapi dalam keluguan wajah seorang Jokowi.

Megawati yang membeck-up Jokowi bermain sangat cantik dan licik dengan setingan-setingan bobrok. Politik kasar dan tidak manusiawi disembunyikan dalam wajah dan hati yang terlihat polos, halus dan berbelas kasih. Situasi Papua dimanipulasi dalam tubuh Jokowi yang terlihat tidak kasar, tidak jahat dan tidak kejam. Kegagalan Otsus di tanah Papua pun dibungkus dalam wajahnya yang polos. Sehingga membuat Papua tak berkasus dan bermasalah.

Dapatkah Jokowi mengiyakan referendum melampaui Megawati?

Sudah saatnya Jokowi mengambil satu sikap (yang lebih radikal) yang melampaui Megawati, di mana di era Megawati, Megawati memaksakan Otsus kepada rakyat Papua, Jokowi harus berani memberikan referendum bagi rakyat Papua. Hal ini penting untuk menebus kesalahan Megawati, sekaligus Jokowi tidak tercatat sebagai presiden jahat di mata Indonesia dan Papua.

Jokowi harus mau dan berani memberikan rakyat Papua menentukan nasib sendiri. Apakah rakyat Papua mau tetap dengan Indonesia atau membentuk Negara sendiri.

Referendum ini segera digelar di Papua sebelum Indonesia terlambat dengan puncak kemerdekaan Papua. Sebab masalah Papua sudah di meja Perserikatan Bangsa-Bangsa. Masalah Papua bukan lagi masalah Indonesia, melainkan sudah menjadi masalah Dunia. Bau kejahatan dan pelanggaran kemanusiaan Papua sudah tercium di masyarakat dunia. Masalah Papua sudah menjadi keprihatinan masyarakat dunia.

*] Penulis adalah pemerhati situasi Sosial Politik di Tanah Papua

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *