PHP Dev Cloud Hosting

Otsus gagal, NKRI belum sepenuhnya ambil hati OAP

  • Bagikan

 

Jayapura, [WAGADEI] – Otsus mulai nampak dari tahun 1998, saat itu ada gerakan massa untuk menentang kepemimpinan Soeharto yang otoriter, lalu terjadi era reformasi.

Pada saat era reformasi, ada gerakan gerakan dari masyarakat atau orang asli Papua [OAP], salah satunya Ormas Tim 100 yang dibentuk pada tahun 1999, yang pendapat rakyat bangsa Papua, untuk lepas dari NKRI.

Maiton Gurik, salah satu tokoh pemuda Papua mengatakan, UU Otsus Papua nomor 21 tahun 2001, pusat tidak memberikan kewenangan kepada pemprov papua untuk mengatur secara mutlak, tetapi masih dikontrol dan di setting dari pusat.

Menurut Maiton, UU tentang Otsus Papua bukan Otonomi Khusus melainkan UU urusan khusus. Pasalnya kata dia, masih dalam settingan dari pemerintah pusat, justru berbeda dengan Provinsi Aceh yang notabene diberikan kewenangan secara penuh untuk mengatur pemerintahan, lalu dibuat dalam UU Otsus Provinsi aceh tentang Pemerintahan Aceh.

“PERDASI dan PERDASUS sudah ada dalam UU Otsus, Pasal 2 ayat 1 huruf f dan g tentang PERDASI dan PERDASUS, tetapi belum ditetapkan oleh pemerintah pusat, dan kewenangan masih dikendalikan dari pusat,” ujarnya, Selasa, [25/8/2020].

Hal itu ditemukan dalam sebuah diskusi bertajuk ”sejarah lahirnya Otsus dan masa depan Papua’ di salah satu asrama di Kota Jayapura.

Menurut dia, UU 21 Tahun 2001 sudah gagal, karena NKRI belum sepenuhnya mengambil hati rakyat Papua. Implementasi dana Otsus kepada rakyat Papua masih tertutup dan tidak transparansi kepada publik, tetapi masih dikendalikan oleh pejabat elit politik Papua.

Dirinya memberikan solusi bahwa pemimpin elit Papua dan OAP mesti sampaikan statement di publik untuk seruan doa dan puasa.

“Orang Asli Papua hari ini harus bisa membuat perubahan dengan tupoksi dan kelebihan yang dimiliki, agar menciptakan Papua yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Diskusi serupa lanjutnya, mesti ditingkatkan kedepan untuk membangun pemahaman di antara pemuda Papua. “Para intelektual hari ini, harus sadar dan memyadarkan, agar dapat membangun daerah Papua yang lebih baik lagi,” ucapnya.

“Jangan tanyakan apa yang negara berikan sama kamu, tetapi apa yang bisa kamu berikan kepada negara,” katanya.

Ketua Ikatan Kuaraga Pelajar mahasiswa Wilayah Beam [IKPM-WB] di Jayapura Akia Wenda mengatakan kegiatan diskusi ini diselanggarakan dengan tujuan agar mahasiswa bisa memahami maksud dan tujuan Otsus dan iplementasi selama 19 tahun di tanah Papua ini.

“Apa yang mengutungkan bagi orang asli Papua, mengapa, dan kedepan akan seperti apa, itu yang mahasiswa sekarang pikirkan,” kata Akia. [*]

Reporter: Yas A.Wenda
Editor: Aweidabii Bazil

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *